IHSG masih punya peluang menjaga tren naik dan kembali menguji area 8.300, dengan dukungan utama yang datang dari saham-saham bank besar. Di tengah pasar yang bergerak campur aduk, sektor perbankan justru kembali tampil sebagai mesin penggerak yang paling menonjol.
Dorongan itu terlihat dari minat beli yang masih kuat pada saham berkapitalisasi besar. BBCA, BBRI, dan BMRI disebut masih menunjukkan kinerja laba yang solid meski suku bunga bank sentral bergerak fluktuatif.
Bank besar tetap memimpin
Kekuatan emiten perbankan membuat penguatan indeks terasa lebih terarah. Saham-saham besar di sektor ini kembali menarik perhatian pelaku pasar karena posisinya yang berat dalam pergerakan IHSG.
Penguatan terakhir juga memperlihatkan bahwa nada positif di pasar belum mereda. Pada perdagangan sebelumnya, IHSG sempat ditutup naik 1,04 persen dan mencatat rekor tertinggi sepanjang masa.
Dukungan asing dan ekonomi domestik
Selain dari bank besar, arus dana asing ikut memberi tenaga tambahan. Investor asing tercatat melakukan net buy senilai Rp1,52 triliun, yang menandakan saham Indonesia masih dipandang menarik di tengah ketidakpastian eksternal.
Optimisme pasar juga ditopang oleh kondisi ekonomi dalam negeri yang tetap tumbuh di atas 5 persen. Pertumbuhan ekonomi nasional tercatat 5,05 persen secara tahunan, dan angka itu menjadi salah satu alasan utama investor masih percaya pada pasar saham domestik.
Kebijakan moneter memberi rasa tenang
Pasar juga mendapat sokongan dari kebijakan moneter yang relatif stabil. Bank Indonesia dan The Fed sama-sama menahan suku bunga acuan, sehingga investor memperoleh kepastian tambahan di tengah sentimen global yang belum solid.
Kondisi ini membuat respons pasar domestik terlihat lebih tenang dibandingkan bursa luar negeri. Di saat sebagian indeks global bergerak melemah, arah IHSG masih lebih banyak ditentukan oleh faktor internal.
Sinyal teknikal masih terbuka
Secara teknikal, IHSG masih berada dalam fase penguatan selama level support terjaga. Pelaku pasar kini memantau kemampuan indeks bertahan di atas 7.200 sebelum melangkah lebih jauh menuju 8.300.
Pada perdagangan terakhir, IHSG tercatat di 7.247,41 dengan status bullish. LQ45 juga ikut menguat ke 980,62 atau naik 0,53 persen, yang menunjukkan sentimen positif masih meluas di pasar.
Fokus pasar tidak hanya ke perbankan
Di luar sektor bank, sejumlah saham lain juga mulai masuk radar investor. EXCL dinilai menarik dari sisi momentum teknikal di sektor telekomunikasi, sementara JSMR dipandang punya prospek pendapatan yang stabil dari jalan tol pada periode libur panjang.
Pergerakan global sendiri belum sepenuhnya mendukung. Dow Jones sempat turun 0,52 persen ke 46.358,42, sedangkan Nasdaq terkoreksi tipis 0,081 persen, namun dampaknya ke pasar domestik masih terbatas.
Aturan pasar ikut menjadi perhatian
Di sisi lain, pelaku pasar juga memantau pembahasan kebijakan batasan free float yang sedang dibahas otoritas terkait. Isu ini ikut memberi warna pada penguatan IHSG yang baru mencetak rekor tertinggi.
Otoritas Jasa Keuangan juga terus mencermati aturan transaksi margin dan short selling. Langkah tersebut ditujukan untuk menjaga stabilitas pasar dan menekan spekulasi berlebihan yang berpotensi merugikan investor ritel.
Dengan aliran dana asing yang masih kuat, kinerja laba emiten besar yang tetap solid, serta ekonomi domestik yang bertumbuh, IHSG masih memiliki pijakan untuk melanjutkan reli. Namun, saham sektor komoditas dan energi tetap perlu diawasi karena harga minyak mentah dan batu bara dunia masih bisa memicu volatilitas tambahan.







