Jumlah investor pasar modal Indonesia yang sudah menembus lebih dari 26 juta menjadi salah satu tanda bahwa minat masyarakat terhadap investasi terus bertumbuh. Namun, pertumbuhan itu dinilai perlu diarahkan agar tidak berhenti pada antusiasme sesaat, melainkan berubah menjadi kebiasaan yang terencana dan berkelanjutan.
Dorongan itu kini kembali ditegaskan lewat Program Investasi Terencana dan Berkala atau Pintar Reksa Dana. Program ini hadir untuk membangun disiplin investasi yang konsisten, sekaligus memperkuat literasi dan inklusi pasar modal di tengah masyarakat.
Fokus pada kebiasaan, bukan sekadar minat
Penguatan budaya investasi menjadi perhatian karena masyarakat tidak hanya perlu mengenal produk investasi, tetapi juga perlu memahami pola berinvestasi yang lebih terukur. Dengan cara itu, investasi bisa menjadi bagian dari kebiasaan keuangan yang berjalan rutin, bukan keputusan yang muncul sesekali.
Peluncuran program Pintar Reksa Dana digelar di Main Hall Bursa Efek Indonesia dan melibatkan OJK, APRDI, serta pelaku industri. Pada waktu yang sama, Pekan Reksa Dana 2026 juga digelar untuk menegaskan fokus bersama dalam memperbesar partisipasi investor ritel di pasar modal domestik.
Kehadiran sejumlah tokoh dalam acara tersebut menunjukkan bahwa isu budaya investasi masih mendapat perhatian besar. Airlangga Hartarto, Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, dan Purbaya Yudhi Sadewa termasuk di antara pihak yang hadir.
Skema yang dirancang mudah diikuti investor ritel
Salah satu pelaku industri yang mendorong kebiasaan ini adalah Bibit.id melalui fitur Systematic Investment Plan atau SIP, yang dikenal sebagai Nabung Rutin. Skema ini memberi ruang bagi masyarakat untuk berinvestasi secara berkala dengan nominal tetap tanpa perlu menunggu dana besar terlebih dahulu.
Direktur Bibit.id, Hilmawan Kusumajaya, menyebut investasi yang terencana dan berkala telah terbukti efektif untuk membantu masyarakat membangun kekayaan jangka panjang. Ia juga menyampaikan apresiasi atas dukungan OJK, BEI, dan asosiasi dalam peluncuran program tersebut.
“Filosofi investasi terencana dan berkala telah terbukti menjadi cara paling efektif bagi masyarakat untuk membangun kekayaan jangka panjang,” ujarnya.
Pola SIP dibuat agar lebih mudah dijalani investor ritel karena menggabungkan prinsip the power of compounding dan dollar cost averaging. Dengan pendekatan ini, dana disetor dalam jumlah tetap pada waktu yang terjadwal ke instrumen reksa dana sesuai tujuan yang sudah ditetapkan.
Cocok untuk tujuan keuangan jangka panjang
Ritme investasi seperti ini dipandang relevan untuk berbagai kebutuhan keuangan. Dana pendidikan, dana pensiun, hingga pembelian rumah termasuk tujuan yang dapat disiapkan melalui pola investasi berkala.
Selain membantu membangun disiplin, metode tersebut juga mendukung diversifikasi agar risiko dapat dikelola lebih baik. Hilmawan menegaskan bahwa SIP merupakan strategi investasi yang aman, terbukti menguntungkan, dan dapat menjadi alternatif investasi jangka panjang.
Pendekatan yang sederhana dan konsisten ini dinilai sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang ingin mulai berinvestasi tanpa proses yang rumit. Karena itu, investasi berkala tidak hanya menawarkan kemudahan, tetapi juga memberi arah yang lebih jelas dalam menyusun rencana keuangan.
Belajar dari pengalaman India
Upaya membentuk kebiasaan investasi juga mendapat sorotan dari India, yang dinilai berhasil memperluas partisipasi investor lewat kampanye Mutual Fund Sahi Hai. Program yang digerakkan Association of Mutual Funds in India atau AMFI itu dimulai sejak 2017 dan menunjukkan hasil yang cukup besar.
Chief Executive AMFI, Venkat N. Chalasani, mengatakan rata-rata aset kelolaan reksa dana di India tumbuh 33 persen dalam dua tahun pertama kampanye tersebut. Ia juga menyebut total aset kelolaan industri reksa dana India meningkat hingga 600 persen sejak program itu diluncurkan.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa edukasi yang berjalan konsisten dapat mengubah minat menjadi kebiasaan. Dalam konteks Indonesia, pesan serupa diharapkan mampu mendorong masyarakat berinvestasi karena paham manfaatnya, bukan sekadar mengikuti tren.
Ruang pertumbuhan masih terbuka
Dengan jumlah investor pasar modal yang sudah melampaui 26 juta, pasar reksa dana di Indonesia masih memiliki ruang tumbuh yang besar. Angka tersebut sekaligus menunjukkan bahwa minat masyarakat terus bergerak naik, meski tantangan literasi dan konsistensi masih perlu dijawab melalui edukasi yang berkelanjutan.
Program Pintar Reksa Dana diposisikan sebagai salah satu penggerak untuk memperluas budaya investasi yang lebih kuat, inklusif, dan berorientasi jangka panjang. Jika kebiasaan investasi terencana bisa makin luas diterapkan, basis investor ritel di pasar modal domestik berpeluang menjadi lebih sehat dan berkelanjutan.
