Vietnam mencatat pertumbuhan ekonomi 8,4 persen pada kuartal II-2026, tetapi laju itu belum cukup untuk memenuhi target pertumbuhan tahunan pemerintah sebesar 10 persen. Di saat yang sama, Filipina masih menghadapi perlambatan pertumbuhan serta tekanan cuaca yang mengganggu ekonomi.
Dua negara tersebut kini masuk kelompok berpendapatan menengah ke atas menurut klasifikasi Bank Dunia, sejajar dengan Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Kenaikan status itu menunjukkan kemajuan ekonomi, namun juga menandai dimulainya fase pembangunan yang lebih sulit.
Negara berpendapatan menengah ke atas adalah negara dengan Pendapatan Nasional Bruto atau PNB per kapita 2025 antara 4.636 dollar AS hingga 14.375 dollar AS. Klasifikasi Bank Dunia memakai PNB per kapita pada tahun sebelumnya sebagai dasar pengelompokan.
Pertumbuhan Tinggi Tidak Menjamin Jalan Mulus
Profesor Sekolah Kebijakan Publik Lee Kuan Yew Singapura, Khuong Minh Vu, menilai Vietnam dan Filipina baru memasuki tahap pembangunan paling menantang. Setelah masuk kelompok pendapatan menengah ke atas, mempertahankan pertumbuhan cepat akan menjadi tugas yang jauh lebih berat.
Negara pada tahap ini dapat kehilangan daya tarik tenaga kerja murah tanpa memiliki inovasi domestik yang memadai. Situasi tersebut dikenal sebagai jebakan pendapatan menengah, ketika pertumbuhan ekonomi melambat setelah periode ekspansi yang cepat.
Indonesia telah berada dalam kelompok pendapatan menengah ke atas selama enam tahun, sedangkan Thailand selama 15 tahun dan Malaysia selama 37 tahun. Ketiga negara itu umumnya mencatat pertumbuhan jangka panjang di bawah 5 persen sejak memasuki kelompok tersebut.
Khuong menilai jalan menuju negara berpenghasilan tinggi harus ditopang produktivitas, inovasi, dan penciptaan nilai tambah. Bagi Vietnam, pemanfaatan revolusi AI serta reformasi kelembagaan dipandang penting untuk menjaga laju pertumbuhan menuju target 2045.
Vietnam Masih Menjadi Motor Pertumbuhan
Vietnam membukukan pertumbuhan 8 persen pada tahun lalu, tertinggi di Asia Tenggara. Peralihan perdagangan akibat perang dagang AS-China, kenaikan investasi asing langsung, dan kuatnya pasar ekspor Amerika Serikat menjadi pendorong utama.
Sektor industri dan konstruksi Vietnam tumbuh 10,5 persen pada kuartal II-2026. Pemerintah juga menyiapkan belanja infrastruktur besar, termasuk proyek kereta api cepat senilai 67 miliar dollar AS yang akan menghubungkan Hanoi dan Kota Ho Chi Minh dalam waktu delapan jam.
| Negara | Pertumbuhan Tahun Lalu | Proyeksi Tahun Ini |
|---|---|---|
| Vietnam | 8 persen | 7,4 persen |
| Filipina | 4,4 persen | 5,3 persen |
| ASEAN | – | 4,6 persen |
| Thailand | – | 1,7 persen |
Kantor Riset Makroekonomi ASEAN+3 memperkirakan Vietnam tumbuh 7,4 persen tahun ini, lebih tinggi daripada rata-rata ASEAN sebesar 4,6 persen. Singapura diproyeksikan tumbuh 3,4 persen, sementara Thailand 1,7 persen.
Filipina Diuji Cuaca dan Pembiayaan
Filipina tumbuh 4,4 persen pada tahun lalu, lebih rendah dibandingkan Vietnam. Topan super Ragasa dan El Nino kuat disebut menyebabkan kerugian sekitar 24 juta dollar AS di berbagai wilayah negara itu.
Ekonom Universitas Asia dan Pasifik memperkirakan pertumbuhan ekonomi Filipina pada kuartal sebelumnya hanya 2,6 persen. Pemerintah Filipina dijadwalkan merilis angka PDB kuartal kedua pada awal Agustus.
Sekretaris perencanaan ekonomi Filipina Arsenio Balisacan menyatakan pemerintah tetap mengejar pertumbuhan yang inklusif di tengah tekanan global dan domestik. “Terlepas dari guncangan global dan domestik, kami tanpa henti mengejar pertumbuhan inklusif, memperkuat fundamental, dan tetap berada di jalur yang benar dengan agenda pembangunan kami,” katanya.
Kepala Ekonom Union Bank of the Philippine Ruben Carlo Asuncion mengingatkan bahwa kenaikan klasifikasi pendapatan dapat mengurangi akses pendanaan pembangunan dari lembaga seperti Bank Dunia. Kondisi itu menuntut kemampuan fiskal dan kemandirian yang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan pembangunan.
