Transaksi Masih Ramai Saat Asia Melemah, IHSG Tetap Bertahan Di Zona Hijau

Di tengah tekanan pasar Asia yang mayoritas memerah, IHSG justru masih mampu menutup perdagangan di zona hijau. Pada akhir sesi II, indeks domestik naik tipis 12,62 poin atau 0,165 persen ke level 7.634,004, sehingga Bursa Jakarta tampil sebagai salah satu pengecualian di kawasan.

Ketahanan itu muncul bukan karena pergerakan yang agresif, melainkan karena pasar masih menjaga minat transaksi yang tinggi. Total nilai perdagangan di Bursa Efek Indonesia mencapai Rp 15,50 triliun dengan volume 40,56 miliar lembar saham, disertai frekuensi 2,31 juta kali transaksi.

Transaksi aktif, indeks tetap bergerak hati-hati

Angka perdagangan yang besar menunjukkan aktivitas investor masih padat meski kenaikan indeks sangat terbatas. Kondisi ini menandakan pasar belum kehilangan perhatian pada saham-saham di Bursa Jakarta, hanya saja arah pergerakannya berlangsung selektif.

Penguatan IHSG juga mendapat sokongan dari indeks acuan LQ45 yang ikut naik 0,203 persen ke posisi 758,866. Pergerakan saham-saham unggulan tersebut membantu menjaga indeks utama tetap berada di wilayah positif saat sentimen regional sedang lemah.

Saham dengan lonjakan paling besar dan yang justru tertekan

Di antara saham yang mencuri perhatian, NIRO menjadi penguat paling besar setelah melonjak 34,74 persen ke harga 256. DEFI menyusul dengan kenaikan 34,71 persen ke 163, lalu AGAR yang naik 25,00 persen ke 280.

Setelah itu, GMTD menguat 24,92 persen ke 1.905 dan RISE naik 24,61 persen ke 2.380. Deretan ini menunjukkan masih ada emiten yang sangat diminati pelaku pasar meski kondisi indeks secara umum hanya bergerak tipis.

Di sisi lain, daftar pelemahan terbesar diisi oleh AYLS yang turun 14,91 persen ke 194. PSDN terkoreksi 14,66 persen ke 163, BIKE melemah 14,60 persen ke 585, SMDM turun 12,33 persen ke 640, dan WMUU terkoreksi 12,22 persen ke 79.

BBCA kembali jadi pusat perhatian transaksi

Dari sisi nilai transaksi, BBCA mencatatkan angka terbesar dengan Rp 1,01 triliun. Posisi itu menegaskan kembali peran Bank Central Asia sebagai salah satu saham paling likuid dan paling banyak disorot investor.

Arus dana yang besar pada saham berkapitalisasi jumbo seperti BBCA memberi gambaran bahwa pelaku pasar masih aktif memilih emiten besar sebagai tempat parkir transaksi. Namun, pergerakan IHSG yang hanya naik tipis juga menunjukkan sikap pasar masih cenderung berhitung.

Rupiah melemah saat bursa saham bertahan

Sementara IHSG mampu bertahan hijau, rupiah tidak mengikuti arah yang sama. Mata uang Garuda justru ditutup melemah 0,280 persen atau turun 0,05 poin ke level Rp 17.185 per dolar AS dibandingkan posisi pembukaan pagi.

Perbedaan arah ini memperlihatkan bahwa kekuatan di pasar saham tidak otomatis memberi dorongan pada pasar valuta asing. Tekanan pada rupiah muncul ketika pelaku pasar tetap mencermati sentimen global yang belum sepenuhnya mereda.

Asia kompak merah, Jakarta jadi pengecualian

Bursa-bursa utama Asia pada perdagangan yang sama bergerak serempak di zona merah. Nikkei 225 di Jepang turun 1,76 persen ke 58.475,90, sementara Hang Seng Hong Kong melemah 0,89 persen ke 26.160,33.

Tekanan juga terlihat di Singapura dan China, dengan Straits Times turun 0,16 persen ke 4.999,77 dan SSE Composite terkoreksi 0,10 persen ke 4.051,43. Data dari Yahoo Finance menunjukkan pelemahan regional terjadi cukup luas, sehingga penguatan tipis IHSG menjadi sorotan tersendiri di tengah dominasi pasar Asia yang melemah.

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer