Renault Beralih ke Drone Tempur, Pabrik Mobil Prancis Ikut Masuk Jalur Perang

Author: Redaksi Android62

Renault Group kini berada di jalur yang tidak biasa bagi produsen mobil besar Eropa. Perusahaan asal Prancis itu membantu memproduksi drone tempur Toutatis, sebuah langkah yang mencerminkan bagaimana perang Ukraina telah mengubah arah industri pertahanan di Eropa.

Kemitraan strategis Renault dengan Thales diumumkan di pameran pertahanan Eurosatory di luar Paris. Dalam proyek ini, Renault akan ikut memproduksi drone Toutatis untuk memperkuat kapasitas pertahanan Prancis.

Produksi Toutatis dijadwalkan dimulai paling cepat pada 2027 di salah satu pabrik Renault. Kapasitas awal yang disiapkan mencapai 1.000 unit per bulan pada tahun pertama produksi.

Perang Ukraina mendorong perubahan industri

Invasi Rusia ke Ukraina menjadi pemicu utama lonjakan permintaan pertahanan di Eropa. Di saat yang sama, perubahan kebijakan luar negeri Amerika Serikat di bawah Presiden Trump ikut mendorong negara-negara Eropa menyesuaikan strategi keamanan mereka.

Kondisi itu membuat produsen senjata mencari kapasitas cadangan dari sektor otomotif agar output bisa naik lebih cepat. Reuters menyebut langkah seperti ini sebagai upaya industri pertahanan memanfaatkan kemampuan produksi yang sudah tersedia untuk memenuhi kebutuhan di lapangan.

Loitering munition atau drone kamikaze juga sudah memainkan peran penting dalam perang Ukraina. Karena itu, sistem serupa semakin dipandang sebagai bagian penting dari pertahanan modern Eropa.

Peran Renault dan Thales

Dalam pernyataan resminya, CEO Renault Group François Provost mengatakan kemitraan baru dengan Thales mempertemukan dua perusahaan unggulan Prancis untuk mendukung industri drone berdaulat Prancis. Ia menegaskan Renault akan membantu merancang, mengindustrialisasi, dan memproduksi drone dalam skala besar dengan waktu lebih singkat dan biaya yang lebih efisien.

Provost juga menyebut proyek itu sebagai kontribusi nyata terhadap inisiatif yang dijalankan bersama Kementerian Angkatan Bersenjata Prancis. Menurut dia, kerja sama ini memperkuat kemampuan pertahanan Prancis sekaligus Eropa.

Chairman dan CEO Thales Patrice Caine menyebut kemitraan tersebut sebagai tonggak penting dalam membangun kemampuan drone berdaulat berskala besar dan berkelas dunia. Ia mengatakan kombinasi kekuatan teknologi Thales dan basis industri Renault akan menjawab kebutuhan angkatan bersenjata sekaligus tuntutan ekonomi masa perang.

Kemampuan drone Toutatis

Toutatis adalah loitering munition jarak pendek yang melayang di atas area target sebelum menyerang. Sistem ini dirancang untuk konflik intensitas tinggi dan dapat dioperasikan oleh prajurit infanteri atau diluncurkan dari kendaraan tempur, pesawat, dan platform angkatan laut.

Drone ini tahan terhadap jamming elektromagnetik dan memiliki hulu ledak yang bisa dikonfigurasi sesuai misi. Toutatis juga mampu beroperasi dalam formasi kawanan atau swarm, dengan operator manusia tetap berada dalam lingkaran pengambilan keputusan.

Renault makin aktif di sektor pertahanan

Renault sebelumnya mengatakan pada Februari lalu bahwa kementerian angkatan bersenjata Prancis meminta langsung perusahaan itu membantu memperkuat sektor pertahanan nasional. Hal itu menandai semakin terbukanya jalur kerja sama antara industri otomotif dan pertahanan di Prancis.

Kemitraan dengan Thales untuk Toutatis menjadi kerja sama pertahanan kedua antara kedua perusahaan. Sehari sebelum pengumuman proyek ini, Renault dan Thales juga memperkenalkan 4 TROOP, kendaraan taktis yang mengintegrasikan drone, sensor, komunikasi aman hibrida, dan alat pendukung keputusan berbasis AI untuk kebutuhan angkatan darat masa depan.

Di luar proyek Toutatis, Renault juga menjalankan program Chorus bersama pembuat drone Turgis Gaillard untuk mengembangkan model jarak jauh. Demonstrator pertama diharapkan hadir akhir tahun ini, lalu produksi 600 unit per bulan disiapkan di pabrik Le Mans Renault.

Renault juga bekerja sama dengan grup Belgia John Cockerill untuk drone darat. John Cockerill Defense sebelumnya membeli produsen kendaraan militer Prancis Arquus dari produsen truk Swedia Volvo pada 2024.

Meski perannya di sektor pertahanan makin besar, Renault menegaskan bisnis utamanya tetap pembuatan mobil. Namun, dengan kapasitas industri yang mulai diarahkan ke drone tempur, perusahaan ini kini menjadi bagian dari pergeseran besar cara Eropa membangun kesiapan perang.

Source: www.cnnindonesia.com
Berita Terbaru