Verifikasi Wajah Dan Suara Diserang Deepfake AI, Dana Nasabah Bank Makin Rentan

Author: Redaksi Android62

Serangan deepfake AI kini tidak lagi berhenti pada upaya menipu wajah di layar. Ancaman ini sudah masuk ke verifikasi identitas, otorisasi transaksi, dan perlindungan dana nasabah di layanan keuangan Indonesia.

Skala risikonya juga tidak kecil. Data OJK dan Indonesia Anti Scam Centre mencatat 274.000 laporan penipuan keuangan sepanjang periode akhir 2024 hingga 2025, dengan total kerugian masyarakat diperkirakan menembus lebih dari Rp6 triliun.

Verifikasi digital jadi sasaran utama

Modus yang dipakai penipu makin sulit dibedakan dari proses legal. Pemalsuan wajah kini dapat digunakan untuk lolos KYC, sementara kloning suara bisa dipakai untuk mengotorisasi transaksi ilegal.

Kondisi ini membuat sistem yang selama ini mengandalkan wajah, suara, dan data digital ikut menjadi target empuk. Saat layanan perbankan makin cepat dan banyak dilakukan jarak jauh, pelaku kejahatan memanfaatkan celah itu untuk menyerang identitas sintetis.

Onboarding jarak jauh membuka celah baru

Pertumbuhan perbankan digital memang memperluas akses ke layanan keuangan. Namun, puluhan juta rekening yang dibuka lewat onboarding jarak jauh kini juga menjadi sasaran karena bisa diserang dengan rekaman wajah sintetis berkualitas tinggi.

Proses verifikasi yang awalnya dirancang untuk memudahkan pengguna justru berubah menjadi titik lemah. Risiko ini disebut makin besar pada perusahaan pembiayaan dan platform pembayaran digital yang belum memperbarui sistem keamanan dengan deteksi anomali terbaru.

Regulator dorong standar yang lebih kuat

Di Jakarta, AFTECH bersama ADVANCE.AI membahas strategi pertahanan nasional terhadap serangan identitas sintetis dalam diskusi bertajuk “AI, Risk and Regulation”. Forum itu juga dihadiri regulator senior dan pakar teknologi untuk merumuskan langkah yang lebih proaktif bagi ekonomi digital Indonesia.

Indah Iramadhini dari OJK menegaskan bahwa kerangka pengawasan akan terus berkembang agar inovasi teknologi tetap berjalan seiring dengan perlindungan konsumen. OJK mewajibkan lembaga jasa keuangan menerapkan autentikasi berlapis dan verifikasi liveness yang lebih kuat sebagai standar operasional utama.

Teknologi ada, penerapan masih jadi pekerjaan besar

ADVANCE.AI menyebut teknologi untuk mendeteksi serangan deepfake sudah matang dan siap diintegrasikan ke ekosistem keuangan Indonesia. Tantangan terbesarnya ada pada penerapan menyeluruh, mulai dari onboarding hingga pemantauan transaksi secara real-time.

Karena itu, kemitraan strategis dengan AFTECH dipandang sebagai langkah penting. Deteksi identitas sintetis kini tidak lagi dianggap sebagai opsi tambahan, melainkan bagian dari investasi untuk menjaga keberlangsungan bisnis di sektor keuangan digital.

Kolaborasi lintas sektor dibutuhkan

Sekretaris Jenderal AFTECH, Firlie Ganinduto, menekankan bahwa setiap institusi keuangan memiliki profil risiko yang berbeda. Strategi mitigasi pun harus disusun secara kontekstual agar pertahanan siber sesuai dengan karakteristik masing-masing penyelenggara layanan fintech.

Sinergi antara asosiasi, penyedia teknologi, dan pemerintah menjadi faktor penentu dalam membangun ekosistem digital yang tangguh. Dengan kerja sama lintas sektor, perlindungan dana masyarakat diharapkan tetap terjaga tanpa menghambat pertumbuhan layanan keuangan digital.

Source: id.mashable.com
Berita Terbaru