Bukan semua anak cocok diajak menyaksikan proses penyembelihan hewan kurban secara langsung. Dokter spesialis anak dan konselor laktasi dr. Aisya Fikritama A, Sp.A, mengingatkan bahwa usia dan kesiapan mental perlu dipertimbangkan dengan serius sebelum orang tua mengambil keputusan.
Untuk anak di bawah usia 7 tahun, risiko salah memahami apa yang dilihat cukup besar. Pada usia ini, kemampuan kognitif anak belum cukup matang untuk menangkap bahwa penyembelihan dilakukan dalam konteks ibadah, bukan sebagai tindakan agresif terhadap hewan.
Akibatnya, anak bisa saja menafsirkan adegan tersebut sebagai kekerasan. Jika persepsi itu terbentuk, rasa takut yang muncul berpotensi bertahan lama dan berubah menjadi pengalaman emosional yang sulit dihapus.
Kondisi tersebut perlu lebih diwaspadai pada anak yang sensitif atau mudah cemas. Karena itu, pertimbangan soal kesiapan mental tidak kalah penting dibanding angka usia.
Anak yang lebih besar tetap perlu dilihat kesiapan emosinya
Meski anak di atas 7 tahun umumnya sudah memiliki perkembangan kognitif yang lebih baik, hal itu tidak otomatis membuat mereka siap. Pada usia tersebut, anak mulai lebih mampu memahami nilai keagamaan dan makna pengorbanan dalam Idul Adha, tetapi respons tiap anak tetap berbeda.
Orang tua tetap perlu melihat apakah anak merasa nyaman, tertarik, dan sanggup menerima suasana di lokasi penyembelihan. Jika anak memang ingin melihat, pendampingan orang tua tetap wajib dilakukan agar situasi tidak berubah menjadi tekanan emosional.
Kehadiran orang tua membantu anak membaca keadaan dengan lebih tenang. Dengan begitu, pengalaman yang mereka alami bisa dipahami dalam konteks yang tepat, bukan sekadar sebagai kejadian yang menakutkan.
Penjelasan sebelum berangkat membantu anak lebih siap
Sebelum mengajak anak ke lokasi, orang tua dianjurkan memberi penjelasan terlebih dahulu tentang makna kurban. Bekal ini penting agar anak tidak hanya melihat peristiwa fisiknya, tetapi juga memahami nilai ibadah di baliknya.
Cara menjelaskan juga perlu dibuat sederhana, tenang, dan logis. Pendekatan seperti ini membantu anak lebih mudah mencerna suasana saat berada di lapangan.
Edukasi awal berfungsi sebagai pelindung mental. Saat anak sudah mendapat konteks yang jelas, ia lebih mudah menilai apa yang dilihatnya tanpa langsung menganggapnya sebagai kekerasan.
Pengawasan di lokasi tidak boleh longgar
Jika anak akhirnya ikut menonton, pengawasan harus tetap ketat selama proses berlangsung. Suasana penyembelihan biasanya ramai dan penuh rangsangan visual yang bisa meninggalkan kesan kuat pada anak.
Anak juga sebaiknya berada di jarak yang aman dari lokasi utama. Selain untuk keselamatan, jarak yang cukup membuat anak lebih nyaman menghadapi suasana di sekitarnya.
Orang tua perlu terus memperhatikan reaksi anak selama proses berjalan. Bila anak mulai gelisah, takut, atau tampak tidak nyaman, langkah terbaik adalah menenangkannya dan segera menjauhkannya dari lokasi.
Pemaksaan harus dihindari dalam kondisi seperti itu. Dorongan agar anak tetap menonton justru dapat meninggalkan bekas emosional yang tidak diinginkan.
Makna kurban tetap bisa diajarkan tanpa harus menonton langsung
Dalam pendidikan agama, penyembelihan kurban memang dapat menjadi momen belajar. Namun, inti yang perlu dipahami anak bukan hanya adegan penyembelihannya, melainkan juga nilai ibadah, pengorbanan, kasih sayang, dan berbagi kepada sesama.
Karena itu, pengenalan makna kurban tidak harus selalu melalui pengalaman menyaksikan langsung proses penyembelihan. Untuk anak yang masih di bawah 7 tahun atau belum menunjukkan kesiapan, penjelasan sederhana tetap bisa menjadi cara yang aman dan tetap bermakna.
Dengan pendekatan tersebut, anak tetap bisa belajar tentang Idul Adha tanpa harus menghadapi pengalaman yang berpotensi menakutkan. Orang tua pun bisa menyesuaikan cara mengenalkan kurban dengan usia dan kondisi emosional anak masing-masing.
Source: www.suara.com