Biaya Penyakit Kronis Bisa 11 Kali Lipat, Risiko Karyawan Meningkat Seiring Usia

Penyakit kronis yang disertai komorbiditas dapat membuat pengeluaran kesehatan pekerja melonjak hingga 11 kali lipat. Risiko tersebut terutama membayangi kelompok usia di atas 50 tahun, ketika penyakit kardiovaskular dan kondisi kronis mulai lebih dominan.

Rata-rata biaya kesehatan per peserta juga tercatat paling tinggi pada pekerja berusia di atas 50 tahun. Kondisi yang lebih kompleks serta kebutuhan perawatan jangka panjang menjadi faktor yang meningkatkan beban pengeluaran pada kelompok ini.

Pencegahan Menjadi Kunci Pengendalian Biaya

Halodoc mendorong perusahaan mengalihkan perhatian dari pengobatan menuju pencegahan agar risiko biaya kesehatan dapat ditekan. Skrining rutin, pemeriksaan kesehatan, aktivitas fisik, pengelolaan stres, pola hidup sehat, dan vaksinasi menjadi langkah yang disarankan.

Chief of Medical Halodoc dr. Irwan Heriyanto, MARS, menyatakan vaksin influenza dapat mengurangi kunjungan pasien hingga 66 persen. Langkah tersebut penting karena pasien dengan penyakit kronis rata-rata membutuhkan biaya tiga kali lebih besar dibandingkan pasien lain.

Upaya pencegahan perlu disesuaikan dengan risiko yang muncul pada setiap kelompok umur. Pola penyakit pekerja berubah dari gangguan akut pada usia muda menuju keluhan otot, sendi, hingga penyakit kronis saat usia bertambah.

Kelompok UsiaPola Penyakit DominanFaktor yang Disebutkan
Di bawah 30 tahunISPA dan penyakit akutMobilitas tinggi dan aktivitas di ruang publik
30-49 tahunGangguan muskuloskeletalPekerjaan fisik atau duduk terlalu lama
50 tahun ke atasPenyakit kardiovaskular dan kronisHipertensi, diabetes, dan penyakit penyerta

Keluhan Berubah dari ISPA ke Gangguan Kronis

Pekerja di bawah usia 30 tahun paling banyak menghadapi infeksi saluran pernapasan atas atau ISPA. Tingginya mobilitas serta paparan di ruang publik dan transportasi umum disebut meningkatkan peluang kelompok ini terinfeksi virus.

Keluhan ISPA yang muncul dapat berupa demam, batuk, pilek atau hidung tersumbat, serta sakit kepala. Penyakit akut tersebut menjadi pola yang berbeda dibandingkan masalah kesehatan pada pekerja yang lebih senior.

Pada rentang usia 30 hingga 49 tahun, gangguan muskuloskeletal lebih sering mendominasi. Keluhan pada otot dan sendi berkaitan dengan tuntutan kerja fisik maupun kebiasaan berada dalam posisi duduk di depan komputer dalam waktu lama.

“Kita lihat dari usia, di bawah 30 tahun banyak penyakit akut seperti infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Lalu usia 30-49 tahun didominasi gangguan muskuloskeletal, seperti penyakit otot dan sendi,” ujar Irwan dalam peluncuran laporan di Jakarta.

Sektor Energi Mencatat Beban Tertinggi

Laporan Indonesia Employee Health & Benefit Insight 2026 dari Halodoc juga memperlihatkan perbedaan pemanfaatan manfaat kesehatan antarindustri. Laporan itu menganalisis lebih dari 1 juta transaksi layanan kesehatan pada kuartal I-2026, meliputi lebih dari 3.000 diagnosis ICD-10 di lebih dari 30 sektor industri.

Sektor energi dan pertambangan mencatat pemanfaatan manfaat kesehatan tertinggi, yaitu 44 persen. Rata-rata biaya kesehatan per pesertanya mencapai Rp2,3 juta dalam periode tiga bulan.

SektorPemanfaatan ManfaatRata-rata Biaya per Peserta
Energi dan pertambangan44%Rp2,3 juta
Teknologi40%Rp1 juta
PerbankanTidak disebutkanRp680 ribu
RitelTidak disebutkanRp500 ribu
ManufakturTidak disebutkanRp465 ribu

Chief Marketing Officer Halodoc Fibriyani Elastria menyebut karakter pekerjaan yang lebih kompleks dan berisiko tinggi ikut memengaruhi biaya di sektor energi dan pertambangan. Sektor ini juga umumnya menyediakan manfaat kesehatan yang lebih lengkap bagi pekerjanya.

Kelompok usia 30 hingga 39 tahun menjadi penyumbang total pengeluaran kesehatan terbesar. Namun, perlindungan kesehatan bagi pekerja yang menua tetap perlu diperkuat karena biaya rata-rata per pesertanya lebih tinggi akibat kompleksitas penyakit yang ditangani.

Source: www.cnbcindonesia.com
Berita Terkait