5 Kebiasaan Sehari-Hari yang Diam-Diam Membebani Ginjal, Banyak Orang Tak Sadar

Author: Redaksi Android62

Ginjal dapat terbebani bukan hanya oleh penyakit, tetapi juga oleh kebiasaan yang terlihat wajar dalam keseharian. Dari konsumsi air yang berlebihan hingga penggunaan suplemen tanpa pengawasan, sejumlah pola hidup justru bisa menambah tekanan pada organ penyaring darah ini.

Salah satu kebiasaan yang paling sering dianggap aman adalah minum air terlalu banyak dalam waktu singkat. Ginjal hanya mampu memproses sekitar 0,8–1 liter air per jam, sehingga asupan yang melampaui kemampuan itu dapat mengencerkan elektrolit dalam darah.

Ketika kadar natrium turun terlalu rendah, sel-sel tubuh bisa membengkak, termasuk sel otak, dan kondisi ini memicu gejala serius. Dokter spesialis urologi David Shusterman, MD, menyarankan minum saat merasa haus, sementara urine berwarna kuning pucat umumnya menandakan tubuh terhidrasi dengan baik.

Suplemen dan obat yang perlu diwaspadai

Penggunaan suplemen dalam dosis tinggi juga dapat memberi beban tambahan pada ginjal. Kunyit, vitamin C dosis tinggi, dan kalsium dosis tinggi disebut dapat meningkatkan risiko batu ginjal, sedangkan vitamin D dapat memunculkan masalah pada penderita penyakit ginjal kronis.

Karena itu, suplemen sebaiknya tidak dikonsumsi sembarangan, terutama bila sedang memakai obat lain. Konsultasi dengan dokter penting untuk mengetahui manfaat, efek samping, dan kemungkinan interaksi obat sebelum memutuskan penggunaan rutin.

Risiko serupa juga muncul pada penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid atau NSAID seperti aspirin, ibuprofen, dan naproxen. Obat-obat ini memang umum dipakai untuk meredakan nyeri, peradangan, dan demam, tetapi penggunaan berlebihan dapat memberi tekanan besar pada ginjal.

Untuk nyeri otot ringan sehari-hari, pendekatan yang lebih aman adalah peregangan, istirahat cukup, dan menjaga tubuh tetap terhidrasi. Obat pereda nyeri sebaiknya dipakai hanya saat benar-benar dibutuhkan.

Asupan protein berlebihan dan produk detoks

Protein tetap dibutuhkan tubuh, tetapi jumlah yang terlalu tinggi membuat ginjal bekerja lebih keras. Kondisi ini sering terjadi pada orang yang terlalu mengandalkan minuman atau suplemen protein untuk program kebugaran.

David Shusterman menjelaskan bahwa protein hingga dua atau tiga kali kebutuhan harian tidak membuat otot bertambah lebih cepat. Sebaliknya, beban kerja ginjal justru meningkat.

Tim Pflederer, MD, Chief Medical Officer di Evergreen Nephrology, menambahkan bahwa protein dari daging hewan dapat memberi beban lebih besar pada ginjal, terutama pada penderita penyakit ginjal kronis. Ia menyarankan sumber protein nabati seperti kacang-kacangan, kedelai, biji-bijian, quinoa, dan lentil.

Shusterman juga menyarankan asupan protein berada di kisaran 0,8–1 gram per kilogram berat badan per hari, kecuali ada rekomendasi berbeda dari dokter. Pada saat yang sama, teh detoks perlu dilihat dengan lebih kritis karena klaim membersihkan racun dan menurunkan berat badan masih minim dukungan ilmiah.

Banyak teh detoks mengandung diuretik yang meningkatkan produksi urine, sehingga penurunan berat badan yang terjadi sering kali hanya berasal dari berkurangnya cairan tubuh. Jika dikonsumsi berlebihan, produk ini dapat memicu dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit.

Beberapa bahan herbal di dalamnya, seperti akar licorice, St. John’s wort, dan daun senna, juga diketahui dapat memberi efek merugikan bagi ginjal. Karena itu, produk yang dipromosikan sebagai pembersih tubuh tidak selalu aman bila dipakai tanpa batas.

Di balik kesan sepele, kebiasaan sehari-hari itu menunjukkan bahwa ginjal sangat sensitif terhadap keseimbangan asupan dan konsumsi produk tertentu. Menjaga pola minum, membatasi suplemen, memilih protein dengan bijak, dan berhati-hati terhadap teh detoks menjadi langkah penting untuk mengurangi beban pada organ ini.

Source: www.beautynesia.id
Berita Terbaru