Warna Bali Punya Lapisan Makna Kosmologis, Tradisi Yang Mulai Terdesak Kerusakan Alam

Author: Redaksi Android62

Warna dalam budaya Bali tidak dipahami sekadar sebagai elemen yang membuat karya terlihat menarik. Buku Warna Bali: Ketika Sistem & Pertemuan Menjadi Identitas menempatkan warna sebagai bagian dari cara masyarakat membangun makna, identitas, dan hubungan dengan kosmologi yang hidup dalam tradisi mereka.

Cara pandang itu membuat warna dibaca sebagai bahasa budaya, bukan unsur visual yang berdiri sendiri. Di dalamnya, warna hadir sebagai sistem tanda yang menghubungkan manusia, alam, dan kosmos dalam satu rangkaian makna yang saling terikat.

Makna di balik merah, putih, dan hitam

Dimensi kosmologis mendapat sorotan penting dalam pembahasan buku ini. Merah, putih, dan hitam tidak hanya diposisikan sebagai pilihan visual, tetapi juga dikaitkan dengan konsep seperti Trimurti.

Pembacaan tersebut menunjukkan bahwa warna menyimpan lapisan filosofis yang kuat dalam budaya Bali. Dari sana, warna menjadi jembatan antara ekspresi seni dan cara pandang masyarakat terhadap tatanan semesta.

Jejak warna dalam seni rupa tradisional

Pembahasan kemudian bergerak ke ranah seni rupa tradisional, terutama lukisan Kamasan. Dalam tradisi ini, warna berfungsi membangun narasi visual yang tertata dan sarat nilai budaya.

Buku ini menyoroti teknik ngampad, yaitu penerapan warna yang menghasilkan lapisan visual gradatif maupun kontras. Teknik itu memperlihatkan bahwa pewarnaan dalam tradisi tidak lepas dari logika visual yang mendukung penyajian objek dan cerita.

Pada tradisi melukis mata topeng barong, buku ini juga membahas teknik nguleng. Teknik tersebut berkaitan dengan penggunaan warna tridatu, yakni merah, putih, dan hitam, yang memiliki muatan filosofis dalam budaya Bali.

Asal bahan warna dan ancaman keberlanjutan

Selain simbol dan teknik, buku ini menelusuri asal bahan warna yang bersumber dari alam. Pembuatan warna tradisional digambarkan memerlukan pengetahuan lokal yang mendalam serta proses yang panjang.

Di sisi lain, buku ini menyoroti tantangan pelestarian yang mulai membayangi praktik tersebut. Kerusakan lingkungan dan eksploitasi sumber daya disebut ikut memengaruhi ketersediaan bahan alami yang menjadi dasar warna tradisional.

Buku hasil riset yang merangkum identitas warna Bali

Warna Bali lahir dari riset yang dirangkum Gurat Institute, sehingga pembahasannya melampaui deskripsi visual semata. Buku setebal 280 halaman ini menghubungkan sejarah, praktik seni, dan perubahan sosial dalam satu kerangka yang utuh.

Penerbitnya adalah Penerbit Buku Kompas, dengan susunan penulis I Wayan Seriyoga Parta, I Made Susanta Dwitanaya, Dewa Gede Purwita, Dewa Ayu Eka Savitri Sastrawan, dan I Gede Gita Purnama Arsa Putra. Penyuntingnya Putu Fajar Arcana, ilustrasi sampul dibuat Yusuf Faisal, sedangkan lukisan sampul dikerjakan Kadek Sesangka Puja Laksana.

ISBN buku ini tercatat 978-623-523-503-5. Judul lengkapnya menegaskan perhatian pada hubungan antara sistem, pertemuan, dan identitas dalam warna Bali.

Source: lifestyle.bisnis.com
Berita Terbaru