Vendor Motor Listrik BGN Dinilai Belum Siap, Rp 1 Triliun Sudah Cair Tanpa Dealer Aktif

Temuan Kejaksaan Agung soal pengadaan motor listrik untuk program MBG memunculkan pertanyaan besar bukan hanya pada nilai kontraknya yang menembus Rp1 triliun, tetapi juga pada kesiapan penyedia layanan purnajual. PT Yasa Artha Trimanunggal, vendor yang menerima pembayaran untuk 21.801 unit motor listrik, disebut belum memiliki dealer dan bengkel aktif.

Kondisi itu membuat status kelayakan perusahaan tersebut ikut disorot. Kejaksaan Agung menyebut penyedia itu tidak memenuhi syarat sebagai vendor, sementara dana pengadaan yang dikaitkan dengan Badan Gizi Nasional di bawah pimpinan Dadan Hindayana disebut sudah dibayarkan kepada perusahaan tersebut.

Skala pengadaan yang jadi perhatian

Jumlah motor listrik yang dibeli dalam proyek ini mencapai 21.801 unit. Total nilai pengadaannya tercatat sebesar Rp1.035.515.297.908,02, angka yang membuat proses ini menjadi sorotan publik.

Dalam pengadaan kendaraan operasional sebesar itu, ketersediaan layanan setelah penyerahan unit menjadi bagian penting. Dealer dan bengkel aktif dibutuhkan untuk perawatan, perbaikan, serta dukungan teknis agar kendaraan tetap bisa digunakan.

Karena itu, temuan soal belum aktifnya jaringan layanan dianggap krusial. Persoalan ini tidak berhenti pada pengiriman unit, tetapi juga menyangkut keberlanjutan fungsi kendaraan di lapangan.

Sorotan pada PT Yasa Artha Trimanunggal

Perhatian publik mengarah ke PT Yasa Artha Trimanunggal sebagai penyedia motor listrik Emmo dalam pengadaan tersebut. Di laman resmi Kejaksaan Agung, perusahaan ini disebut tidak memenuhi syarat karena tidak memiliki dealer maupun bengkel aktif.

Lembaga itu juga menyebut ada markup dalam perkara tersebut. Kombinasi antara nilai pengadaan yang besar, status layanan yang belum siap, dan temuan markup membuat kasus ini semakin ramai diperbincangkan.

Di katalog Inaproc, PT Yasa Artha Trimanunggal tercatat memiliki 23 KBLI. Cakupan usahanya luas dan tidak hanya terkait kendaraan listrik.

Bidang usaha yang tercatat

Bidang usaha perusahaan ini mencakup angkutan moda, aktivitas kurir, aktivitas pelayanan penunjang kesehatan, perdagangan besar alat olahraga, perdagangan besar komputer dan perlengkapannya, perdagangan besar mesin kantor, hingga industri pengolahan. Selain itu, tercantum pula suku cadang dan perlengkapannya, perdagangan besar mesin, peralatan, alat laboratorium, alat farmasi, pergudangan, pengelola gudang sistem resi, konveksi, serta perdagangan besar sepeda motor baru.

Di situs resmi Yasa Group, perusahaan ini menyatakan menyediakan layanan pengadaan motor listrik. Perusahaan juga menulis siap menjadi mitra strategis mulai dari tahap perencanaan hingga distribusi unit ke lokasi.

Harga model Emmo yang disorot

PT Yasa Artha Trimanunggal menawarkan dua model motor listrik Emmo. Emmo JVH Max dipasang dengan harga Rp 48,84 juta, sedangkan Emmo JVX GT dibanderol Rp 49,95 juta.

Jika dibandingkan dengan situs resmi Emmo, terdapat perbedaan harga pada model yang sama. Emmo JVH Max tercantum Rp 48,9 juta, sementara Emmo JVX GT tercantum Rp 58 juta.

Perbedaan tersebut ikut menarik perhatian pada rincian pengadaan dan posisi vendor dalam rantai distribusi. Sorotan itu makin besar karena Kejaksaan Agung juga sudah menyinggung adanya markup dalam perkara yang sama.

Jaringan dealer yang belum aktif

Di situs resmi Emmo, saat ini hanya ada dua motor listrik yang ditawarkan. Jaringan dealer ditampilkan tersebar di Jakarta, Banten, Bogor, Semarang, Sleman, Surabaya, Mimika, Wamena, Sorong, Manokwari, Jayapura, dan Merauke.

Namun, seluruh dealer itu masih berstatus “Segera Hadir”. Kondisi tersebut sejalan dengan temuan bahwa vendor disebut belum memiliki dealer dan bengkel aktif.

Pengecekan langsung yang pernah dilakukan tim detikOto ke dealer Emmo di Jakarta juga menunjukkan lokasi itu belum rampung sepenuhnya. Hal ini memperkuat pertanyaan soal kesiapan infrastruktur layanan purnajual untuk menopang ribuan unit motor listrik yang sudah dibeli dan dibayarkan.

Source: oto.detik.com

Berita Terkait