AI dan Inflasi Memukul Pasar Kerja Teknologi, Gaji Tinggi Tak Lagi Menjamin Aman

Author: Redaksi Android62

Gelombang pemutusan hubungan kerja di sektor teknologi masih berlanjut dan kini ikut menyentuh posisi yang terkait kecerdasan buatan atau AI. Sejumlah perusahaan menjadikan efisiensi, penataan ulang operasi, hingga investasi AI sebagai alasan untuk memangkas pegawai.

Meta memangkas sekitar 8.000 pegawai atau 10% dengan alasan merampingkan operasional sekaligus membiayai investasi di bidang AI. Nike juga mengurangi 2% karyawan atau 1.400 orang, dan sebagian besar pemotongan berasal dari departemen teknologi.

Snap turut mengambil langkah serupa dengan rencana memecat 16% karyawan atau sekitar 1.000 peran. Di sektor yang lebih luas, telekomunikasi dan pengolahan data juga mengalami pengurangan 11% atau 342 ribu pekerjaan, dengan puncak kondisi terjadi pada November 2022.

Pasar kerja teknologi ikut melemah

Analisis Janco Associates berdasarkan data Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat mencatat tingkat pengangguran di sektor teknologi informasi berada di 3,8% pada April. Angka itu naik tipis dari 3,6% pada Maret, menandakan pelemahan yang masih terasa.

CEO Janco Victor Janulaitis mengatakan perusahaan kini lebih berhati-hati dalam merekrut tenaga teknologi informasi. Menurut dia, banyak perusahaan memilih menahan ekspansi karena belum yakin perekrutan spesialis AI akan langsung menghasilkan keuntungan.

Perubahan sikap itu membuat profesi bergaji tinggi di sektor teknologi tidak lagi dipandang aman seperti sebelumnya. Perusahaan kini lebih fokus pada efisiensi, penghematan, dan hasil yang bisa langsung dibuktikan di tengah kondisi bisnis yang belum stabil.

AI tetap dicari, tetapi rekrutmen makin selektif

Di satu sisi, AI masih dipakai untuk menilai ulang struktur kerja, fungsi jabatan, dan kebutuhan tenaga kerja di dalam organisasi. Namun di sisi lain, teknologi tersebut belum menjadi jaminan bahwa posisi tertentu akan terlindungi dari tekanan pasar.

Layanan transportasi online Lyft, misalnya, meninjau ulang seluruh posisi yang ada untuk melihat bagaimana AI bisa mengubah peran di dalam perusahaan. Sikap perusahaan itu juga berubah cepat, karena enam bulan lalu Wakil Presiden Eksekutif Lyft Jason Vogrinec sempat menjelaskan bahwa insinyur perangkat lunak tidak diizinkan menggunakan alat AI dalam wawancara kerja.

Situasi ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap talenta AI memang masih ada, tetapi perusahaan tampak jauh lebih selektif sebelum membuka rekrutmen baru. Bagi pekerja teknologi, persaingan kini semakin ketat karena keputusan perekrutan bergantung pada hitung-hitungan bisnis yang lebih hati-hati.

Source: www.cnbcindonesia.com
Berita Terbaru