Catatan Kelam di Balik Gigi Palsu George Washington, Diduga Berasal dari Orang Diperbudak

Gigi palsu George Washington tidak sekadar menyimpan cerita tentang teknologi medis kuno. Di balik alat yang dipakai presiden pertama Amerika Serikat itu, terdapat catatan pembayaran untuk sembilan gigi dari orang-orang yang diperbudak di propertinya.

Catatan yang disorot Kompas.com menyebut Washington membayar 122 shilling pada Mei 1784 kepada beberapa orang yang diperbudak. Nama mereka tidak tercantum, sehingga asal dan penggunaan pasti sembilan gigi tersebut masih menjadi perdebatan.

Sejumlah sejarawan menduga gigi itu berkaitan dengan pesanan gigi palsu Washington kepada Jean-Pierre Le Mayeur, dokter gigi asal Prancis yang dekat dengannya. Kemungkinan lain, gigi tersebut digunakan dalam percobaan pencangkokan gigi yang tidak berhasil.

Praktik jual beli gigi manusia memang dikenal di Amerika Serikat pada abad ke-18. Sebuah iklan pada 1787 di Virginia Independent Chronicle bahkan mencari penjual gigi depan dari orang kulit putih atau kulit hitam, tetapi mengecualikan budak.

Bukan Terbuat dari Kayu

Jejak perbudakan itu semakin kontras dengan mitos yang paling lama melekat pada Washington, yakni bahwa gigi palsunya dibuat dari kayu. Mitos tersebut tidak benar karena kayu justru disebut sebagai bahan yang tidak pernah digunakan untuk perangkat giginya.

Set gigi palsu yang masih tersisa memperlihatkan campuran gigi manusia, gigi kuda, dan gading. Bahan-bahan itu dipasang pada dasar timah dengan kawat kuningan, bukan pada rangka kayu seperti anggapan populer.

BagianInformasi
Jumlah perangkatBeberapa set berbeda sepanjang hidupnya
Set lengkap terakhirDigunakan setelah gigi terakhirnya tanggal pada 1796
Bahan gigiGigi kuda nil, gading, gigi kuda dan sapi, gading walrus, serta gigi manusia
Rangka perangkat tersisaTimah, kawat kuningan, dan mekanisme pegas emas

Dokter gigi pada masa itu menganggap gigi kuda nil lebih tahan terhadap pembusukan dan noda. Washington juga menyimpan gigi copot miliknya sendiri agar dapat dipakai kembali dalam perangkat yang dipesannya.

Warna gelap pada gigi palsu Washington kemudian membantu melanggengkan salah paham mengenai bahan kayu. Ia tetap minum anggur port ketika mengenakan alat tersebut, sehingga permukaannya menjadi kusam dan berubah warna.

Alat Penting untuk Tampil di Depan Publik

Gigi palsu abad ke-18 belum memungkinkan pemakainya makan atau minum dengan nyaman. Dokter gigi bahkan menyarankan pengguna untuk tidak makan dan minum saat memakai gigi tiruan.

Washington mengikuti anjuran untuk tidak makan dengan alat itu, dan pergerakan perangkatnya saat makan malam pernah digambarkan “seperti stik drum”. Namun, ia tetap membutuhkan gigi palsu untuk membantu pengucapan kata ketika tampil di hadapan publik.

Peran Washington sebagai panglima dan kemudian presiden menuntut kemampuan berbicara yang jelas. Perangkat tersebut juga menopang citra fisik seorang pemimpin pada masa ketika penampilan utuh dipandang penting.

Beberapa orang sezamannya mencatat bahwa ucapannya kadang sulit dipahami, sementara yang lain menilai ia tetap fasih. Potret Gilbert Stuart memperlihatkan rahang Washington yang sedikit menonjol, efek fisik yang dikaitkan dengan penggunaan gigi palsu.

Masalah Gigi Sejak Usia Muda

Washington mulai kehilangan gigi sejak berusia 24 tahun meski cukup disiplin merawat mulut. Ia membeli sikat gigi, pasta dan bubuk gigi, serta tingtur mur yang digunakan seperti obat kumur awal.

Penyebab kerusakan giginya tidak dipastikan secara tuntas. Washington pernah mengaitkannya dengan kebiasaan memecahkan kenari menggunakan gigi, sedangkan riwayat cacar dan pengobatan merkuri juga diduga turut memperburuk kondisi mulutnya.

The Collector mencatat perawatan cacar abad ke-18 kerap memakai merkuri dalam jumlah besar yang dapat menyebabkan gigi tanggal. Catatan keuangan menunjukkan Mary Washington membeli merkuri pada 1752 untuk mengobati bekas luka cacar putranya.

Dari persoalan medis pribadi, gigi palsu Washington akhirnya menjadi simbol sejarah Amerika yang berlapis. Perangkat itu berbicara tentang keterbatasan kedokteran, tuntutan citra politik, dan kemungkinan eksploitasi terhadap orang-orang yang diperbudak.

Berita Terkait