B50 Bisa Naikkan Ongkos Truk, Pengusaha di Jatim Minta Hitungan Ulang

Author: Redaksi Android62

Pelaku usaha angkutan barang di Jawa Timur menilai penerapan B50 berpotensi menambah beban operasional secara nyata. Mereka khawatir biaya perawatan armada melonjak karena filter bahan bakar harus diganti lebih sering saat kendaraan memakai bahan bakar dengan kandungan biodiesel 50%.

Ketua Pengurus Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Jawa Timur, Sundoro, mengatakan mayoritas armada masih mengandalkan biosolar untuk menunjang distribusi. Karena itu, perubahan karakter bahan bakar dinilai langsung menyentuh ritme operasional harian perusahaan angkutan barang.

Interval perawatan diperkirakan menyusut

Menurut simulasi yang disampaikan, usia pakai filter bahan bakar bisa turun hingga separuh dibandingkan penggunaan B30 atau B40. Jika sebelumnya penggantian filter dilakukan setiap sekitar 10.000 kilometer, pada B50 penggantian bisa dibutuhkan setiap sekitar 5.000 kilometer.

Perubahan itu menjadi perhatian karena kendaraan niaga di lapangan masih banyak yang memakai standar emisi Euro 2 hingga Euro 4. Pengusaha menilai kondisi tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan kajian teknis yang memadai sebelum kebijakan dijalankan.

Skema Bahan Bakar Interval Ganti Filter Dampak
B30 atau B40 Sekitar 10.000 kilometer Perawatan lebih jarang
B50 Sekitar 5.000 kilometer Frekuensi perawatan meningkat

Biaya operasional bisa terdorong naik

Sundoro menyebut kenaikan frekuensi penggantian filter dapat menaikkan biaya operasional hingga 50%. Ia menilai beban tersebut akan terasa langsung karena komponen bahan bakar adalah unsur utama dalam bisnis angkutan barang.

Di sisi lain, pilihan bahan bakar yang dianggap lebih berkualitas seperti Dexlite masih dinilai terlalu mahal oleh pelaku usaha. Kondisi itu membuat banyak perusahaan tetap bergantung pada bahan bakar yang paling memungkinkan secara ekonomi untuk menjaga kelancaran usaha.

Pengusaha minta pemerintah hitung dampak logistik

Para pengusaha truk berharap pemerintah tidak hanya melihat B50 dari sisi ketahanan energi. Mereka meminta dampaknya terhadap sektor transportasi logistik dihitung lebih rinci, terutama karena armada barang menjadi tulang punggung distribusi di daerah.

Sundoro menegaskan penyesuaian biaya perawatan seharusnya diikuti dengan penyesuaian ongkos angkut. Menurut dia, langkah itu penting agar pelaku usaha tidak menanggung tambahan beban sendirian ketika biaya maintenance meningkat.

Para pengusaha kini menunggu evaluasi teknis dari pemerintah terkait penerapan B50 yang mulai berlaku 1 Juli 2026. Mereka juga berharap ada penyesuaian tarif angkutan supaya kenaikan biaya perawatan armada tidak semakin menekan bisnis logistik yang bergantung pada efisiensi operasional.

Source: www.beritasatu.com
Berita Terbaru