Bom Rakitan di MAN 3 Padang Meledak Sekali, Daya Ledaknya Ternyata Rendah

Densus 88 Antiteror Polri memastikan ledakan di MAN 3 Padang hanya berasal dari satu bom rakitan dengan daya ledak rendah. Ledakan itu terjadi di samping kelas dan tidak menimbulkan korban jiwa maupun luka.

Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri Komisaris Besar Polisi Mayndra Eka Wardhana menyampaikan bahwa dari beberapa bom rakitan yang diduga dibuat pelajar berinisial R atau RGJ yang berusia 17 tahun, hanya satu perangkat yang sempat meledak. “Dari beberapa bom rakitan yang dibuat hanya satu meledak (low explosive) di samping kelas,” katanya pada Rabu, 15 Juli 2026.

Peristiwa itu sempat memicu kepanikan di lingkungan sekolah karena ledakan terdengar di area dekat ruang kelas. Namun, polisi menegaskan situasi tidak berkembang menjadi insiden yang menimbulkan korban.

Barang bukti yang diamankan

Kasus ini mulai terungkap ketika petugas keamanan sekolah menemukan barang mencurigakan di lingkungan MAN 3 Padang sekitar pukul 11.30 WIB. Temuan tersebut kemudian diamankan sebelum diteruskan kepada aparat kepolisian untuk penyelidikan lebih lanjut.

Barang yang diamankanKeterangan
Kotak hitamTermasuk barang yang disita penyidik
Tas hitamDiduga berkaitan dengan perakitan bom
Telepon genggamDiamankan bersama barang lain
Petasan, pisau, anak panah, kelereng, bautMasuk daftar barang bukti penyidikan

Polisi menyebut sejumlah barang itu diduga milik R. Penyidik masih mendalami apakah ada target tertentu yang hendak disasar dalam rencana aksi tersebut.

“Identitas korban yang disebut sebagai sasaran rencana tindakan berasal dari keterangan pelaku dan masih memerlukan pendalaman,” ujar Mayndra.

Diduga belajar merakit dari internet

Densus 88 sebelumnya mengungkap bahwa ledakan di Madrasah Aliyah Negeri 3 Koto Tangah, Padang, Sumatra Barat, terjadi pada Selasa, 14 Juli 2026. Dalam pemeriksaan sementara, pelajar itu mengaku belajar merakit bahan peledak melalui internet.

Polisi juga menyebut remaja tersebut terinspirasi oleh peristiwa ledakan di SMAN 72 Jakarta pada 2025. Hingga kini, penyelidikan masih berfokus pada rangkaian barang bukti, pengakuan pelaku, dan kemungkinan adanya sasaran yang sudah direncanakan sebelumnya.

Source: www.viva.co.id
Berita Terkait