Dari Kejar Batas Waktu Aplikasi ke Penghargaan Lu Xun, Kisah Wang Jibing

Author: Redaksi Android62

Wang Jibing, kurir makanan berusia 56 tahun di China, meraih Penghargaan Sastra Lu Xun melalui kumpulan puisi Di Chu Fei Xing atau Terbang Rendah. Pengumuman penghargaan edisi kesembilan itu disampaikan pada Rabu, 15/7/2026.

Kemenangan tersebut menempatkan pengalaman pekerja pengantaran makanan di panggung sastra bergengsi China. Puisi Wang lahir dari hari-hari yang diisi hitung mundur aplikasi, antrean lift, dan penantian pesanan di depan pintu pelanggan.

Ritme Aplikasi yang Menjadi Bahan Puisi

Wang setiap hari menyusuri kota dengan sepeda listrik untuk memenuhi tenggat pengantaran. Tekanan itu kemudian menjadi dasar bagi puisinya yang berjudul Man in a Hurry atau Lelaki yang Terburu-buru.

Karya tersebut mendapat perhatian luas pada 2022 setelah diunggah ke internet oleh seorang pencinta puisi. Sejak itu, puisi Wang dipandang sebagai gambaran pekerja yang menjalani kehidupan di bawah pengaturan algoritma.

Kelompok Pekerja Aktivitas Tekanan Utama
Kurir makanan Mengantar pesanan dengan sepeda listrik Mengejar batas waktu aplikasi
Pengemudi transportasi daring Menempuh perjalanan di kota Menghadapi kemacetan berkepanjangan
Host siaran langsung Bekerja di depan layar Menjalani jam kerja hingga larut malam

Ulasan media sastra China menilai pengalaman berlomba dengan waktu tidak berubah menjadi keluhan dalam karya Wang. Sebaliknya, situasi itu menghasilkan nada yang tenang dan lembut dalam puisinya.

Dalam Terbang Rendah, Wang menulis, “Terbang rendah tetaplah terbang… Suara yang mengalun dekat dengan tanah adalah simfoni bagi segala sesuatu yang berusaha tumbuh ke atas.” Larik itu menggambarkan pandangannya tentang martabat perjuangan sehari-hari.

Tetap Mengantar Pesanan

Setelah menerima penghargaan, Wang mengatakan ingin kembali menaiki skuternya untuk mengantar makanan. Kepada media, seperti dikutip Xinhua, ia berkata, “Hanya dengan tetap berpijak pada kehidupan nyata, pikiran saya bisa benar-benar jernih untuk menulis.”

Baginya, pekerjaan kurir bukan sekadar sumber pendapatan, melainkan ruang utama untuk menemukan bahan tulisan. Ia menulis ketika pesanan sedang disiapkan, saat menunggu lift, atau dalam jeda singkat di depan rumah pelanggan.

Perjalanan dari Pekerjaan Serabutan

Menurut Liputan6.com, Wang lahir pada 1969 di Provinsi Jiangsu, China timur, dan berhenti sekolah ketika masih duduk di sekolah menengah pertama. Sebelum menjadi kurir pada 2019, ia pernah bekerja sebagai buruh bangunan, pengeruk pasir, pedagang kaki lima, dan pengumpul barang bekas.

Ia bersama istrinya kemudian menetap di Kunshan, Jiangsu, dan membuka toko kecil. Pasangan itu menabung bertahun-tahun sebelum mencicil apartemen yang ingin mereka pertahankan.

Wang mulai bekerja sebagai kurir saat berusia 50 tahun setelah mendengar pekerjaan itu menawarkan pendapatan yang cukup baik. Ketika bergabung, ia menjadi kurir tertua di tempat kerjanya.

Suara Pekerja dalam Perubahan Sosial

Profesor sastra China Universitas Peking, Zhang Yiwu, menilai karya Wang penting karena berakar kuat pada kehidupan kontemporer. Menurutnya, puisi itu menyuarakan kelompok yang kerap luput dari perhatian sekaligus mencerminkan perubahan besar di China.

Data resmi menunjukkan lebih dari 80 juta orang bekerja dalam beragam bentuk pekerjaan baru di China. Kelompok tersebut meliputi pengantar makanan, pengemudi transportasi daring, dan host siaran langsung yang menopang pergerakan kota serta konsumsi.

Regulator China dalam beberapa tahun terakhir memperkenalkan kebijakan untuk membatasi algoritma pengantaran yang memberatkan. Transparansi batas komisi platform bagi pengemudi daring dan akses jaminan sosial bagi pekerja ekonomi gig juga diperluas.

Di Beijing, lebih dari 14.000 pusat layanan tersedia bagi pekerja ekonomi gig untuk beristirahat, minum, dan berteduh saat hujan. Bagi Wang, kemunculan penulis dari kalangan pekerja menunjukkan hubungan yang lebih dalam dengan kehidupan nyata dan cara pengungkapan yang lebih tulus.

Source: www.liputan6.com
Berita Terbaru