Populasi monyet baru bernama Colobus congoensis telah terpisah dari kerabat terdekatnya selama jutaan tahun. Namun, wilayah hidupnya yang sempit di Republik Demokratik Kongo membuat primata ini menghadapi ancaman besar akibat penyusutan hutan.
Spesies yang oleh masyarakat setempat disebut likweli itu direkomendasikan untuk masuk kategori terancam punah dalam Daftar Merah IUCN. Rekomendasi tersebut muncul setelah identitasnya sebagai spesies tersendiri diperkuat melalui pemeriksaan genetika dan pengamatan lapangan.
Terpisah dari Kerabat yang Jauh
Kerabat terdekat likweli adalah monyet colobus hitam yang hidup di Kamerun, Gabon, dan Pulau Bioko. Kelompok kerabat itu berada sekitar 1.200 kilometer dari kawasan persebaran likweli di antara Sungai Lomami dan Lualaba.
Kate Detwiler, antropolog dari Florida Atlantic University, memperkirakan kedua garis keturunan tersebut berpisah antara 3,44 juta hingga 5,78 juta tahun lalu. Jarak pemisahan itu disebut sebagai yang terpanjang pernah tercatat dalam genus Colobus.
| Primata | Wilayah yang Disebutkan | Keterangan |
|---|---|---|
| Colobus congoensis | Antara Sungai Lomami dan Lualaba, Republik Demokratik Kongo | Spesies baru yang dikenal sebagai likweli |
| Monyet colobus hitam | Kamerun, Gabon, dan Pulau Bioko | Kerabat terdekat likweli |
Genetik Mengonfirmasi Spesies Baru
Tim peneliti menganalisis sampel jaringan dari monyet yang mati di tangan pemburu. Sampel itu kemudian dibandingkan dengan koleksi museum dan data genetik monyet colobus lain.
Hasil analisis menunjukkan likweli bukan sekadar populasi lokal dari spesies yang sudah dikenal. Bagian genom mitokondria primata tersebut sangat berbeda dari monyet colobus lainnya.
Detwiler mengatakan laboratoriumnya menerima sampel jaringan untuk diuji secara genetik. “Kami terkejut melihat betapa berbedanya bagian genom mitokondria monyet ini dari monyet colobus lainnya,” ujarnya.
Penanda Fisik yang Sangat Khas
Likweli memiliki bulu hitam mengilap dengan warna oranye mencolok di sekitar mulut dan hidung. Pipi hewan ini juga memperlihatkan kulit abu-abu tanpa bulu yang tampak seperti topeng.
Penanda lain terlihat pada bagian belakang tubuhnya, yakni bercak putih di sekitar anus. Detwiler menyebut wajah dan bagian belakang tubuh sebagai dua ciri utama untuk membedakan likweli dari colobus lain.
“Kalau melihat wajahnya, akan terlihat kulit telanjang berwarna krem oranye ini. Kemudian kalau dilihat dari belakang, akan tampak bercak putih tersebut,” kata Detwiler.
Petunjuk Berawal dari Warga Desa
Jejak awal likweli terekam secara buram oleh kamera di Taman Nasional Lomami pada 2008. Hewan serupa kembali tertangkap kamera sepuluh tahun kemudian dan mendorong pencarian yang lebih serius.
Junior Amboko, peneliti Taman Nasional Lomami dan antropolog Florida Atlantic University, membawa foto primata itu kepada penduduk sekitar taman. Gambar tersebut diperlihatkan kepada warga di 52 desa.
Hanya penduduk dari delapan desa yang mengenali monyet itu, termasuk para pemburu yang memahami fauna hutan setempat. Pengetahuan lokal tersebut membantu mengarahkan peneliti pada populasi yang sebelumnya belum tercatat sebagai spesies tersendiri.
Penemuan likweli menjadikannya spesies monyet Afrika kelima yang baru diidentifikasi dalam 75 tahun terakhir. Status baru itu sekaligus menyoroti pentingnya menjaga hutan terpencil yang menjadi satu-satunya ruang hidup primata tersebut.







