Belanja Lokal, Naikkan Stabilitas Rupiah, 8 Kebiasaan Warga Ini Paling Berpengaruh

Author: Redaksi Android62

Pilihan warga dalam belanja, berinvestasi, hingga bepergian ternyata ikut memberi tekanan pada rupiah. Saat masyarakat lebih sering membeli barang impor, menimbun dolar AS, atau boros memakai BBM, kebutuhan valuta asing dan impor energi ikut terdorong naik.

Kondisi itu membuat kurs rupiah tidak hanya dipengaruhi pasar uang atau kebijakan pemerintah. Akademisi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Rijadh Djatu Winardi, menilai pelemahan rupiah muncul dari gabungan faktor global dan domestik, termasuk ketegangan geopolitik, naiknya permintaan dolar AS, serta tingginya impor.

Belanja harian yang ikut memengaruhi kurs

Salah satu cara paling dekat dengan kehidupan warga adalah mengutamakan produk dalam negeri. Saat barang lokal dipilih, perputaran uang tetap berada di ekonomi domestik dan ketergantungan pada impor bisa berkurang.

Otoritas Jasa Keuangan melalui laman Sikapi Uangmu menilai tingginya impor barang konsumsi ikut mendorong permintaan dolar AS. Semakin besar pembelian barang luar negeri, semakin besar pula kebutuhan valuta asing untuk transaksi perdagangan.

Kebiasaan lain yang perlu diperhatikan adalah menunda pembelian barang impor yang tidak mendesak. Smartphone, kendaraan, dan gadget disebut sebagai produk impor dengan permintaan tinggi di Indonesia.

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Medan Area menyebut tingginya permintaan barang impor sebagai salah satu penyebab pelemahan rupiah. Karena itu, mengurangi konsumsi barang luar negeri dapat membantu menekan tekanan terhadap devisa negara.

Menghindari dorongan yang memperberat kurs

Saat rupiah melemah, sebagian orang justru tergoda memborong dolar AS. OJK mengingatkan bahwa kebiasaan ini dapat memperparah tekanan pada kurs karena permintaan dolar ikut naik.

Bagi masyarakat yang memiliki simpanan dolar dalam jumlah besar, menukarkannya kembali ke rupiah dinilai bisa membantu stabilitas pasar valuta asing. Langkah itu juga menunjukkan kepercayaan pada ekonomi nasional.

Selain itu, masyarakat diminta tidak ikut memperbesar kepanikan. Akademisi UGM, Eddy Junarsin, menilai komunikasi kebijakan yang jelas, stabilitas politik, dan keamanan sangat penting untuk menjaga kepercayaan investor.

Dalam konteks itu, penyebaran informasi yang memicu kepanikan ekonomi dan sikap berspekulasi berlebihan dinilai perlu dihindari. Penggunaan rupiah dalam transaksi sehari-hari juga disebut perlu terus diperkuat.

Investasi, transportasi, dan wisata yang lebih berpihak ke dalam negeri

Pilihan investasi juga punya peran dalam menjaga stabilitas. OJK menyarankan instrumen dalam negeri seperti Surat Berharga Negara, Obligasi Ritel Indonesia, atau Sukuk Ritel.

Investasi di instrumen domestik membantu pemerintah memperoleh pembiayaan pembangunan tanpa terlalu bergantung pada utang luar negeri. Langkah ini sekaligus menjaga stabilitas pasar keuangan nasional.

Dari sisi mobilitas, penggunaan kendaraan pribadi yang berlebihan turut berdampak pada konsumsi BBM. Indonesia masih mengimpor sebagian besar bahan bakar minyak, sehingga pemakaian energi yang tinggi ikut memperbesar kebutuhan impor.

OJK dan Universitas Medan Area menilai beralih ke bus, kereta, atau berbagi kendaraan bisa membantu menekan konsumsi energi. Cara itu pada akhirnya ikut mengurangi tekanan pada devisa.

Mendukung pariwisata dalam negeri juga memberi efek serupa. Saat warga berlibur di dalam negeri, uang berputar di hotel, restoran, transportasi, dan UMKM daerah tanpa perlu mengeluarkan devisa untuk transaksi dalam mata uang asing.

Saat rupiah melemah, peluang ekspor ikut terbuka

Pelemahan rupiah tidak selalu membawa sisi negatif. Menurut UGM, kondisi ini bisa membuat produk Indonesia lebih murah di pasar internasional sehingga lebih kompetitif.

Karena itu, pelaku usaha yang bergerak di kerajinan, makanan khas, fesyen, atau produk kreatif dapat mulai mengarah ke pasar ekspor. OJK mencontohkan produk kerajinan tangan Indonesia yang sudah dikenal di berbagai negara.

Semakin banyak produk lokal menembus luar negeri, semakin besar devisa yang masuk ke Indonesia. Di saat yang sama, kepercayaan terhadap instrumen keuangan domestik dan kebiasaan belanja yang lebih berpihak pada produk lokal dapat membantu menjaga tekanan pada rupiah tetap terkendali.

Berita Terbaru