Fraksi Partai NasDem DPR RI menyalurkan 1.000 buku ke Lapas Kelas I Cipinang, Jakarta Timur, sebagai bagian dari gerakan Gotong Royong Literasi. Langkah ini diarahkan untuk memperkuat pembinaan warga binaan agar tidak berhenti pada kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga bertumbuh lewat pengetahuan dan keterampilan.
Bagi NasDem, literasi di lingkungan pemasyarakatan bukan pelengkap, melainkan bagian penting dari proses pembinaan. Fraksi tersebut memandang warga binaan perlu mendapat ruang untuk membaca, menulis, dan mengasah kemampuan berpikir selama menjalani masa pembinaan.
Willy Aditya dari Fraksi Partai NasDem menilai lapas seharusnya menjadi tempat belajar yang memberi bekal lebih luas sebelum warga binaan kembali ke masyarakat. Ia menekankan bahwa pembinaan yang kuat harus menggabungkan perilaku yang tertib dengan penguatan kapasitas intelektual.
Menurut Willy, pengetahuan dan keterampilan perlu berjalan berdampingan agar reintegrasi sosial dapat berlangsung lebih kokoh. Ia juga melihat penguatan literasi sebagai bagian dari upaya membangun kualitas sumber daya manusia di lingkungan pemasyarakatan.
Dorongan itu juga disertai keyakinan bahwa lapas bisa menjadi ruang produktif bagi warga binaan. Dalam pandangan Willy, pembinaan yang baik tidak cukup jika hanya menuntut disiplin, karena warga binaan juga perlu dibantu untuk memperluas wawasan dan kemampuan berpikir.
Ia menyinggung sejumlah tokoh besar yang menghasilkan pemikiran dan karya saat berada di masa tahanan. Nama-nama seperti Tan Malaka, Buya Hamka, Pramoedya Ananta Toer, hingga Nelson Mandela disebut sebagai contoh bahwa refleksi dan pengetahuan tetap bisa melahirkan karya dari balik jeruji.
Buku yang disalurkan Fraksi Partai NasDem berasal dari gotong royong para anggotanya. Jumlahnya mencapai 1.170 buku, dan bantuan itu dimaksudkan sebagai bentuk kepedulian terhadap peningkatan literasi nasional di lingkungan pemasyarakatan.
Koleksi buku tersebut mencakup berbagai bidang bacaan. Di dalamnya ada biografi, sejarah, agama, filsafat, sosial budaya, dan politik, sehingga warga binaan memiliki pilihan bacaan yang beragam.
Selain bacaan umum, tersedia pula buku keterampilan yang dinilai relevan untuk bekal praktis. Jenisnya meliputi pertanian, peternakan, perikanan, dan pertukangan.
NasDem menempatkan penguatan literasi sebagai bagian dari pembinaan yang lebih produktif. Dengan akses pengetahuan, warga binaan diharapkan memiliki ruang untuk berkembang dan menyiapkan diri kembali ke masyarakat dengan bekal yang lebih kuat.
Willy menegaskan bahwa literasi bukan hanya soal membaca buku. Ia memandang literasi sebagai proses membangun cara berpikir, membuka wawasan, dan menyiapkan masa depan yang lebih baik bagi warga binaan.
Source: www.medcom.id