UBTech membawa U1 ke arah yang berbeda dari robot humanoid pada umumnya. Alih-alih difokuskan untuk kerja industri, robot ini diposisikan sebagai pendamping emosional bagi kaum lajang dan lansia.
Pendekatan itu membuat U1 menonjol di tengah pasar robotika yang selama ini lebih akrab dengan otomasi pabrik dan pergudangan. UBTech tampak ingin membuka kategori baru, yakni robot yang dirancang untuk percakapan, tatapan mata, dan interaksi yang terasa lebih manusiawi.
Dirancang untuk Interaksi Harian
Dalam peluncuran di Shenzhen, UBTech menegaskan bahwa U1 bukan robot rumah tangga yang ditugaskan untuk mencuci piring, memasak, atau membersihkan rumah. Fokus utamanya justru ada pada komunikasi dan dukungan emosional di ruang pribadi.
Perusahaan juga menyebut U1 hadir dalam versi laki-laki dan perempuan. Meski tampilannya dibuat semakin menyerupai manusia, UBTech menegaskan robot ini tidak dirancang untuk menawarkan hubungan intim, setidaknya untuk saat ini.
Chief Brand Officer UBTech Michael Tam mengatakan pasar hubungan manusia dan robot akan sangat besar. Ia menyebut robot bionik itu dapat menemani pengguna seumur hidup, selalu setia, dan mencintai tanpa syarat.
Cara U1 Mengenali Emosi
Salah satu daya tarik utama U1 ada pada kemampuannya membaca emosi pengguna. Robot ini dapat berbicara, menjaga kontak mata, dan mengenali tanda stres, kelelahan, atau perubahan ekspresi wajah tertentu.
Kamera yang terpasang pada mata robot dipakai untuk mendeteksi sinyal emosional tersebut. Seluruh pemrosesan dilakukan langsung di perangkat tanpa mengirim data ke server eksternal.
UBTech menyebut pendekatan lokal itu dipilih untuk menjaga privasi, karena U1 dirancang hidup bersama pengguna di rumah. Data pribadi juga diklaim tetap tersimpan di dalam perangkat dan tidak bergantung pada komputasi awan.
Masih Mirip Manusia, tetapi Belum Sempurna
Walau tampil hiperrealistis, UBTech mengakui U1 belum sepenuhnya menyerupai manusia. Saat diperagakan, gerakan tubuh dan ekspresi wajahnya masih memperlihatkan unsur mekanis di balik lapisan kulit silikon.
Material silikon yang digunakan diklaim memiliki tekstur mirip kulit manusia, meski masih terasa lebih dingin ketika disentuh. Persendian dan gerakan ototnya juga belum sepenuhnya luwes.
Kecerdasan emosional U1 pun tidak berasal dari emosi sungguhan, melainkan dari analisis pola berbasis kecerdasan buatan dan model bahasa besar. Bagi UBTech, ini tetap menjadi langkah awal menuju robot humanoid yang semakin natural dalam berinteraksi.
Fondasi dari Walker S2
Sebelum U1, UBTech lebih dulu memperkenalkan Walker S2 yang disebut sebagai robot humanoid pertama di dunia yang bisa berjalan mandiri sekaligus mengganti baterainya sendiri tanpa bantuan manusia. Robot itu dapat memantau daya, menuju stasiun pengisian, melepas baterai lama, lalu memasang baterai baru.
Teknologi dari Walker S2 menjadi fondasi penting bagi pengembangan U1, meski tujuan keduanya berbeda. Jika Walker S2 diarahkan untuk efisiensi kerja, U1 justru menitikberatkan pada interaksi sosial dan pendampingan emosional.
| Model | Fokus | Ciri Utama | Catatan |
|---|---|---|---|
| U1 | Pendamping emosional | Percakapan, kontak mata, deteksi emosi | Dirancang untuk lajang dan lansia |
| Walker S2 | Otomasi kerja | Bisa berjalan mandiri dan ganti baterai sendiri | Menjadi fondasi pengembangan U1 |
Respons Pasar dan Arah Industri China
UBTech mengatakan U1 sudah mengantongi lebih dari 13.000 pemesanan awal. CEO sekaligus pendiri UBTech, Zhou Jian, menyebut angka itu terkumpul dalam waktu singkat setelah reservasi dibuka.
Calon pembeli hanya perlu membayar uang muka 3.000 yuan atau sekitar Rp 10,3 juta, dan dana itu bisa dikembalikan jika pesanan dibatalkan. U1 hadir dalam dua pilihan karakter, yakni versi perempuan setinggi sekitar 167 sentimeter dan versi laki-laki setinggi sekitar 183 sentimeter.
Masing-masing model dibekali 88 motor servo di berbagai persendian tubuh agar gerakannya lebih fleksibel dibanding generasi sebelumnya. UBTech juga menyematkan struktur leher biomimetik dengan dua titik putar yang diklaim mampu meniru sekitar 90% gerakan leher manusia dalam aktivitas sehari-hari.
Menurut Fast Company, peluncuran U1 berlangsung ketika pemerintah China menempatkan robot humanoid sebagai salah satu sektor prioritas teknologi nasional. Dalam rencana lima tahun terbaru, robot diarahkan menjadi perangkat serbaguna yang dipadukan dengan AI untuk mendukung banyak aktivitas manusia.
Presiden Federasi Robotika Internasional Takayuki Ito menilai China sedang bergeser dari otomatisasi industri konvensional menuju robotika cerdas berbasis AI. Pemerintah bahkan memasukkan robot humanoid ke dalam 10 industri strategis yang akan menjadi motor pertumbuhan ekonomi pada periode 2026 hingga 2030.
Barclays memperkirakan sekitar 11 juta robot humanoid akan beroperasi di China pada 2035, sementara Morgan Stanley mencatat penjualan sepanjang tahun lalu baru sekitar 12.000 unit. Di pasar yang masih kecil tetapi menjanjikan itu, U1 muncul sebagai contoh bagaimana robot humanoid mulai masuk ke ruang paling personal, yaitu rumah dan kehidupan sehari-hari.
