Warga Amerika Terpapar Ebola Akan Dikarantina Di Kenya, AS Perketat Penyaringan Di Bandara

Author: Redaksi Android62

Warga Amerika yang terpapar Ebola di kawasan Afrika tidak akan langsung dipulangkan ke negaranya. Pemerintah Amerika Serikat menyiapkan fasilitas karantina di Kenya agar mereka bisa dipantau dan ditangani lebih dulu sebelum diputuskan boleh kembali ke AS.

Langkah itu dipasang sebagai bagian dari respons darurat saat wabah Ebola di Kongo kembali menimbulkan kekhawatiran. Otoritas AS juga memperketat penyaringan di sejumlah bandara untuk mencegah risiko penularan masuk lebih jauh ke wilayah Amerika.

Fasilitas di Kenya disusun untuk menampung warga AS yang berada di wilayah terdampak, termasuk mereka yang belum menunjukkan gejala tetapi kemungkinan sudah terpapar. Menurut pejabat pemerintahan Trump, penempatan ini memberi jalur perawatan yang lebih cepat tanpa harus menempuh perjalanan panjang pulang ke Amerika Serikat.

Salah satu pertimbangan utamanya adalah risiko pemindahan udara medis yang bisa memakan waktu lebih dari 12 jam. Dengan karantina dilakukan lebih dekat ke lokasi terdampak, proses observasi dan penanganan dapat dijalankan lebih efisien.

Kerja sama dengan pemerintah Kenya

Pejabat pemerintahan lain menyebut fasilitas itu disiapkan bersama pemerintah Kenya. Tujuannya agar proses karantina dan penanganan pasien berjalan terkoordinasi sejak awal.

CDC juga mengonfirmasi kepada CBS News bahwa warga negara Amerika tidak akan diizinkan kembali ke AS sebelum dinyatakan lolos dari karantina. Kebijakan ini memperlihatkan bahwa pemerintah AS menempatkan pengawasan medis sebagai syarat utama sebelum pemulangan.

Seorang mantan pejabat CDC yang pernah menangani respons Ebola menilai akan sangat tidak etis dan tidak bertanggung jawab jika warga AS dibiarkan terkatung-katung di Kenya. Ia juga mengingatkan bahwa Kenya tidak memiliki fasilitas penahanan Level 4 yang memadai dan tidak punya banyak pengalaman menangani Ebola.

Tekanan dari wabah di Kongo

Kekhawatiran pemerintah AS dipicu oleh wabah terbaru di Kongo yang disebut telah menewaskan lebih dari 230 orang. Situasi itu mendorong langkah tambahan agar kasus tidak meluas ke luar wilayah yang saat ini terdampak.

Di Gedung Putih, Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan berbagai lembaga pemerintah bekerja keras untuk menahan wabah agar tetap berada di wilayah asalnya. Ia menegaskan bahwa kasus Ebola tidak boleh masuk ke Amerika Serikat.

Sebagai pengaman tambahan, sejumlah bandara besar di AS mulai melakukan skrining ekstra terhadap penumpang internasional yang baru berada di Kongo, Sudan Selatan, atau Uganda. Pemeriksaan itu diterapkan di Hartsfield-Jackson di Atlanta, Dulles di luar Washington, D.C., dan George Bush Intercontinental di Houston.

Bandara Internasional John F. Kennedy di New York juga diperkirakan mulai melakukan pemeriksaan terhadap penumpang internasional pada Jumat. Langkah ini menjadi bagian dari pengawasan pintu masuk ketika kekhawatiran terhadap penyebaran Ebola meningkat.

Penanganan lanjutan bila diperlukan

Fasilitas di Kenya tidak hanya disiapkan untuk observasi awal, tetapi juga untuk membantu warga Amerika yang tertular agar segera menerima perawatan. Pejabat pemerintahan Trump mengatakan fasilitas itu dapat menangani spektrum penuh penyakit, termasuk kebutuhan perawatan kritis.

Setiap kasus akan dievaluasi untuk kemungkinan pemindahan lanjutan ke fasilitas yang lebih maju bila diperlukan. Skema ini ditujukan untuk menjaga penularan tetap terkendali sambil memaksimalkan peluang perawatan pasien.

Dengan model seperti ini, Kenya menjadi titik transit medis dan karantina dalam upaya menahan penyebaran lebih jauh. Dalam kasus terpisah, seorang dokter Amerika yang terinfeksi Ebola saat bekerja dengan organisasi misi medis di Republik Demokratik Kongo sebelumnya telah dievakuasi ke Jerman dan mengatakan kondisinya “cautiously optimistic” saat dirawat di rumah sakit.

Berita Terbaru