Jembatan Gantung Perintis Garuda kini menjadi jalur tercepat bagi warga dua desa di Aceh Tamiang. Perjalanan yang sebelumnya harus ditempuh sekitar satu hingga dua jam kini cukup sekitar lima menit saja.
Perubahan itu terasa langsung bagi warga Desa Bandar Mahligai dan Desa Sekerak Kiri di Kecamatan Sekerak. Jembatan sepanjang 240 meter yang melintas di atas Sungai Tamiang ini membuka koneksi yang sebelumnya sangat terbatas.
Selama bertahun-tahun, warga di kawasan itu bergantung pada perahu kayu untuk menyeberang sungai. Pilihan lain adalah jalur darat memutar lewat Karang Baru dan Sungai Liput, tetapi rute tersebut tetap memakan waktu jauh lebih lama.
Kondisi itu membuat aktivitas harian warga tidak berjalan efisien. Urusan sekolah, kegiatan ekonomi, dan kebutuhan sehari-hari ikut terdampak karena akses antardesa tidak memadai.
Kehadiran jembatan ini menjadi jawaban atas kebutuhan mendesak setelah banjir melanda Aceh pada November 2025. Proyek tersebut selesai dalam waktu tiga bulan oleh prajurit TNI gabungan.
Komandan Korem 011/Lilawangsa Kolonel Inf Ali Imran menyebut pembangunan jembatan dilakukan atas permintaan warga setelah banjir terjadi. Ia juga menegaskan bahwa wilayah tersebut sudah puluhan tahun tidak memiliki akses yang memadai.
“Jembatan ini sudah puluhan tahun tidak ada akses. Atas permintaan masyarakat pascabanjir Aceh, akhirnya kita bangun. Panjangnya 240 meter dan menjadi jembatan gantung terpanjang di Indonesia,” kata Ali Imran.
Dari sisi ukuran, jembatan ini memiliki lebar 1,2 meter dan kapasitas beban hingga 400 kilogram. Spesifikasi itu disiapkan agar mobilitas warga di dua desa bisa berlangsung lebih lancar melalui satu jalur penghubung yang lebih praktis.
Manfaat paling cepat terlihat pada urusan pendidikan. Seorang siswi di kawasan itu mengatakan kini ia bisa berangkat sekolah tanpa harus naik boat lagi dan cukup melintasi jembatan.
“Kalau pergi sekolah sekarang lebih mudah, tidak perlu naik boat lagi. Bisa langsung melintasi jembatan,” ujarnya, sembari menyampaikan terima kasih kepada prajurit TNI dan pemerintah atas pembangunan tersebut.
Selain mempermudah perjalanan sekolah, jembatan ini juga membantu pergerakan ekonomi warga. Akses yang lebih singkat membuat aktivitas antardesa menjadi lebih efisien dibandingkan sebelumnya.
Di sisi lain, jembatan ini mulai menarik perhatian sebagai lokasi baru untuk berkunjung. Pemandangan alam Sekerak dan bentuk jembatan membuat warga datang untuk berfoto serta menikmati suasana sore di atas sungai.
Fungsi jembatan kini tidak berhenti sebagai penghubung dua desa. Kehadirannya juga membuka ruang interaksi sosial yang lebih luas dan mengubah pola hidup warga yang selama ini terhambat oleh aliran Sungai Tamiang.
Source: www.medcom.id