Dalam banyak spesies mamalia, melahirkan satu anak sekaligus bukanlah keterbatasan, melainkan strategi bertahan hidup. Pola ini memberi induk kesempatan untuk mencurahkan energi, perlindungan, dan perawatan pada satu keturunan yang biasanya lahir dengan ukuran besar atau membutuhkan masa belajar panjang.
Pada hewan-hewan tertentu, pilihan biologis ini juga berkaitan dengan lamanya masa kehamilan, jarak antar kelahiran, hingga tingkat ketergantungan anak setelah lahir. Karena itu, jumlah keturunan yang sedikit justru dapat diimbangi dengan peluang hidup yang lebih tinggi.
Gajah dan badak sama-sama mengandalkan satu anak
Gajah termasuk hewan yang hampir selalu melahirkan satu bayi dalam satu kehamilan. Kelahiran kembar memang ada, tetapi tergolong sangat langka, sekitar satu dari seratus kelahiran.
Alasannya cukup jelas, karena bayi gajah bisa lahir dengan berat lebih dari 100 kg. Mengandung dua bayi besar sekaligus tentu menjadi risiko besar bagi induknya.
Badak juga mengikuti pola serupa. Masa kehamilan badak betina mencapai 16 bulan, lalu ia melahirkan satu anak dengan berat antara 40 hingga 65 kg.
Pada spesies ini, ukuran tubuh anak dan lamanya kehamilan membuat kelahiran tunggal menjadi pilihan yang paling masuk akal. Dengan begitu, induk bisa memusatkan tenaga pada satu anak yang membutuhkan perlindungan intensif sejak awal.
Simpanse, lumba-lumba, dan lemur juga cenderung satu anak
Simpanse betina biasanya hanya melahirkan satu bayi dalam satu waktu. Bayi simpanse sangat bergantung pada induknya selama beberapa bulan pertama hingga masa remaja, termasuk untuk belajar keterampilan dan perilaku sosial.
Lumba-lumba juga umumnya melahirkan satu keturunan per kehamilan. Masa kehamilannya bervariasi antarspesies, yakni antara 11 hingga 17 bulan, dan pola ini berkaitan dengan kebutuhan reproduksi serta perkembangan anak.
Pada lemur ekor cincin, kehamilan berlangsung sekitar 135 hari setelah masa kawin pada pertengahan April hingga pertengahan Mei. Kelahiran umumnya menghasilkan satu bayi, meski kembar juga bisa terjadi, dan bayi lemur kemudian terus digendong induknya sampai disapih pada usia 5 bulan.
Kuda nil dan jerapah punya alasan yang tidak kalah kuat
Kuda nil betina mencapai kematangan seksual saat berusia 3 atau 4 tahun, tetapi biasanya baru mulai kawin pada usia sekitar 7 atau 8 tahun. Setelah melahirkan, kuda nil betina tidak akan berovulasi selama sekitar satu setengah tahun.
Akibatnya, kuda nil betina umumnya hanya melahirkan satu anak setiap dua tahun. Meski dikenal agresif dan penyendiri, induk kuda nil tetap sangat berdedikasi dalam membesarkan keturunannya agar kuat dan sehat.
Jerapah juga hampir selalu melahirkan satu anak, meski kelahiran kembar pernah tercatat. Saat lahir, anak jerapah rata-rata memiliki tinggi 1,8 meter dan berat sekitar 65 kilogram.
Bayi jerapah tumbuh sangat cepat, bahkan tingginya bisa menjadi dua kali lipat pada tahun pertama. Anak jerapah mampu berdiri sekitar satu jam setelah lahir, segera menyusu, lalu terus menyusu selama 9 hingga 12 bulan.
Pola melahirkan satu anak pada hewan-hewan ini menunjukkan bahwa jumlah keturunan tidak selalu menjadi ukuran utama keberhasilan reproduksi. Pada banyak spesies besar dan berumur panjang, investasi besar pada satu anak justru memberi peluang bertahan hidup yang lebih baik dibanding membesarkan banyak anak sekaligus.
Tabel ringkas pola kelahiran
| Hewan | Pola kelahiran |
|---|---|
| Simpanse | Biasanya satu bayi |
| Gajah | Biasanya satu bayi, kembar sangat langka |
| Kuda nil | Umumnya satu anak setiap dua tahun |
| Lumba-lumba | Kebanyakan spesies satu keturunan |
| Lemur ekor cincin | Umumnya satu bayi, kembar bisa terjadi |
| Jerapah | Biasanya satu anak |
| Badak | Umumnya satu anak |
Source: www.idntimes.com
