Kapal Beton Ternyata Bisa Mengapung, Solusi Aneh Saat Baja Langka

Author: Redaksi Android62

Kapal beton pernah menjadi jawaban nyata ketika baja sulit didapat. Di Amerika Serikat, kebutuhan itu muncul pada masa Perang Dunia I dan kembali terasa pada Perang Dunia II, saat para insinyur harus mencari bahan alternatif agar transportasi laut tetap berjalan.

Yang membuatnya mungkin bukanlah keajaiban bahan, melainkan hukum daya apung. Selama bentuk lambung, volume, dan bobotnya diatur dengan tepat, beton tetap bisa mengapung di air seperti kapal berbahan logam.

Prinsip yang membuat beton tetap berada di permukaan

Dalam teknik kapal, yang menentukan bukan hanya jenis material. Sebuah benda akan tetap terapung bila gaya ke atas dari air seimbang dengan beratnya sendiri, sebagaimana dijelaskan oleh prinsip Archimedes.

Karena itu, material seperti beton pun dapat dipakai asalkan kapal dibuat cukup besar dan cukup ringan untuk volumenya. Prinsip yang sama juga berlaku pada kapal modern berbahan logam, karena yang benar-benar menjaga kapal tetap di permukaan adalah desain lambung dan daya apung yang dihasilkan.

Dipilih saat kekurangan baja melanda

Di Amerika Serikat, studi awal tentang kapal beton dipimpin oleh N.K. Fougner. Setelah diketahui bahwa kapal beton yang diperkuat balok baja memang bisa mengapung, Presiden Woodrow Wilson memerintahkan pembangunan dua lusin kapal semacam itu.

Namun, tidak satu pun kapal selesai ketika Perang Dunia I berakhir. Pada akhirnya, hanya separuh dari kapal yang disetujui itu yang benar-benar rampung.

Dipakai lagi dalam Perang Dunia II

Pada 1943, pemerintah AS kembali menggunakan kapal beton saat kekurangan baja muncul lagi akibat Perang Dunia II. Produksinya mencapai sekitar satu kapal per bulan, menunjukkan betapa mendesaknya kebutuhan material kala itu.

Dua kapal bahkan sempat masuk operasi tempur, yaitu SS David O. Saylor dan SS Vitruvius. Keduanya bergabung dalam armada D-Day, tetapi bukan sebagai kapal angkut pasukan atau kapal pendarat.

Sebaliknya, kedua kapal itu diisi dinamit dan dijadwalkan untuk ditenggelamkan sebagai blockship. Tujuannya adalah membentuk pemecah gelombang bersama beberapa kapal lain agar kapal pendarat infanteri lebih mudah mendekati pantai Normandia.

Jejak yang masih tersisa setelah perang

Kapal beton lain yang dibuat pemerintah AS selama Perang Dunia II dipakai terutama sebagai kapal angkut. Setelah perang usai, sebagian besar tidak bertahan lama dalam layanan.

Sebanyak sembilan kapal ditenggelamkan di lepas pantai Virginia pada 1948 untuk membentuk pemecah gelombang bagi sebuah feri. Ada juga 10 kapal yang sampai sekarang masih menjadi bagian dari pemecah gelombang terapung di Kanada.

Setelah itu, pemerintah AS tidak lagi memesan kapal beton. Hingga kini, belum terlihat tanda bahwa kapal semacam itu akan kembali dibuat dalam waktu dekat.

Masih hidup di dunia teknik mahasiswa

Meski kalah praktis dibanding kapal logam, beton belum sepenuhnya hilang dari dunia maritim. Bahan ini masih bertahan di beberapa ceruk kecil karena keunikannya tetap menarik untuk diuji dalam dunia teknik.

American Society of Civil Engineers mengadakan lomba kano beton setiap tahun. Kompetisi itu menantang mahasiswa teknik untuk membangun kano beton terbaik, lalu mengadu kecepatannya di air.

Fenomena itu memperlihatkan bahwa kapal beton bukan sekadar kisah masa perang. Selama bentuknya tepat, volumenya cukup besar, dan bobotnya terkontrol, beton benar-benar bisa menjadi bahan kapal yang bekerja di air.

Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru