Dealer Honda Mulai Pindah Ke Merek China, Penjualan Turun 37 Persen Di Indonesia

Author: Redaksi Android62

Tekanan yang dihadapi Honda di Indonesia tidak lagi hanya terlihat dari angka penjualan yang melemah. Di saat penjualan turun tajam, sebagian dealer juga disebut mulai bergeser menjadi dealer mobil China, sehingga posisi Honda di pasar ikut makin terjepit.

Perubahan itu memperlihatkan bahwa tantangan Honda datang dari dua arah sekaligus. Di satu sisi, pasar mobil nasional masih bergerak relatif tenang tanpa penurunan ekstrem, tetapi di sisi lain Honda justru kehilangan tenaga lebih cepat dibanding kondisi pasar secara umum.

Dealer mulai bergeser

Pelemahan Honda tidak berhenti pada penjualan yang menurun. Jaringan distribusi juga ikut berubah karena tidak sedikit dealer Honda yang kemudian beralih menjadi dealer mobil China.

Kondisi ini menjadi sinyal bahwa persaingan di pasar roda empat Indonesia semakin keras. Saat jaringan penjualan ikut bergeser, Honda tidak hanya kehilangan momentum, tetapi juga menghadapi perubahan peta distribusi yang tidak lagi sepenuhnya mendukung posisinya.

Penjualan turun di dua jalur

Gejala tekanan pada Honda sebenarnya sudah terlihat sejak tahun lalu. Penjualan wholesales Honda hanya mencapai 56,5 ribu unit, turun 40,4 persen dibanding 2024 yang menembus 94 ribu unit.

Di jalur retail, penurunannya juga jelas. Penjualan retail Honda turun 30,9 persen dari 103.023 unit menjadi 71.233 unit, sehingga pelemahan terjadi sekaligus di sisi distribusi dan penjualan ke konsumen akhir.

Pasar bergerak, Honda tertinggal

Sementara Honda merosot, pasar mobil nasional disebut masih berada dalam kondisi yang relatif stabil. Artinya, masalah yang dihadapi Honda bukan semata-mata karena pasar yang jatuh, melainkan karena posisinya sendiri yang makin tertekan.

Salah satu faktor yang ikut memperbesar tekanan itu adalah ekspansi merek mobil asal China. Merek-merek baru tersebut terus memperbesar penjualan di Indonesia dan membuat kompetitor lain semakin tertinggal.

Harga masih jadi beban

Di tengah persaingan yang makin ketat, Honda masih membawa stigma sebagai merek dengan harga mobil yang mahal. Stigma ini dinilai ikut mengurangi daya tarik produk Honda, terutama ketika konsumen semakin sensitif terhadap harga.

Brio masih menjadi satu-satunya mobil murah yang dijual Honda, terutama lewat model LCGC Satya yang selama ini diunggulkan. Namun di luar itu, sebagian besar model Honda sudah berada di atas Rp 500 jutaan.

Pilihan murah belum cukup banyak

Komposisi harga seperti itu membuat Honda belum punya cukup banyak opsi yang ramah di kantong untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Daftar model dengan banderol tinggi mencakup HR-V, Step WGN, hingga Prelude yang baru dirilis.

Honda memang masih punya lini produk yang lengkap, mulai dari SUV, MPV, sedan, hingga hatchback. Namun ragam model tersebut belum cukup untuk menahan pelemahan penjualan yang sudah berlangsung selama setahun terakhir.

Situasi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap Honda bukan hanya soal angka penjualan yang turun. Tantangan utamanya kini ada pada daya saing harga, perubahan jaringan dealer, dan kemampuan bertahan di pasar yang makin kompetitif.

Source: ridertua.com
Berita Terbaru