CYBR Naik 354 Persen Setahun, Stock Split Dan Kontrak Rp 1 Triliun Jadi Pendorong Utama

Author: Redaksi Android62

Pergerakan saham PT ITSEC Asia Tbk (CYBR) menjadi perhatian pasar setelah emiten tersebut mengesahkan stock split dengan rasio 1 banding 2. Keputusan itu membuat nilai nominal saham turun dari Rp 25 menjadi Rp 12,5 per saham, sekaligus menambah jumlah saham beredar menjadi 13.430.497.494 unit dari sebelumnya 6.715.248.747 unit.

Di saat yang sama, sentimen terhadap CYBR juga terdorong oleh kabar bahwa anak usahanya memperoleh kontrak kerja sama strategis senilai 60 juta dollar AS atau setara Rp 1 triliun. Kombinasi dua peristiwa ini membuat saham CYBR makin masuk radar pelaku pasar.

Langkah perusahaan untuk memperluas jangkauan investor

Manajemen ITSEC Asia memandang stock split sebagai upaya untuk membuka akses yang lebih luas bagi investor ritel. Dengan harga teoritis per saham yang menjadi lebih rendah setelah penyesuaian, perseroan berharap minat investor dapat bertambah.

Tujuan lain yang ditekankan perusahaan adalah meningkatkan likuiditas perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. Aktivitas transaksi yang lebih ramai dinilai penting agar saham lebih mudah diperdagangkan oleh pasar.

Presiden Direktur PT ITSEC Asia Tbk, Patrick Rudolf Dannacher, menyebut keputusan RUPSLB tersebut sebagai bentuk komitmen perseroan dalam memperkuat struktur modal internal. Ia juga menegaskan bahwa perusahaan ingin memberi akses lebih luas kepada masyarakat terhadap saham CYBR.

“Seiring dengan percepatan transformasi digital di Indonesia, kebutuhan terhadap cybersecurity akan semakin meningkat,” ujar Patrick Rudolf Dannacher.

Ia menambahkan bahwa perusahaan menyiapkan teknologi, tata kelola, dan organisasi agar dapat tumbuh secara berkelanjutan. Arah itu menunjukkan bahwa stock split bukan sekadar penyesuaian teknis, tetapi juga bagian dari strategi perusahaan untuk menyambut pertumbuhan bisnis ke depan.

Saham CYBR sudah lebih dulu mencuri perhatian

Sebelum stock split dijalankan, saham CYBR memang sudah menunjukkan pergerakan yang sangat kuat. Data pasar mencatat kenaikannya mencapai 354,43 persen dalam setahun terakhir.

Pada awal Januari 2026, harga saham tersebut bahkan sempat menyentuh Rp 1.845 per saham sebelum penyesuaian harga akibat stock split dilakukan. Lonjakan itu membuat CYBR semakin menonjol di tengah pengamatan investor terhadap emiten teknologi dan keamanan siber.

Pergerakan yang agresif seperti ini kerap dipandang pasar sebagai hasil dari kombinasi ekspektasi pertumbuhan dan sentimen positif yang mengiringi kabar fundamental perusahaan. Dalam kasus CYBR, perhatian investor tidak hanya tertuju pada aksi korporasi, tetapi juga pada prospek bisnis yang dinilai semakin kuat.

Kontrak strategis anak usaha ikut memberi dorongan

Dorongan sentimen juga datang dari PT ITSEC Cyber Academy, anak usaha ITSEC Asia, yang menandatangani perjanjian kerja sama strategis dengan PT Republik Technetronic Nusantara. Perusahaan tersebut disebut sebagai penyedia layanan bagi Kementerian Pertahanan RI.

Nilai kontraknya mencapai 60 juta dollar AS atau setara Rp 1 triliun. Direktur PT ITSEC Asia Tbk, Doni Mora, menyampaikan bahwa perusahaan menduga keterbukaan informasi mengenai kontrak material itu ikut memicu respons positif dari investor.

“Perusahaan menduga ini menjadi respons pasar yang positif terhadap keterbukaan informasi mengenai kontrak bernilai material tersebut,” ujar Doni Mora.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa pasar tidak hanya membaca stock split sebagai aksi korporasi biasa. Investor juga menilai adanya peluang pendapatan dari kerja sama strategis di bidang pertahanan dan keamanan siber.

Perubahan internal dan arah bisnis tetap dijaga

Selain menyetujui stock split, RUPSLB juga mengesahkan perubahan anggaran dasar terkait tugas direksi. Rapat tersebut juga mencatat wafatnya Direktur Bima Kurniawan pada 14 Februari 2026, sehingga susunan pengurus perusahaan ikut menyesuaikan.

Dalam struktur terbaru, Patrick Rudolf Dannacher tetap menjabat sebagai Presiden Direktur bersama jajaran direksi lainnya. Penataan ini menandai upaya perusahaan menjaga kesinambungan operasional sambil tetap fokus pada pengembangan bisnis.

ITSEC Asia sendiri masih bertumpu pada layanan keamanan siber untuk berbagai sektor vital nasional. Di sisi lain, perusahaan juga mengandalkan platform lokal IntelliBro sebagai bagian dari strategi pengembangan jangka panjang di pasar Asia, sementara stock split dan kontrak strategis membuat CYBR semakin diperhatikan pelaku pasar.

Berita Terbaru