Derivatif COIN Melonjak 125 Persen Saat Transaksi Spot Kripto Melemah Tajam

Author: Redaksi Android62

Tekanan pasar kripto global langsung tercermin pada kinerja PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN). Pada kuartal I-2026, perusahaan membukukan pendapatan Rp41,49 miliar, turun 18 persen dari Rp50,63 miliar pada kuartal I-2025.

Pelemahan itu tidak hanya terjadi pada pendapatan. EBITDA dan laba bersih COIN juga masih berada di zona negatif, menandakan aktivitas perdagangan aset digital belum pulih sepenuhnya.

Pasar global menjadi penekan utama

COIN bergerak di tengah kondisi pasar aset kripto dunia yang terkoreksi tajam. Selama tiga bulan pertama 2026, kapitalisasi pasar kripto global jatuh 45 persen dari US$4,4 triliun menjadi US$2,4 triliun per 31 Maret 2026.

Di periode yang sama, volume transaksi global ikut menyusut 39,1 persen dengan nilai US$2,7 triliun. Pelemahan ini menekan sentimen investor dan membuat aktivitas perdagangan aset digital melandai di banyak negara, termasuk Indonesia.

Dampaknya juga terlihat di dalam negeri. Volume transaksi aset kripto di Indonesia turun 31 persen secara tahunan, dengan total transaksi domestik pada Januari hingga Maret 2026 hanya Rp75,8 triliun.

Perilaku investor ikut berubah

Direktur Utama COIN, Ade Wahyu, menilai tekanan pada kinerja perseroan tidak terlepas dari perubahan perilaku investor global. Menurut dia, ketidakpastian ekonomi makro mendorong konsumen memilih sikap risk off.

Ade menjelaskan, kondisi makroekonomi global yang belum stabil, ketegangan geopolitik, dan pengetatan likuiditas menjadi pemicu utama. Saat transaksi aset kripto melemah, efeknya langsung terasa pada fundamental perusahaan.

Situasi itu juga memperlihatkan bahwa penurunan pendapatan COIN bukan kasus berdiri sendiri. Aktivitas perdagangan yang lebih sepi membuat ruang pertumbuhan segmen spot ikut menyempit pada awal tahun ini.

Derivatif justru mencatat kenaikan kuat

Di tengah pasar spot yang lesu, lini derivatif memberi penopang berbeda bagi COIN. Pendapatan dari segmen ini naik 125 persen secara tahunan menjadi Rp11,4 miliar, dari Rp5,1 miliar pada kuartal I-2025.

Kontribusi derivatif terhadap total pendapatan COIN kini mencapai 27,6 persen. Perubahan ini menunjukkan sebagian investor mulai mencari instrumen lindung nilai ketika volatilitas pasar meningkat.

Ade menilai produk derivatif menarik karena memungkinkan investor mengambil posisi dua arah. Ia juga menyebut inovasi melalui Bursa Kripto CFX mendapat penerimaan baik dari pasar domestik.

Ruang tumbuh masih terbuka

COIN melihat prospek jangka panjang di pasar derivatif masih besar. Rasio pasar derivatif terhadap pasar spot di Indonesia baru mencapai 0,13 kali, sementara standar global sekitar lima kali.

Sebagai induk usaha, COIN mengelola PT Central Finansial X atau CFX sebagai bursa kripto pertama dan PT Kustodian Koin Indonesia atau ICC sebagai pengelola penyimpanan aset. Keduanya telah mengantongi izin resmi dan beroperasi di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan.

Manajemen menilai tekanan yang terjadi saat ini masih menjadi bagian dari siklus pasar. Di tengah lemahnya transaksi spot, pertumbuhan derivatif memberi COIN bantalan penting untuk menjaga stabilitas kinerja ke depan.

Berita Terbaru