Jawa Tengah mulai menempatkan Selandia Baru sebagai mitra yang menjanjikan untuk sejumlah kebutuhan penting daerah, terutama pangan, energi, pendidikan, dan pengembangan industri hijau. Arah pembicaraan ini muncul dari pertemuan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dengan Duta Besar Selandia Baru untuk Indonesia, Philip Nathan Taula, di Semarang.
Pembahasan yang berlangsung tidak berhenti pada peluang kerja sama umum. Sejumlah sektor yang dinilai langsung terkait dengan kebutuhan warga ikut masuk meja diskusi, sehingga penjajakan ini punya bobot lebih dari sekadar pertemuan diplomatik biasa.
Peternakan jadi titik awal yang paling menonjol
Salah satu isu yang paling kuat mengemuka adalah peternakan. Ahmad Luthfi melihat pengalaman Selandia Baru sebagai rujukan penting untuk pengembangan domba dan sapi di Jawa Tengah.
Ia menyoroti kondisi Selandia Baru yang memiliki sekitar 28 juta ekor ternak dengan jumlah penduduk sekitar 5 juta jiwa. Dari situ, Jawa Tengah melihat ruang belajar yang besar, terutama untuk memperkuat pasokan susu dan daging.
Kaitan sektor ini juga terasa langsung dengan kebutuhan daerah. Pasokan susu dan daging dinilai mendukung program makan bergizi gratis, sehingga kerja sama peternakan tidak hanya dibaca sebagai urusan ekonomi, tetapi juga sebagai penopang kebutuhan pangan.
Energi bersih ikut dibuka sebagai jalur kerja sama
Selain peternakan, Jawa Tengah dan Selandia Baru juga membahas energi baru terbarukan. Topik ini sejalan dengan dorongan Pemprov Jateng terhadap ekonomi hijau dan industri hijau yang kini menjadi arah penting pembangunan daerah.
Philip Nathan Taula menanggapi pembahasan itu dengan menggarisbawahi pengalaman negaranya dalam pemanfaatan panas bumi. Ia menyebut sekitar 30 persen tenaga listrik di Selandia Baru sudah berasal dari energi panas bumi.
Bagi Jawa Tengah, pembicaraan soal energi bersih ini memberi peluang untuk memperluas kerja sama yang relevan dengan kebutuhan jangka panjang. Energi hijau menjadi bagian dari agenda yang dipandang sejalan dengan penguatan sektor lain, bukan berdiri sendiri.
Agrikultur, perikanan, dan sapi perah ikut masuk pembahasan
Ruang kerja sama yang dibahas tidak hanya terbatas pada peternakan sapi dan domba. Agrikultur dan perikanan juga ikut menjadi bagian dari penjajakan antara kedua pihak.
Philip menyampaikan bahwa pembicaraan itu mencakup pengembangan ternak sapi perah. Sementara itu, Ahmad Luthfi menawarkan potensi perikanan yang dimiliki kampung-kampung nelayan di wilayah pesisir Jawa Tengah.
Kombinasi sektor-sektor tersebut memberi gambaran bahwa kerja sama yang disusun tidak hanya menyasar investasi. Ada juga upaya memperkuat rantai pasok pangan yang terhubung dengan kondisi ekonomi daerah.
Pendidikan dan budaya memperkuat hubungan yang sudah ada
Di luar sektor ekonomi, kerja sama kedua pihak juga menyentuh pendidikan. Ahmad Luthfi menyebut sudah ada kolaborasi antara Selandia Baru dan sejumlah perguruan tinggi di Jawa Tengah, termasuk Universitas Diponegoro.
Ia juga meminta Dinas Pendidikan Provinsi menjajaki peluang agar pelajar atau mahasiswa Jawa Tengah bisa belajar di Selandia Baru. Langkah ini dipandang sebagai bagian dari penguatan sumber daya manusia yang memang menjadi perhatian dalam pembangunan daerah.
Philip menambahkan bahwa banyak orang Indonesia sudah belajar pemanfaatan panas bumi di negaranya melalui berbagai kursus. Selain itu, peluang kolaborasi di bidang budaya juga ikut disambut dalam pertemuan tersebut.
Kedekatan lama yang diberi ruang baru
Ahmad Luthfi menilai Indonesia dan Selandia Baru sudah memiliki hubungan yang lama dan dekat. Ia bahkan menyinggung adanya kemiripan sejumlah kosakata dalam bahasa kedua negara sebagai salah satu penanda kedekatan budaya.
Dari sisi Jawa Tengah, kedekatan itu menjadi modal penting untuk membuka kerja sama yang lebih konkret di lapangan. Dengan pertemuan kebutuhan pangan, energi, pendidikan, agrikultur, dan industri hijau, Selandia Baru kini diposisikan sebagai mitra potensial untuk langkah baru daerah tersebut.
Source: jateng.antaranews.com