Dakar Jadi Penentu Cepat Wabah Hantavirus, Dalam Sehari Genom Parsial Terungkap

Author: Redaksi Android62

Dalam penanganan dugaan wabah hantavirus di atas kapal pesiar yang berlayar dekat Cape Verde, laboratorium di Dakar justru menjadi salah satu titik paling penting. Institut Pasteur de Dakar bergerak cepat untuk menjawab dua pertanyaan krusial, yaitu seberapa berbahaya penularannya dan ke mana pelacakan kontak harus diarahkan.

Kecepatan itu sangat menentukan karena hantavirus memiliki masa inkubasi yang bisa mencapai enam minggu. Saat informasi awal belum lengkap, hasil laboratorium dalam hitungan jam dapat membantu menentukan langkah klinis, pelacakan, dan pembatasan risiko penyebaran lanjutan.

Respons kilat dari Dakar

Pesawat yang membawa tim dan sampel tiba di Senegal pada dini hari 5 Mei. Sejak saat itu, para peneliti langsung memeriksa spesimen dari kasus yang dicurigai di kapal yang sempat singgah di beberapa pulau terpencil.

Sampel diproses di fasilitas biokontainmen khusus. Tim menonaktifkan spesimen terlebih dahulu, lalu menganalisis droplet dengan mesin sekuensing untuk memetakan genom virus.

Dalam 24 jam, laboratorium di Dakar sudah menghasilkan genom parsial. Hasil itu menunjukkan bahwa penyakit pada penumpang, yakni kasus kelima dan keenam, adalah strain Andes dari hantavirus.

Hasil yang segera mengubah arah penanganan

Strain Andes dikenal dapat menyebar lewat kontak dekat antarmanusia. Karena itu, temuan dari Dakar langsung penting untuk menentukan tindak lanjut pelacakan kontak dan penanganan klinis.

Pada awal 6 Mei, hasil tersebut dikirim ke Organisasi Kesehatan Dunia. Pada hari yang sama, laboratorium di Afrika Selatan dan Swiss juga mencapai kesimpulan serupa dari sampel pasien lain.

WHO kemudian mengumumkan temuan itu dalam konferensi pers. Kontribusi laboratorium di Afrika Barat sebelumnya tidak dijelaskan secara rinci, meski perannya menunjukkan betapa pentingnya jaringan riset lintas negara saat wabah bergerak cepat.

Mengapa kecepatan menjadi penentu

Dr. Moussa Moise Diagne, virolog dan kepala platform sekuensing di Institut Pasteur, menegaskan bahwa kapasitas deteksi di berbagai wilayah dunia sangat penting. Ia juga menilai hasil cepat amat krusial untuk penanganan klinis dan pelacakan kontak.

Diagne menggambarkan situasi di Dakar sebagai kerja yang dimulai sejak pukul 3 pagi. Di tengah tekanan waktu, tim harus bergerak cepat karena setiap jam yang terlambat bisa memperlebar peluang penularan.

Di atas kapal pesiar ekspedisi MV Hondius itu terdapat sekitar 150 orang dari 23 negara. Otoritas masih harus mencari tahu di mana dan kapan infeksi pertama terjadi, termasuk karena kapal sempat singgah di pulau-pulau Atlantik terpencil dan tiga penumpang telah meninggal.

Jejaring laboratorium yang sudah terbiasa menghadapi wabah

Institut Pasteur adalah yayasan internasional berbasis di Prancis. Di sub-Sahara Afrika, lembaga ini memegang peran sentral dalam respons terhadap wabah penyakit menular.

Pusatnya di Senegal telah mendukung sekitar 20 negara selama pandemi COVID-19. Lembaga itu juga membantu respons terhadap Marburg di Guinea dan Ebola di Republik Demokratik Kongo, termasuk mendorong pengembangan tes cepat untuk wabah yang sedang berlangsung.

Untuk memeriksa pasien di atas kapal di Cape Verde, WHO mengambil perlengkapan dari laboratorium tersebut dan menyewa pesawat untuk mengangkut tim ke kepulauan itu. Para peneliti kemudian kembali membawa spesimen dalam kemasan tiga lapis, dimasukkan ke tabung uji, dibungkus plastik, lalu ditempatkan dalam kotak kardus bertanda peringatan.

Dari genom parsial ke pemetaan utuh

Pada 8 Mei, genom utuh virus sudah berhasil dipetakan dan dibandingkan oleh laboratorium di berbagai negara untuk mencari mutasi yang dapat memengaruhi perilaku virus. Dalam penilaian awal, tidak ditemukan mutasi signifikan dibandingkan wabah 2018–19 di Argentina.

Temuan itu memberi sinyal penting ketika kasus ini masih menimbulkan banyak pertanyaan. Terutama karena infeksi terjadi di atas kapal yang berpindah-pindah lokasi dan para pejabat masih harus memastikan jendela paparan awal.

Diagne menilai sekuensing membantu memahami kekuatan penularan. Ia juga menekankan bahwa yang paling penting saat ini adalah mengetahui jendela paparan di Amerika Latin, karena jawaban itu dapat membantu mencegah penyebaran lanjutan di luar wilayah endemik.

Tekanan pada jaringan global

Wabah hantavirus ini, yang kemudian disusul darurat Ebola yang menyebar cepat di Afrika tengah, kembali menyoroti peran jaringan laboratorium global. Banyak di antaranya, termasuk Institut Pasteur, baru saja kehilangan pendanaan untuk pencegahan pandemi.

Salah satu contohnya adalah keputusan National Institutes of Health Amerika Serikat untuk menghentikan pendanaan bagi Centers for Research in Emerging Infectious Diseases Network, inisiatif global yang mencakup sebuah pusat di Afrika Barat. Sebuah proyek percontohan tentang cara hantavirus menginfeksi manusia juga dibatalkan.

Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS menyatakan tetap berkomitmen menangani ancaman penyakit menular global. Seorang juru bicara juga mengatakan anggapan bahwa Amerika Serikat mundur dari keamanan kesehatan global tidak mencerminkan kenyataan keterlibatan dan dukungan internasional yang masih berjalan.

Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru