Risiko gangguan di Selat Hormuz membuat pasar energi menghadapi tekanan baru setelah harga minyak melonjak pada penutupan perdagangan Jumat, 17 Juli 2026. Minyak Brent naik 4,6% menjadi US$ 88,10 per barel, sedangkan WTI menguat 4,5% ke US$ 82,49 per barel.
Pengamat komoditas dan emas Ibrahim Asyuaibi menilai penguatan tersebut masih dapat berlanjut pada pekan berikutnya. Ia memperkirakan Brent berpeluang bergerak hingga US$ 100 per barel apabila risiko keamanan dan distribusi energi tetap tinggi.
Proyeksi Pergerakan Minyak
Rentang proyeksi menunjukkan pasar masih membuka kemungkinan kenaikan besar, terutama bagi Brent yang telah berada dekat level US$ 90 per barel. WTI juga diperkirakan tetap bergejolak karena sentimen pasokan dari kawasan Teluk Persia belum mereda.
| Jenis Minyak | Penutupan Terakhir | Proyeksi Pekan Depan |
|---|---|---|
| WTI | US$ 82,49 per barel | US$ 70,20-US$ 95 per barel |
| Minyak Brent | US$ 88,10 per barel | US$ 85-US$ 100 per barel |
Selat Hormuz menjadi titik perhatian utama karena jalur tersebut biasanya menangani sekitar 20% lalu lintas minyak dunia. Ancaman terhadap pelayaran di kawasan itu berpotensi menghambat pengangkutan minyak dan meningkatkan premi risiko di pasar.
Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris melaporkan sebuah kapal tanker terkena proyektil di lepas pantai Oman dan mengalami kerusakan ringan. Iran disebut telah berulang kali menyerang kapal tanker sepanjang sepekan terakhir untuk memaksa kapal sipil melintasi Selat Hormuz melalui perairannya.
Konflik Memperbesar Kekhawatiran Pasokan
Ketegangan meningkat setelah gencatan senjata rapuh yang dicapai pada bulan sebelumnya dilaporkan runtuh. Situasi tersebut memperbesar kecemasan investor terhadap kelancaran pasokan dan distribusi energi dari Timur Tengah.
Kuwait menyatakan Iran menyerang pembangkit listrik serta pabrik desalinasi air di negara itu. Kementerian Listrik, Air dan Energi Terbarukan Kuwait menyebut serangan tersebut merusak fasilitas dan memicu kebakaran yang berdampak pada sejumlah besar unit pembangkit listrik.
Gangguan pada fasilitas desalinasi dipandang penting karena Kuwait sangat bergantung pada instalasi tersebut untuk memenuhi kebutuhan air minum. Serangan terhadap infrastruktur sipil memperluas kekhawatiran bahwa konflik dapat memberi dampak lebih besar dari sekadar pasar minyak.
Menurut laporan Liputan6.com yang mengutip PressTV, Iran menyatakan serangan dilakukan terhadap target AS di Bahrain, Yordania, Kuwait, Oman, Qatar, dan Suriah. Pernyataan itu disebut sebagai respons atas serangan terbaru Washington.
Operasi Militer dan Diplomasi
Komando Pusat AS menyatakan telah menuntaskan serangan malam keenam berturut-turut terhadap Iran. Operasi tersebut disebut menyasar puluhan target militer, termasuk infrastruktur logistik dan kemampuan maritim.
Komando Pusat AS juga menyebut lebih dari 50.000 personel militer AS beroperasi di seluruh Timur Tengah. Kehadiran militer yang besar serta ancaman terhadap jalur pelayaran membuat harga minyak sangat sensitif terhadap perkembangan keamanan regional.
Di luar konflik, indeks dolar AS turut menjadi faktor yang diperhatikan karena minyak diperdagangkan dalam denominasi dolar AS. Indeks dolar yang ditutup pada level 100,70 diproyeksikan memiliki area support 100,10 dan resistance 102,30 pada pekan berikutnya.
Rystad Energy masih melihat peluang kesepakatan terbatas antara Washington dan Teheran, meski keyakinan terhadap skenario tersebut melemah. Jorge Leon dari Rystad Energy mengatakan kedua pihak tetap memiliki insentif ekonomi untuk menghindari kegagalan total dalam pembicaraan.
AS disebut berupaya menurunkan harga minyak menjelang pemilihan paruh waktu November, sementara Iran berkepentingan mempertahankan insentif ekonomi. Akses terhadap aset yang dibekukan dan keringanan ekspor menjadi bagian dari paket yang ditawarkan kepada Teheran, sehingga diplomasi tetap akan memengaruhi arah harga minyak.
