Bagi Rahmi, WFH bukan berarti hari kerja menjadi lebih pendek. ASN di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur itu justru merasakan pekerjaan makin menempel ke hampir seluruh waktu di rumah.
Perempuan 39 tahun yang bertugas di Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur ini sudah sekitar satu bulan menjalani kebijakan kerja dari rumah. Sebagai ibu dari dua anak sekolah dasar, ia melihat batas antara urusan kantor dan rumah semakin sulit dibedakan.
Pagi tetap penuh oleh urusan rumah
Setiap hari, Rahmi memulai pagi dengan mengurus kebutuhan keluarga lebih dulu. Ia menyiapkan anak-anak, membantu urusan sekolah, lalu memasak sebelum benar-benar masuk ke pekerjaan kantor dari rumah.
Situasi itu membuat waktu pribadi sebelum bekerja hampir habis terserap urusan domestik. Setelah pekerjaan rumah selesai, perhatian Rahmi langsung bergeser ke tugas kedinasan yang tetap menuntut fokus penuh.
Koordinasi daring membuat ritme kerja tetap padat
Selama WFH, agenda kerja Rahmi tidak terasa lebih ringan. Hari-harinya diisi koordinasi daring yang berlangsung cukup panjang bersama pimpinan dan rekan kerja.
Rapat melalui Zoom biasanya dimulai sejak pagi hingga menjelang siang. Sesudah itu, masih ada laporan dan tugas lain yang harus diselesaikan di rumah.
Batas kantor dan rumah kian kabur
Menurut Rahmi, pekerjaan kerap belum selesai saat sore tiba. Bahkan setelah anak-anak pulang sekolah, tugas kantor masih bisa berlanjut, dan dalam beberapa kondisi pekerjaan diteruskan lagi pada malam hari.
Pola seperti ini membuat ruang waktu untuk kantor dan rumah bercampur. Di rumah, pekerjaan tidak berhenti pada satu titik yang jelas seperti saat berada di kantor.
Responsif tetap dituntut meski tidak hadir fisik
Rahmi menilai anggapan bahwa ASN lebih santai saat WFH tidak sepenuhnya tepat. Pegawai tetap harus responsif terhadap kebutuhan pekerjaan meski tidak berada di kantor.
Ia juga merasakan koordinasi dengan atasan menjadi lebih intens dibanding saat bekerja langsung di kantor. Karena tidak bertemu tatap muka, pimpinan disebut lebih sering menelepon atau mengajak koordinasi selama jam kerja berlangsung.
Ada ruang yang lebih longgar untuk keluarga
Di tengah padatnya tugas, Rahmi tetap melihat manfaat dari WFH. Ia memiliki lebih banyak waktu untuk keluarga karena tidak perlu berangkat ke kantor, termasuk untuk menyiapkan makanan dan berolahraga pada pagi hari.
Baginya, pola kerja hybrid dengan satu hari WFH dalam sepekan masih terasa cukup nyaman. Pekerjaan tetap berjalan, sementara ruang untuk kehidupan pribadi masih bisa dipertahankan.
