WNA Di Jakarta Dinyatakan Negatif Hantavirus, Kemenkes Tetap Perketat Pengawasan Klaster MV Hondius

Author: Redaksi Android62

Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap seorang warga negara asing di Jakarta yang sempat menjadi kontak erat kasus hantavirus dari kapal pesiar MV Hondius dinyatakan negatif. Meski begitu, Kementerian Kesehatan belum menurunkan kewaspadaan karena kasus tersebut berkaitan dengan klaster global yang juga dipantau Organisasi Kesehatan Dunia.

Respons pemerintah berlangsung cepat setelah notifikasi internasional diterima dari International Health Regulation Inggris pada 7 Mei malam. Koordinasi awal dilakukan pada pukul 21.55 WIB, lalu pemeriksaan lapangan dimulai keesokan harinya untuk menilai potensi penularan sejak dini.

WNA yang diperiksa itu adalah laki-laki berusia 60 tahun yang tinggal di Jakarta Pusat dan bekerja di perusahaan asing. Ia tidak menunjukkan gejala, tetapi memiliki riwayat hipertensi tidak terkontrol dan kebiasaan vaping, sehingga masuk dalam pengawasan medis yang lebih ketat.

Kementerian Kesehatan memeriksa banyak spesimen dari pasien tersebut, mulai dari serum, urin, saliva, usap tenggorok, hingga darah lengkap. Seluruh hasil pemeriksaan, termasuk tes PCR, tidak menemukan hantavirus.

“Seluruh sampel yang diperiksa, baik PCR maupun spesimen lainnya, hasilnya negatif hantavirus,” kata Plt. Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni.

Pelacakan Riwayat Perjalanan

Penelusuran epidemiologi menunjukkan WNA itu sempat bepergian ke sejumlah lokasi di Amerika Selatan sebelum naik kapal MV Hondius. Perjalanan tersebut mencakup Argentina dan St. Helena sebelum ia kembali ke Indonesia pada akhir April 2026.

Kontak erat di Jakarta ini sempat berada dalam satu penerbangan dan satu penginapan dengan kasus kedua selama perjalanan lintas negara. Setelah notifikasi dari Inggris diterima, Kemenkes langsung melakukan isolasi, pemantauan, dan koordinasi dengan sejumlah pihak terkait.

Dalam penanganan awal, Kemenkes bekerja bersama WHO, RSPI Sulianti Saroso, BBLK Jakarta, dan Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Pasien saat ini masih dalam pengawasan medis, tetapi kondisinya disebut stabil.

Mengapa Kewaspadaan Tetap Dijaga

Kemenkes menilai pengawasan belum boleh kendur karena kasus di kapal pesiar tersebut termasuk klaster global yang dilaporkan WHO. Andi menyebut ada tiga kematian dari klaster itu dengan case fatality rate mencapai 37,5 persen.

Kasus di MV Hondius merupakan bagian dari klaster penyakit pernapasan akut yang kemudian teridentifikasi sebagai Hanta Pulmonary Syndrome atau HPS dari strain Andes. Virus ini dikenal dapat menimbulkan penyakit berat dan berkaitan dengan paparan rodensia atau tikus.

Di Indonesia, Kemenkes menegaskan belum pernah ada laporan penularan HPS dari tikus ke manusia. Yang pernah tercatat hanya infeksi Hantavirus tipe Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome atau HFRS dalam jumlah terbatas sejak 1991.

Pengawasan Diperluas di Pintu Masuk Negara

Untuk mencegah kasus serupa, pemerintah memperkuat sistem surveilans penyakit infeksi emerging. Langkah itu mencakup pemeriksaan di pintu masuk negara, penggunaan thermal scanner, serta pemanfaatan aplikasi All Indonesia untuk pelaku perjalanan internasional.

Pengawasan juga diperluas melalui 51 Balai Kekarantinaan Kesehatan di seluruh Indonesia dan penguatan deteksi di 21 rumah sakit rujukan nasional. Kemenkes juga terus memantau faktor risiko pada hewan pembawa penyakit, melakukan penyelidikan epidemiologi, serta menjaga pelaporan dan sistem peringatan dini agar kesiapsiagaan nasional tetap terjaga.

Source: lifestyle.bisnis.com
Berita Terbaru