Seruan Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben Gvir agar Libanon dihancurkan memicu gelombang kecaman dan memperkeras kekhawatiran atas arah konflik di kawasan. Pernyataan itu muncul setelah tewasnya empat tentara Israel di Libanon Selatan akibat serangan Hizbullah.
Melalui unggahan di platform X, Ben Gvir menegaskan Israel tidak boleh lagi menahan diri. Ia bahkan menulis, “Seluruh Libanon harus dibakar!” dan menggambarkan tindakan keras sebagai cara untuk melenyapkan ancaman.
Tekanan diplomasi ikut meningkat
Seruan itu muncul di tengah upaya diplomatik Amerika Serikat yang sedang membahas nota kesepahaman dengan Iran untuk mengakhiri perang. Di saat yang sama, laporan terbaru menyebut ada peluang kesepakatan gencatan senjata baru antara Israel dan Libanon.
Kesepakatan tersebut dikabarkan mengemuka setelah tekanan dari pembahasan MoU AS-Iran yang menuntut penghentian segera seluruh operasi militer dan penghormatan terhadap kedaulatan Libanon. Namun, situasi politik di kabinet Israel masih rapuh.
Perdebatan di Washington dan dampaknya bagi Israel
Retorika keras pejabat Israel itu juga memicu kritik dari sejumlah tokoh politik Amerika Serikat. Mantan Presiden Donald Trump, dalam KTT G7, menilai perang Israel melawan Hizbullah berlangsung terlalu lama dan menimbulkan terlalu banyak korban sipil.
Trump mengatakan Israel tidak perlu merobohkan gedung apartemen setiap kali mencari target. Ia juga menegaskan bahwa banyak orang di area konflik bukan anggota Hizbullah.
Wakil Presiden terpilih JD Vance turut mengingatkan ketergantungan Israel pada bantuan militer AS. Vance menyebut dua pertiga senjata pertahanan Israel dalam tiga bulan terakhir diproduksi dan didanai oleh pembayar pajak Amerika.
Tekanan dari dalam negeri Israel
Di dalam negeri, sikap Ben Gvir memperkuat kekhawatiran bahwa kebijakan kabinet Benjamin Netanyahu akan makin memecah posisi Israel di mata dunia. Pemimpin oposisi Yair Lapid memperingatkan bahwa pengaruh menteri-menteri ekstremis seperti Ben-Gvir dan Smotrich berisiko merusak hubungan diplomatik Israel.
Lapid menilai hubungan Israel dengan mitra penting seperti Uni Eropa dan Amerika Serikat dapat terdampak bila pemerintah terus mengambil sikap ekstrem. Peringatan itu datang saat kabinet Israel berada di bawah tekanan besar dari dalam dan luar negeri.
Sejumlah menteri sayap kanan disebut mengancam mundur jika Netanyahu melanjutkan kesepakatan yang dianggap merugikan posisi militer Israel. Kondisi tersebut membuat prospek gencatan senjata masih sangat bergantung pada dinamika politik di Yerusalem dan hasil pembicaraan diplomatik yang sedang berlangsung.
Source: mediaindonesia.com






