Lonjakan harga BBM nonsubsidi membuat calon pembeli mobil diesel bekas kini lebih dulu menanyakan satu hal yang sebelumnya jarang dibahas, yakni soal barcode Pertamina untuk membeli Biosolar. Di pasar mobil bekas, pertimbangan biaya operasional mulai menyaingi perhatian terhadap kondisi mesin dan riwayat servis.
Selisih harga bahan bakar menjadi pemicu utama perubahan sikap itu. Harga Pertamina Dex kini mencapai Rp 24.800 per liter, Dexlite Rp 23.000 per liter, sedangkan Biosolar masih dijual Rp 6.800 per liter.
Perbedaan harga yang lebar tersebut membuat konsumen menghitung ongkos harian dengan lebih ketat sebelum transaksi. Untuk mobil diesel yang dipakai rutin, akses ke BBM yang lebih murah kini ikut menentukan layak tidaknya sebuah unit dibeli.
Pembeli kelas menengah ke atas ikut menanyakan barcode
Sekretaris Jenderal Asosiasi Mobil Bekas Indonesia (AMBI), Ricky Prawiro, mengatakan kenaikan harga BBM ikut menekan minat masyarakat terhadap mobil diesel bekas. Penurunan itu terasa dari konsumen yang datang langsung, menelepon, maupun menghubungi lewat media sosial.
Menurut Ricky, pertanyaan soal barcode Pertamina justru banyak muncul dari calon pembeli mobil diesel kelas menengah ke atas. Hal itu terutama terjadi pada kendaraan dengan harga di atas Rp 500 juta.
Calon pembeli ingin memastikan apakah mobil yang ditawarkan memiliki barcode atau tidak. Bagi mereka, informasi itu dianggap penting untuk menilai kemungkinan memakai Biosolar setelah kendaraan berpindah tangan.
Barcode tidak selalu ikut berpindah bersama mobil
Ricky menjelaskan bahwa barcode tidak selalu aktif secara permanen. Karena itu, keberadaan barcode saat transaksi belum tentu menjamin barcode tersebut tetap bisa digunakan oleh pemilik baru.
Di lapangan, masih ada anggapan bahwa barcode melekat pada kendaraan dan otomatis dapat dipakai setelah mobil berpindah tangan. Padahal, mekanisme pembelian Biosolar melalui barcode tidak sesederhana itu.
Masalah ini kerap memunculkan keluhan setelah transaksi selesai. Dalam sejumlah kasus, barcode yang sebelumnya aktif justru tidak bisa digunakan lagi oleh pembeli baru.
Diler mobil bekas ikut menghadapi masalah baru
Situasi tersebut membuat diler mobil bekas berada dalam posisi yang serba terbatas. Diler bisa menjelaskan bahwa sebuah kendaraan pernah memiliki barcode, tetapi tidak dapat menjamin status itu tetap aktif.
Ricky menyebut ada konsumen yang kembali meminta bantuan diler untuk mengurus barcode baru setelah mendapati akses lama tidak berfungsi. Namun, proses pengurusan barcode harus dilakukan langsung oleh pemilik kendaraan.
Akibatnya, diler sering kesulitan memberikan solusi cepat ketika konsumen meminta kepastian soal akses Biosolar. Hal ini menambah lapisan baru dalam proses jual beli mobil diesel bekas yang sebelumnya lebih banyak berputar pada harga, kondisi kendaraan, dan kelengkapan dokumen.
| BBM | Harga per liter | Keterangan |
|---|---|---|
| Pertamina Dex | Rp 24.800 | Nonsubsidi |
| Dexlite | Rp 23.000 | Nonsubsidi |
| Biosolar | Rp 6.800 | Subsidi |
Perbandingan itu memperlihatkan betapa besar selisih biaya yang kini dipertimbangkan pembeli. Pada mobil diesel bekas, terutama yang dipakai harian, akses ke BBM subsidi menjadi bagian dari kalkulasi sebelum konsumen benar-benar melihat unit.
Ricky menilai fenomena tersebut tidak hanya terjadi pada kendaraan diesel untuk kebutuhan pekerja atau niaga ringan. Konsumen mobil diesel di segmen menengah ke atas juga mulai memberi perhatian besar pada barcode karena biaya operasional kini memengaruhi keputusan pembelian.
Pergeseran ini menunjukkan bahwa pasar mobil diesel bekas sedang menyesuaikan diri dengan harga energi yang belum mereda. Selama selisih antara BBM nonsubsidi dan Biosolar tetap lebar, pertanyaan soal barcode Pertamina tampaknya akan terus muncul di meja negosiasi.
