Realisasi investasi Jawa Tengah sepanjang 2025 mencapai Rp110,64 triliun dan menyerap lebih dari 418 ribu tenaga kerja. Capaian itu menjadi alasan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meminta forum bisnis tidak berhenti sebagai agenda seremonial.
Luthfi menegaskan pertemuan antara pemerintah dan pelaku usaha harus menghasilkan investasi, kerja sama konkret, serta lapangan kerja yang manfaatnya dapat diukur masyarakat. Pesan tersebut disampaikan saat pembukaan Tegal Business Forum 2026 di Shangri-la Land Convention Hall, Kota Tegal, Selasa (21/7/2026).
Ukuran Forum Ada pada Realisasi
Menurut Luthfi, kemegahan penyelenggaraan tidak dapat dijadikan ukuran keberhasilan forum investasi. Pemerintah daerah perlu memastikan adanya peluang usaha yang ditawarkan, kesepakatan kerja sama, dan tindak lanjut yang jelas.
“Business forum harus berorientasi pada hasil, jangan hanya orientasi kegiatan. Harus ada yang dijual kepada pelaku usaha, kemudian ada MoU atau kerja sama, sehingga hasilnya jelas dan dapat diukur,” kata Luthfi.
Penekanan itu muncul di tengah tekanan ekonomi global dan keterbatasan ruang fiskal pemerintah. Daerah, menurutnya, tidak dapat semata-mata mengandalkan APBD untuk menggerakkan pembangunan dan memperluas aktivitas ekonomi.
APBD Provinsi Jawa Tengah sekitar Rp23 triliun harus dibagi untuk kebutuhan 35 kabupaten dan kota. Anggaran tersebut mencakup pelayanan dasar hingga infrastruktur, sehingga keterlibatan dunia usaha menjadi bagian penting dalam strategi pembangunan.
| Wilayah dan Periode | Realisasi Investasi | Capaian |
|---|---|---|
| Jawa Tengah 2025 | Rp110,64 triliun | Lebih dari 418 ribu tenaga kerja terserap |
| Jawa Tengah Triwulan I 2026 | Rp23,02 triliun | Sekitar 92 ribu tenaga kerja terserap |
| Kota Tegal 2025 | Rp791,67 miliar | 132 persen dari target |
Tegal Disiapkan Menjadi Pusat Pertumbuhan
Kota Tegal dipandang memiliki modal untuk tumbuh sebagai pusat ekonomi di Pantura bagian barat. Potensi maritim, perdagangan, jasa, kuliner, dan kewirausahaan dinilai perlu dikemas sebagai penawaran yang menarik bagi investor.
Pemerintah Kota Tegal juga berharap aset dan lahan strategis dapat berkembang menjadi pusat kegiatan ekonomi baru. Kota ini kembali masuk 10 besar daerah dengan realisasi investasi tertinggi di Jawa Tengah pada Triwulan I 2026.
Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada Triwulan I 2026 tercatat 5,89 persen. Angka tersebut berada di atas rata-rata nasional yang mencapai 5,61 persen.
Forum bertema “Amazing Tegal, Amazing Investment, and Amazing Service” itu mempertemukan sekitar 100 pengusaha besar. Kegiatan tersebut juga diikuti 100 pelaku usaha kuliner, restoran, kafe, dan lounge, serta perwakilan sekitar 20 perusahaan penanaman modal asing.
Kepala Daerah Diminta Aktif Menawarkan Potensi
Luthfi meminta para bupati dan wali kota berperan sebagai marketing manager bagi wilayah masing-masing. Kepala daerah perlu aktif menawarkan peluang usaha, memberi kepastian kepada investor, dan menyelesaikan hambatan yang muncul.
Langkah itu sejalan dengan strategi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam membangun pusat pertumbuhan baru di setiap wilayah eks-karesidenan. Pusat-pusat ekonomi tersebut diharapkan saling terhubung dan memperkuat ekonomi regional.
Dampak investasi juga diminta tidak hanya dinikmati perusahaan besar. Luthfi menekankan pertumbuhan ekonomi harus menjangkau sekitar 4,9 juta pelaku UMKM di Jawa Tengah.
Bank Jateng diminta memperluas pembiayaan pada sektor produktif dan tidak hanya bergantung pada transaksi pemerintah. Direktur Utama Bank Jateng Bambang Widyatmoko mengatakan dana yang dihimpun akan disalurkan bagi usaha mikro, kecil, menengah, hingga komersial.
Infojateng.id melaporkan bahwa tindak lanjut forum akan diukur melalui investasi yang terealisasi, penciptaan lapangan kerja, dan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Dengan ukuran tersebut, forum bisnis diharapkan menjadi pintu masuk kegiatan ekonomi yang benar-benar berjalan.
