Di antara berbagai mamalia, ada perilaku yang memperlihatkan sisi paling lembut dari dunia liar: mengasuh anak yang bukan darah daging sendiri ketika induknya hilang. Pola ini tampak pada hewan darat maupun laut, dan menunjukkan bahwa perlindungan sosial tidak selalu berhenti pada hubungan biologis.
Di lautan, beberapa paus dan lumba-lumba dikenal memiliki ikatan pengasuhan yang sangat kuat. Pada orca resident, misalnya, induk hanya memiliki satu anak setiap lima tahun dan mengawasi anaknya selama 24 jam penuh, sementara anak paus pada bulan pertama kehidupan bahkan tidak tidur sehingga induknya ikut terjaga.
Paus dan lumba-lumba mengandalkan jaringan perawatan yang panjang
Paus sperma menyusui anaknya selama lebih dari dua tahun, sedangkan bentuk perawatan yang umum terlihat adalah posisi berenang eselon, saat anak berada di sisi induknya dan memanfaatkan gelombang tubuh sang induk. Beberapa paus juga menerima bantuan dari betina lain dalam kelompok, termasuk pada paus sperma, paus beluga, dan paus pilot.
Lumba-lumba betina juga memperlihatkan perilaku serupa. Ketika induknya meninggal tiba-tiba, anak lumba-lumba yatim piatu bisa diambil alih oleh betina lain, lalu dibimbing dan dilindungi oleh anggota kelompok dewasa yang membentuk jaringan sosial yang kuat.
Gajah dikenal paling protektif terhadap anggota kawanan
Di darat, gajah menjadi salah satu contoh paling jelas dari pengasuhan komunal. Kawanan betina biasanya berjalan membentuk lingkaran dengan anak termuda di bagian dalam agar lebih aman dari predator.
Saat ada anak yang menjadi yatim piatu, anggota kawanan lain akan mengadopsinya. Gajah juga dikenal menunjukkan duka yang kuat ketika ada sesamanya mati, bahkan dengan perilaku murung selama berhari-hari.
Mereka pernah diamati membuat kuburan untuk gajah yang mati dan menutupi tubuhnya dengan daun serta ranting. Bertahun-tahun kemudian, gajah juga tercatat kembali ke tempat salah satu anggota kawanan mereka mati.
Di Thailand, gajah kerap diburu dari induknya saat masih muda untuk dijual ke industri hiburan. Di Suaka Gajah Boon Lott, gajah-gajah yang diselamatkan dari nasib itu dirawat oleh Panton, gajah betina yang memimpin suaka dan mengasuh mereka agar bisa beradaptasi di rumah baru.
Gorila membangun solidaritas dalam kelompok keluarga
Ikatan keluarga yang erat juga terlihat pada gorila. Induk gorila sangat dekat dengan anaknya, sementara gorila jantan dominan berperan menjaga, memimpin kelompok, dan memperhatikan seluruh anggota.
Betina gorila biasanya melahirkan anak pertama sekitar usia 10 tahun. Setelah itu, mereka berubah menjadi ibu yang sangat protektif dan mencurahkan waktu untuk merawat bayi yang baru lahir.
Kasus anak gorila yatim piatu bernama Urusobe memperlihatkan bentuk solidaritas yang kuat. Ia kehilangan ibunya saat berusia hampir 3 tahun, usia yang masih rentan karena belum sepenuhnya mandiri.
Dalam kelompok itu, gorila jantan tertua bernama Lisangna mengambil peran sebagai pengasuh utama. Ia menjaga Urubose tetap mengikuti pergerakan kelompok, merawatnya, dan memberi kehangatan saat istirahat siang maupun malam.
Gorila lain juga ikut membantu. Saudara kandungnya, Ubugeni, gorila punggung perak tertua Wakawaka, serta neneknya Mugeni dan Okapi, sama-sama memberi perawatan tambahan yang dipercaya.
Singa pun membesarkan anak secara komunal
Di balik citranya yang garang, singa ternyata juga mengandalkan pengasuhan komunal. Saat seekor singa betina melahirkan, saudara perempuan dan singa jantan dominan ikut terlibat dalam menjaga dan melindungi anak yang lahir.
Karena banyak betina melahirkan hampir bersamaan, perhatian biasanya diprioritaskan untuk anak sendiri, lalu ke anak kerabat terdekat. Singa betina menyusui anak-anaknya dan mengajari mereka keterampilan bertahan hidup melalui permainan yang melatih naluri mengintai, menerkam, dan berburu.
Sistem itu juga membantu anak singa yang kehilangan induknya. Anak tersebut tetap tinggal di kawanan, lalu singa betina lain mengambil peran sebagai ibu pengganti dan terus menyusuinya.
Perilaku semacam ini memperlihatkan bahwa pada banyak mamalia, naluri melindungi tidak hanya diarahkan kepada anak sendiri. Dalam situasi tertentu, kawanan justru menjadi jaringan pengasuhan yang menjaga anak yatim tetap bertahan hingga cukup kuat untuk mandiri.
