Arab Saudi tidak masuk dalam daftar sasaran balasan Iran, meski sejumlah negara Arab lain kembali terdampak setelah Amerika Serikat melancarkan serangan ke wilayah Iran. Pengecualian itu menonjol karena Teheran justru menghantam fasilitas militer AS di Uni Emirat Arab, Bahrain, Yordania, Qatar, Kuwait, dan Oman.
Pola serangan tersebut membuat posisi Riyadh berbeda dari ibu kota-ibu kota Arab lain yang kembali terseret dalam eskalasi. Dalam situasi yang memanas, absennya nama Arab Saudi memunculkan pertanyaan tentang faktor penahan di balik keputusan Iran.
Peran Pakistan dalam menjaga jarak Saudi dari serangan
Salah satu penjelasan yang mengemuka adalah hubungan pertahanan jangka panjang Arab Saudi dengan Pakistan. Menurut laporan EurAsian Times, kerja sama itu diperkuat melalui Kesepakatan Imbal Balik Pertahanan Strategis atau Strategic Mutual Defense Agreement (SMDA) yang baru diumumkan.
Pakistan juga disebut aktif menengahi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran. Sebelumnya, Islamabad mengerahkan jet tempur dan pesawat pendukung ke Arab Saudi untuk meningkatkan keamanan kerajaan di bawah pakta pertahanan.
| Negara yang Diserang Iran | Target | Status Arab Saudi |
|---|---|---|
| Uni Emirat Arab | Fasilitas militer AS | Tidak diserang |
| Bahrain | Fasilitas militer AS | Tidak diserang |
| Yordania | Fasilitas militer AS | Tidak diserang |
| Qatar | Fasilitas militer AS | Tidak diserang |
| Kuwait | Fasilitas militer AS | Tidak diserang |
| Oman | Fasilitas militer AS | Tidak diserang |
Wakil Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, mengatakan Teheran sudah diingatkan soal pakta pertahanan bersama dengan Saudi. Dalam konferensi pers di Islamabad, ia menyebut Iran memahami bahwa wilayah Saudi tidak boleh digunakan untuk melawan Iran.
“Saya memberitahukan pihak Iran tentang perjanjian pertahanan kami. Pihak Iran mengatakan Arab Saudi harus memastikan bahwa wilayahnya tidak digunakan untuk melawan Iran,” kata Ishaq Dar.
Saudi tetap mengecam serangan Iran di kawasan
Meski luput dari serangan, Arab Saudi tidak mengambil sikap diam. Kementerian Luar Negeri Saudi tetap mengecam serangan Iran di kawasan dan menilai aksi berulang terhadap kapal dagang melanggar prinsip hukum internasional, Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, Piagam Organisasi Kerja Sama Islam, serta aturan bertetangga baik.
Serangan balasan Iran terjadi setelah Amerika Serikat menyerang wilayah selatan Iran, terutama di sekitar Selat Hormuz. Washington menuduh Teheran menembaki kapal dagang milik sekutunya di jalur pelayaran strategis tersebut.
Beberapa jam setelah serangan Washington, Iran membalas dengan serangan ke pangkalan militer AS di negara-negara Teluk. Arab Saudi menjadi pengecualian dalam gelombang serangan itu, sehingga sorotan kini tertuju pada pengaruh diplomasi dan pertahanan yang membuat kerajaan tersebut tidak tersentuh langsung.
