Warga Minta Zebra Cross Ditambah di Tebet, Pac-Man Ubah Arah Pembicaraan ke Keselamatan Pejalan Kaki

Permintaan warga atas zebra cross kini bukan lagi soal tampilan unik di Jalan Prof. Dr. Soepomo, Tebet, Jakarta Selatan. Setelah zebra cross bergaya Pac-Man itu viral pada akhir Maret, banyak warga justru ikut meminta marka serupa hadir di titik lain yang selama ini belum memiliki fasilitas penyeberangan memadai.

Fenomena itu membuat perhatian publik bergeser ke isu yang lebih dasar, yaitu keselamatan pejalan kaki. Warga menilai zebra cross yang jelas, aman, dan mudah diakses masih belum tersedia di banyak lokasi strategis.

Aksi pengecatan ulang zebra cross Pac-Man itu dilakukan oleh Ijoel, seorang konten kreator yang dikenal peduli pada isu lalu lintas dan lingkungan di Jakarta. Ia menyebut gerakan tersebut berangkat dari kepedulian terhadap fasilitas publik, terutama bagi keselamatan pejalan kaki.

Setelah viral, respons yang muncul justru meluas ke keluhan soal lokasi lain yang belum punya zebra cross. Ijoel mengatakan banyak warga mengirim informasi tentang titik-titik yang perlu penyeberangan, lalu meminta agar marka serupa digambar di sana.

Menurut dia, permintaan itu datang dari warga yang melihat kebutuhan penyeberangan di sejumlah titik strategis belum terpenuhi. Situasi tersebut menunjukkan bahwa publik tidak berhenti pada sisi viralnya saja, tetapi langsung mengarah pada masalah yang dirasakan sehari-hari di jalan.

Ijoel juga mengungkap ada warga yang mengira pembuatan inisiatif seperti itu bisa dilakukan secara gratis. Kondisi itu memperlihatkan antusiasme masyarakat yang besar, sekaligus harapan agar ruang jalan menjadi lebih ramah bagi pejalan kaki.

Di tengah ramainya perhatian, zebra cross Pac-Man itu masih terlihat di lokasi. Sempat muncul isu bahwa gambar Pac-Man sudah dihapus, tetapi keberadaannya tetap menarik perhatian publik dan membuat fasilitas penyeberangan yang biasanya luput dari sorotan menjadi bahan pembicaraan luas.

Respons pemerintah ikut tersorot

Ijoel mengatakan pemerintah daerah sempat menunjukkan respons positif terhadap inisiatif tersebut. Ia menyebut pernah ada ajakan untuk berkolaborasi, dan gubernur bersama wakil gubernur juga telah bertemu dengan pihaknya untuk membicarakan hal itu.

Meski begitu, dukungan serupa menurut dia belum banyak datang dari pihak swasta maupun unsur lain di luar pemerintah. Karena itu, pengembangan fasilitas penyeberangan masih dinilai membutuhkan sinergi yang lebih luas.

Sorotan publik yang awalnya tertuju pada bentuk zebra cross kemudian bergeser ke kebutuhan infrastruktur dasar. Perbincangan tidak lagi berhenti pada ide kreatif di jalan, tetapi menyentuh fasilitas yang berhubungan langsung dengan keselamatan pengguna jalan.

Sorotan pada hak pejalan kaki makin kuat

Warga yang ikut merespons fenomena ini mempertanyakan mengapa di sejumlah titik strategis zebra cross belum tersedia. Bagi mereka, marka penyeberangan bukan sekadar elemen visual, melainkan fasilitas dasar yang memberi rasa aman saat menyeberang.

Ijoel menilai zebra cross Pac-Man tidak semestinya berhenti sebagai konten viral. Menurut dia, keberadaannya perlu dibaca sebagai cerminan kebutuhan nyata akan infrastruktur pejalan kaki yang aman, jelas, dan mudah dijangkau.

Pandangan itu sejalan dengan dorongan warga yang muncul setelah aksi tersebut ramai dibicarakan. Mereka memanfaatkan momen viral itu untuk menyuarakan kebutuhan di lokasi lain yang hingga kini belum memiliki fasilitas penyeberangan memadai.

Fenomena di Tebet pada akhirnya memperlihatkan bagaimana sebuah aksi kreatif bisa membuka pembicaraan yang lebih luas tentang tata ruang jalan. Dari sebuah marka yang mencolok, diskusi bergeser ke pertanyaan yang lebih mendasar: seberapa siap jalan di kota ini melindungi pejalan kaki.

Source: otomotif.kompas.com

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer