3 Pilihan Lebih Sadar, dari Liburan Tanpa FOMO hingga Potensi Tamanu

Author: Redaksi Android62

Liburan dapat kehilangan maknanya ketika perjalanan hanya dipenuhi daftar tempat populer yang harus didatangi. Dorongan itu kerap muncul setelah melihat unggahan teman di media sosial, yang memicu FOMO atau rasa takut tertinggal.

Top 3 Berita Hari Ini menyoroti pilihan yang lebih sadar dalam menjalani tren, mulai dari menyusun agenda perjalanan, menikmati kuliner lintas negara, hingga mengembangkan bahan aktif skincare lokal. Ketiganya memperlihatkan bahwa pengalaman yang bernilai tidak selalu ditentukan oleh apa yang sedang ramai dibicarakan.

Topik Fokus Informasi Utama
FOMO liburan Menikmati perjalanan secara personal Unggahan media sosial dapat memicu rasa tertinggal
Kuliner Asia Jelajah rasa enam negara Hadir dalam kampanye di East Quarter, Grand Indonesia
Tamanu Inovasi skincare berbasis riset Dikembangkan dari tamanu Sulawesi untuk kulit berjerawat

1. Jangan Terjebak FOMO Saat Melihat Teman Berlibur

FOMO dapat muncul ketika seseorang melihat foto perjalanan orang lain ke berbagai destinasi menarik. Media sosial membuat pengalaman tersebut terasa dekat, sekaligus mendorong keinginan untuk mengikuti rute dan aktivitas yang sama.

Masalah muncul saat keinginan untuk tidak melewatkan apa pun berubah menjadi jadwal yang terlalu padat. Wisatawan dapat merasa harus mendatangi semua lokasi yang populer, mencoba setiap restoran rekomendasi, dan mengisi seluruh waktu perjalanan dengan target baru.

Pola tersebut berisiko membuat liburan terasa melelahkan karena perhatian tersita pada daftar pencapaian. Perjalanan pun dapat berubah menjadi kegiatan mencentang destinasi, bukan kesempatan menikmati suasana dan momen yang dipilih sendiri.

Tren destinasi tetap dapat menjadi sumber inspirasi, tetapi tidak harus menguasai seluruh agenda. Menentukan pengalaman yang benar-benar ingin dinikmati dapat membantu perjalanan terasa lebih personal dan sesuai kebutuhan.

Salah satu contoh tempat yang berkembang melalui minat publik ialah Train Street di Hanoi. Liputan6.com mencatat kawasan rel sempit itu perlahan menjadi magnet wisata setelah berawal dari tur fotografi dan unggahan media sosial pada 2013.

2. Menjelajahi Enam Negara Asia dari Jakarta

Pilihan sadar juga dapat hadir melalui makanan, karena satu hidangan bisa membuka percakapan tentang budaya dan kebiasaan dari tempat asalnya. Jakarta menyediakan ruang untuk perjumpaan tersebut melalui ragam kuliner Asia.

Kampanye “A Journey Through Asia” di East Quarter, Grand Indonesia, memperkenalkan menu baru yang membawa inspirasi dari enam negara Asia. Hidangan disajikan dalam interpretasi modern dengan tetap menghormati karakter asli masing-masing menu.

Chef Owner TOMA Group, Alnico Andreas, menyatakan pemilihan menu tidak hanya mempertimbangkan rasa. Setiap sajian dipilih karena memiliki cerita budaya dari negara asalnya.

Salah satu menu yang diperkenalkan adalah Five Spices Smoked Duck. Kehadiran menu itu menempatkan santapan sebagai cara untuk menyusuri keragaman cita rasa lintas negara, bukan sekadar memenuhi kebutuhan makan.

3. Tamanu Sulawesi dan Riset untuk Kulit Berjerawat

Kekayaan hayati Indonesia juga terus dikembangkan menjadi bahan aktif perawatan kulit berbasis riset. Salah satu tanaman yang mendapat perhatian adalah tamanu asal Sulawesi.

From This Island bekerja sama dengan Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung dan EBM SciTech untuk mengembangkan bahan aktif dari tamanu oil. Kolaborasi yang dimulai sejak 2023 itu berlangsung lebih dari dua tahun.

Kerja sama tersebut menghasilkan PolyAcNix, konsentrat kaya bioaktif yang dikembangkan melalui pendekatan ilmiah. Bahan ini ditujukan untuk membantu melawan bakteri penyebab jerawat sekaligus mendukung regenerasi kulit.

Pengembangan tamanu menunjukkan potensi bahan hayati lokal untuk menjadi bagian dari inovasi skincare. Riset tersebut juga menempatkan pemanfaatan tanaman Indonesia pada proses pengembangan yang memiliki dasar ilmiah.

Source: www.liputan6.com
Berita Terbaru