Fenomena pamer berlebihan di media sosial kembali menjadi sorotan setelah Muhaimin Iskandar atau Cak Imin menyinggung perilaku sejumlah mitra program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menilai, sebagian pelaku usaha baru yang tumbuh dari ekosistem program tersebut sebaiknya tidak menonjolkan pendapatan secara berlebihan karena berpotensi menimbulkan salah paham di publik.
Pernyataan itu disampaikan saat Cak Imin menghadiri acara satu tahun MBG terhadap pemberdayaan masyarakat di Kantor Kemenko Pemberdayaan Masyarakat, Jakarta. Dari acara itu, perhatian tertuju bukan hanya pada capaian program, tetapi juga pada dampak sampingannya yang ikut melahirkan gelombang pelaku usaha baru di daerah.
Program MBG dan lahirnya pengusaha baru
Cak Imin menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis tidak berhenti pada urusan penyediaan pangan. Skema yang berjalan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG di bawah koordinasi Badan Gizi Nasional itu juga memunculkan rantai ekonomi baru.
Sejumlah usaha baru ikut tumbuh karena perputaran aktivitas yang terbangun dari program tersebut. Dalam pandangan Cak Imin, perkembangan ini menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah bisa memberi efek turunan yang lebih luas dari sekadar pemenuhan gizi bagi masyarakat.
Ia juga mengakui bahwa kemunculan pengusaha baru dari MBG merupakan fakta yang terlihat di lapangan. Namun, menurut dia, tidak semua pelaku usaha baru mampu menjaga sikap ketika mulai merasakan keuntungan dari peluang ekonomi itu.
Sorotan pada konten flexing di media sosial
Cak Imin mengatakan dirinya kerap melihat konten pamer berlebihan di media sosial, baik dari pantauan langsung maupun laporan yang masuk ke kantornya. Pola itu disebut banyak dilakukan oleh pelaku usaha baru yang baru mendapatkan dampak ekonomi dari ekosistem MBG.
Menurut dia, euforia semacam itu cukup wajar karena ada rasa berhasil setelah mendapat kesempatan usaha. Meski begitu, euforia tersebut tetap perlu dikendalikan agar tidak berubah menjadi polemik yang tidak perlu di ruang publik.
Ia menilai, unggahan yang terlalu menonjolkan kemewahan justru dapat memantik respons negatif dari masyarakat. Dalam situasi seperti itu, jarak persepsi antara pelaku usaha yang sedang tumbuh dan publik yang melihat dari luar bisa semakin lebar.
Arahan agar keberhasilan tidak jadi bahan kontroversi
Cak Imin berharap para mitra MBG menjadikan pencapaian mereka sebagai dorongan untuk memperkuat kualitas kerja. Bukan sebaliknya, menjadikan pendapatan atau keberhasilan sebagai bahan unjuk kemewahan di media sosial.
Berikut pokok pesan yang disampaikan kepada mitra MBG:
- Fokus pada kualitas layanan dan produk.
- Hindari unggahan yang menonjolkan kemewahan secara berlebihan.
- Gunakan media sosial untuk promosi yang profesional.
- Jaga komunikasi publik agar tidak menimbulkan salah paham.
- Tampilkan keberhasilan sebagai hasil kerja, bukan sumber kontroversi.
Ia menilai cara seperti itu lebih sejalan dengan semangat pemberdayaan yang ingin dibangun melalui program pemerintah. Di saat yang sama, langkah tersebut juga dinilai lebih aman untuk menjaga reputasi usaha di tengah perhatian publik yang mudah berubah.
Reputasi usaha di era media sosial
Dalam pandangan Cak Imin, satu unggahan yang dinilai tidak sensitif dapat cepat memicu kritik, terlebih jika berkaitan dengan program publik. Karena itu, pelaku usaha baru didorong untuk lebih berhati-hati saat membangun citra di ruang digital.
Pesan yang ingin ditekankan adalah agar mitra MBG mensyukuri peluang yang ada, lalu mengelolanya dengan inovasi dan komunikasi publik yang lebih bijak. Sikap seperti itu dinilai penting supaya pertumbuhan usaha yang lahir dari program MBG tetap selaras dengan tujuan pemberdayaan masyarakat.
Source: www.suara.com






