Dentuman di Langit Jawa Ternyata Meteor Besar, BRIN Jelaskan Penyebabnya

Author: Redaksi Android62

Fenomena cahaya terang yang melintas di langit Pulau Jawa pada Sabtu malam dipastikan bukan peristiwa misterius. BRIN menyebut objek itu sebagai meteor berukuran besar yang memasuki atmosfer Bumi dan memunculkan dentuman di sejumlah wilayah.

Jejak cahaya tersebut dilaporkan terlihat luas, mulai dari Bekasi, Cirebon, Kuningan, Majalengka, Nagreg, Tasikmalaya, hingga Yogyakarta. Menurut Peneliti Ahli Utama Bidang Astronomi dan Astrofisika BRIN, Thomas Djamaluddin, meteor itu pertama kali terdeteksi melintas di atas Laut Jawa sebelum tampak dari Bekasi sekitar pukul 21.22 WIB.

Meteor Memanas Saat Masuk Atmosfer

Thomas menjelaskan bahwa meteor berasal dari batuan antariksa yang mengorbit Matahari. Saat lintasannya berpapasan dengan orbit Bumi, batuan itu masuk ke atmosfer dengan kecepatan sangat tinggi dan bergesekan dengan udara hingga memanas lalu berpijar.

Cahaya mulai muncul ketika batuan antariksa itu memasuki atmosfer pada ketinggian sekitar 120 kilometer. Dalam proses ini, permukaannya terkikis atau mengalami ablasi sehingga memancarkan cahaya yang sangat terang.

Berdasarkan analisis lintasan, meteor bergerak ke arah tenggara melintasi sebagian wilayah Pulau Jawa. Cahaya yang terlihat kemudian makin terang saat objek itu memasuki lapisan atmosfer yang lebih rapat.

Warna Cahaya dan Suara Dentuman

Sejumlah warga di wilayah berbeda melihat warna cahaya yang tidak sama. Warga Majalengka melaporkan cahaya biru, sementara di Yogyakarta meteor tampak memancarkan cahaya hijau terang.

Thomas menjelaskan warna hijau itu berkaitan dengan unsur magnesium atau nikel dalam batuan antariksa. Setiap unsur kimia memiliki spektrum cahaya berbeda ketika dipanaskan, sehingga warna meteor dapat berubah sesuai kandungannya.

Di Cirebon dan Kuningan, sebagian warga juga mengaku mendengar suara dentuman beberapa saat setelah meteor melintas. Menurut Thomas, suara itu merupakan gelombang kejut atau sonic boom karena meteor bergerak jauh lebih cepat daripada kecepatan suara.

Suara dentuman baru terdengar beberapa saat kemudian karena gelombang suara memerlukan waktu untuk mencapai permukaan. Di Nagreg dan Tasikmalaya, objek yang sama juga sempat terlihat sebagai cahaya terang yang sesekali menerangi awan.

Diduga Berakhir di Samudera Hindia

Dari hasil analisis sementara, BRIN memperkirakan meteor itu terus bergerak ke arah tenggara hingga akhirnya kehilangan kecepatannya. Objek tersebut kemungkinan berakhir di Samudera Hindia, di selatan Jawa Timur atau Bali.

Thomas menegaskan fenomena seperti ini sebenarnya wajar dalam astronomi. Setiap hari Bumi menerima jutaan batuan antariksa, namun sebagian besar berukuran kecil dan habis terbakar di atmosfer sehingga hanya terlihat sebagai bintang jatuh.

Meteor berukuran besar seperti yang melintas di langit Jawa pada Sabtu malam memang lebih jarang terjadi. Karena itu, peristiwa tersebut bisa disaksikan secara luas oleh masyarakat di sejumlah daerah.

BRIN juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah percaya pada spekulasi yang beredar di media sosial. Atmosfer Bumi disebut sebagai pelindung alami yang sangat efektif, sehingga sebagian besar meteoroid akan habis terbakar sebelum mencapai permukaan.

“Fenomena ini merupakan peristiwa alam yang menarik sekaligus menjadi pengingat bahwa Bumi terus berinteraksi dengan lingkungan antariksa. Selama meteor habis terbakar di atmosfer atau jatuh di wilayah yang tidak berpenghuni, masyarakat tidak perlu khawatir,” kata Thomas.

Berita Terbaru