Tuna Indonesia Baru Tumbuh 7,46 Persen, Hilirisasi Masih Menahan Nilai Ekspor

Di tengah capaian ekspor yang sudah menembus lebih dari 1 miliar dollar AS pada 2025, industri tuna Indonesia masih menyimpan pekerjaan rumah besar. Sekitar 45 persen potensi nilai tambah dinilai belum tergarap karena ekspor masih bertumpu pada bahan baku segar dan beku.

Kondisi itu membuat besarnya angka ekspor belum otomatis berarti manfaat maksimal bagi industri dalam negeri. Pemerintah menilai Indonesia belum sepenuhnya memanfaatkan posisinya sebagai salah satu pemasok tuna dunia karena porsi produk olahan bernilai tinggi masih kecil.

Peluang yang belum masuk penuh ke industri

Direktur Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif Kementerian Perdagangan, Ari Satria, menyoroti bahwa mayoritas pengiriman tuna Indonesia masih berupa bahan segar dan beku. Menurut dia, struktur ekspor seperti ini membuat peluang ekonomi dari tuna belum tergarap secara penuh.

Ari menilai ruang untuk naik kelas masih besar melalui hilirisasi. Ia menyebut produk turunan seperti makanan siap saji, pangan fungsional, kolagen, dan minyak ikan memiliki peluang ekonomi yang jauh lebih tinggi dibanding ekspor bahan mentah.

Hilirisasi dan diversifikasi jadi jalan utama

Kementerian Perdagangan melihat hilirisasi, diversifikasi produk, dan ekspansi ke pasar premium sebagai strategi penting untuk mendongkrak nilai ekspor. Dengan langkah itu, industri tuna tidak hanya mengandalkan pengiriman bahan baku, tetapi juga bisa mengambil margin dari proses pengolahan.

Pemerintah juga menempatkan penguatan kualitas produk sebagai syarat agar ekspor tuna bisa melaju lebih jauh. Tanpa perubahan struktur ekspor, capaian nilai yang besar berisiko belum sebanding dengan manfaat yang diterima industri nasional.

Citra produk juga masih harus diperkuat

Selain soal struktur industri, tuna Indonesia disebut masih menghadapi tantangan pada sisi branding di pasar global. Ari mengatakan citra tuna Indonesia belum cukup kuat karena komoditas ini belum sepenuhnya menjadi identitas kuliner nasional yang dikenal luas di tingkat dunia.

Ia menilai pendekatan serupa yang berhasil dipakai negara lain dapat menjadi pelajaran. Penguatan citra budaya populer dan kolaborasi lintas sektor disebut penting agar tuna Indonesia tampil lebih menonjol di pasar internasional.

Pertumbuhan ada, pasar tetap perlu dijaga

Di tengah tantangan itu, sektor tuna tetap menunjukkan pertumbuhan yang konsisten. Data Kementerian Perdagangan mencatat laju pertumbuhan sebesar 7,46 persen selama periode 2021 hingga 2025.

Angka tersebut menandakan permintaan masih ada dan industri masih memiliki pijakan untuk berkembang. Namun, nilai ekspor yang sudah melampaui 1 miliar dollar AS pada 2025 belum otomatis menyelesaikan persoalan di hulu dan hilir.

Amerika Serikat, Thailand, dan Jepang menjadi tujuan utama pengiriman komoditas ini. Karena itu, peningkatan kualitas produk dinilai penting untuk menjaga pasar yang sudah ada sekaligus membuka peluang baru di negara tujuan lainnya.

Ari menilai peluang tuna Indonesia masih sangat terbuka selama industri berani bergeser dari ekspor bahan baku ke produk bernilai tambah. Dengan kualitas yang lebih baik, produk yang lebih beragam, dan akses pasar global yang lebih kuat, sektor ini berpeluang memberi manfaat ekonomi yang lebih besar bagi Indonesia.

Berita Terkait