401 Anak Muda Berebut Magang ke Jepang, Banyak yang Membawa Misi Ubah Nasib Keluarga

Author: Redaksi Android62

Sebanyak 401 anak muda mengikuti seleksi Program Magang ke Jepang 2026 di halaman Kantor Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Jawa Tengah, Semarang. Dari 508 pendaftar, hanya 401 orang yang hadir untuk bersaing memperebutkan kesempatan tersebut.

Minat yang tinggi itu datang dari berbagai daerah di Indonesia. Selain peserta dari Jawa Tengah, seleksi juga diikuti anak muda dari Jawa Timur, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Banten, Bali, DKI Jakarta, Lampung, Kalimantan Utara, hingga Nusa Tenggara Barat.

Misi pribadi di balik seleksi ketat

Bagi banyak peserta, magang ke Jepang bukan sekadar peluang bekerja di luar negeri. Program itu dipandang sebagai jalan untuk memperbaiki keadaan keluarga, membiayai pendidikan adik, dan membawa pulang pengalaman kerja yang kelak berguna di Indonesia.

Bima Sujatmiko, 18 tahun, menjadi salah satu peserta yang datang dari Pemalang dengan persiapan panjang. Ia berlatih matematika selama berbulan-bulan dan menjaga kebugaran lewat push-up, sit-up, serta lari setiap hari.

Motivasi Bima sangat jelas, yaitu meningkatkan ekonomi keluarga agar dapat membantu biaya sekolah adiknya. Harapan serupa juga datang dari peserta lain yang melihat seleksi ini sebagai langkah awal untuk masa depan keluarga mereka.

Nama Peserta Asal Fokus Harapan
Bima Sujatmiko Pemalang Membantu biaya sekolah adik dan memperbaiki ekonomi keluarga
Andi Ardiansyah Bima, Nusa Tenggara Barat Membantu pendidikan adik-adik dan belajar budaya kerja Jepang
Eko Prasetyo Tegal Mengambil bekal disiplin dan etos kerja untuk masa depan di Indonesia

Andi Ardiansyah datang membawa cerita yang tidak kalah kuat. Ia sempat menunda kuliah karena keterbatasan ekonomi, kemudian merantau ke Jawa, memperoleh beasiswa, dan menyelesaikan pendidikan di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya pada Februari 2026.

Andi kini ingin mempelajari langsung budaya kerja masyarakat Jepang yang dikenal disiplin, tertib, dan produktif. Ia berharap penghasilannya kelak bisa membantu pendidikan adik-adiknya.

Belajar disiplin, tertib, dan tanggung jawab

Eko Prasetyo asal Tegal menilai program magang ini lebih dari sekadar kesempatan kerja. Ia ingin menyerap nilai disiplin, ketepatan waktu, tanggung jawab, dan saling menghormati yang melekat dalam budaya kerja Jepang.

Menurut Eko, kebiasaan sederhana seperti meminta maaf saat salah, menyapa ketika bertemu orang, dan datang tepat waktu adalah pelajaran penting yang bisa dibawa pulang. Ia melihat pengalaman itu sebagai modal berharga setelah kembali ke Indonesia.

Wakil Direktur IM Japan, Yamauchi Takeshi, menegaskan bahwa tujuan utama program ini bukan semata penghasilan. Program magang juga dirancang untuk membentuk karakter, meningkatkan keterampilan, dan mempelajari etos kerja Jepang.

Daya saing tenaga kerja muda Indonesia

Kepala Disnakertrans Provinsi Jawa Tengah, Ahmad Aziz, mengatakan antusiasme peserta tahun ini sangat tinggi. Ia menilai tingginya partisipasi menunjukkan bahwa kesempatan belajar dan bekerja di Jepang masih menjadi impian banyak anak muda dari berbagai daerah.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi juga menyoroti semangat itu sebagai tanda daya saing tenaga kerja Indonesia di level internasional. Ia mengingatkan peserta agar tidak berkecil hati bila belum lolos seleksi dan menyebut kegagalan sebagai keberhasilan yang tertunda.

Bagi para peserta, seleksi ini adalah pintu awal menuju peluang yang lebih besar. Di tengah persaingan yang ketat, harapan untuk belajar, bekerja, dan pulang membawa pengalaman baru tetap menjadi alasan utama mereka bertahan hingga tahap seleksi.

Source: mettanews.id
Berita Terbaru