UEA Kembali Klaim Diserang, Ketegangan Di Selat Hormuz Belum Mereda

Author: Redaksi Android62

Ketegangan di Selat Hormuz kembali naik setelah dua klaim berlawanan muncul hampir bersamaan dari kawasan itu. Di satu sisi, Amerika Serikat mengatakan jalur pelayaran penting itu sedang diamankan untuk mencegah gangguan lebih jauh, sementara di sisi lain Uni Emirat Arab mengaku kembali menjadi sasaran serangan rudal dan drone yang dikaitkan dengan Iran.

Situasi ini membuat satu titik sempit di Teluk kembali menjadi perhatian dunia. Selat Hormuz menjadi jalur vital karena mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global, sehingga setiap gangguan langsung memicu kekhawatiran pada energi, perdagangan, dan keamanan regional.

Jalur yang Jadi Urat Nadi Energi

Washington menegaskan pengawalan kapal tanker di selat itu dilakukan sebagai langkah defensif. Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan operasi tersebut bukan untuk memulai pertempuran baru dan menekankan bahwa tujuan militer Amerika Serikat telah tercapai.

Rubio juga menyebut, “Operation Epic Fury is concluded,” sambil menegaskan bahwa Washington tidak menginginkan insiden tambahan. Meski begitu, pernyataan itu belum menghapus risiko di lapangan karena selat strategis tersebut masih berada dalam keadaan sangat tegang.

Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengatakan jalur pelayaran sudah diamankan dan ratusan kapal dagang sedang mengantre untuk lewat. Ia menambahkan bahwa gencatan senjata empat pekan dengan Iran belum berakhir dan Washington akan memantau situasi “sangat, sangat dekat”.

Klaim Serangan ke UEA Memperlebar Risiko

Di saat yang sama, Kementerian Pertahanan UEA menyatakan pertahanan udaranya kembali menghadapi serangan rudal dan drone dari Iran. Komando militer gabungan Iran membantah telah melakukan serangan itu, sehingga klaim kedua pihak kembali bertolak belakang.

Kementerian luar negeri UEA menyebut serangan tersebut sebagai eskalasi serius dan ancaman langsung bagi keamanan negara. Abu Dhabi juga menyatakan memiliki hak penuh dan sah untuk membalas.

Iran menolak pernyataan UEA dan mengatakan tindakan angkatan bersenjatanya semata-mata untuk menangkis agresi Amerika. Tehran kemudian merilis peta baru tentang selat sempit itu dengan perluasan area kendali Iran, yang memperlihatkan upaya mempertahankan tekanan atas jalur laut tersebut.

Kondisi Lapangan Masih Tidak Pasti

Lembaga Maritime Trade Operations milik Inggris melaporkan sebuah kapal kargo terkena proyektil di selat itu. Namun, rincian insiden tersebut belum langsung tersedia, sehingga situasi sebenarnya di lapangan masih belum sepenuhnya jelas.

Militer AS mengatakan dua kapal dagang Amerika berhasil melewati selat itu, meski tidak menyebut waktunya. Maersk juga mengatakan kapal berbendera AS, Alliance Fairfax, keluar dari Teluk di bawah pengawalan militer Amerika pada hari Senin, tetapi Iran membantah ada penyeberangan kapal seperti itu.

Perbedaan klaim ini menunjukkan betapa rapuhnya keamanan jalur laut yang kini diawasi ketat. Garda Revolusi bahkan memperingatkan kapal-kapal agar tetap berada di koridor yang telah ditetapkan atau menghadapi “respons tegas”.

Dampak ke Pelayaran dan Korban di Lapangan

Rubio menyebut 10 pelaut sipil termasuk di antara korban tewas. Ia juga mengatakan awak kapal yang terjebak di selat itu “kelaparan” dan “terisolasi”, menggambarkan besarnya tekanan yang masih dirasakan di jalur pelayaran tersebut.

Ketegangan di selat berlangsung ketika perang juga meluas ke Lebanon dan Teluk, dengan korban jiwa mencapai ribuan orang. Kepala Dana Moneter Internasional menyatakan dampaknya masih akan terasa tiga hingga empat bulan bahkan jika konflik berhenti segera.

Jalur Diplomasi Masih Tersendat

Upaya menghentikan konflik melalui jalur diplomasi belum menghasilkan terobosan. Pejabat Amerika dan Iran baru satu kali menggelar pembicaraan langsung, sementara upaya menjadwalkan pertemuan lanjutan gagal.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan pembicaraan damai masih berjalan melalui mediasi Pakistan. Kementerian luar negerinya juga menyebut Araqchi sedang menuju Beijing untuk bertemu mitranya dari China.

Di Washington, Presiden Donald Trump mengatakan militer Iran telah dipangkas menjadi sekadar menembakkan “peashooters” dan Tehran menginginkan perdamaian meski tetap keras di depan publik. Ia juga mengatakan Iran tahu apa yang tidak boleh dilakukan untuk melanggar gencatan senjata.

Berita Terbaru