Sepasang sepatu kulit berukuran setara nomor modern 37 berhasil menarik perhatian dunia arkeologi karena usianya mencapai sekitar 5.500 tahun. Bentuknya masih tampak sangat akrab bagi mata modern, lengkap dengan tali dan siluet yang menyerupai alas kaki masa kini.
Yang membuat temuan ini semakin menakjubkan adalah kondisi fisiknya yang masih sangat terawat. Banyak peneliti sempat menduga benda itu jauh lebih muda daripada usia aslinya karena tampilannya yang begitu utuh.
Sepatu itu ditemukan di Gua Areni-1, Armenia, saat tim arkeologi melakukan penggalian di lapisan tanah liat. Lokasi gua ini berada di kawasan tenggara Armenia, wilayah yang dianggap strategis karena berada di persimpangan Afrika, Asia, dan Eropa.
Proses penemuannya tidak berlangsung singkat. Tim awalnya membersihkan lantai tanah liat dan menemukan tumpukan alang-alang kering di area tersebut. Setelah lapisan itu dibuka, terlihat lubang berlapis tanah liat kuning dengan sejumlah benda di dasarnya.
Di dalam lubang tersebut ada mangkuk terbalik, sepasang tanduk, serta sisa tulang ikan. Saat mangkuk diangkat, sepatu itu akhirnya muncul dan sempat disangka sebagai organ tubuh hewan. Diana Zardaryan dari tim arkeologi bahkan mengaku awalnya mengira benda organik itu adalah telinga sapi.
Pengakuan Zardaryan menegaskan betapa jarangnya temuan organik seperti ini bertahan dalam ekskavasi. Ia juga menyebut banyak orang tidak percaya ketika kabar penemuan itu pertama kali disampaikan, sampai akhirnya artefak tersebut diperiksa lebih dekat. “Tidak ada orang yang percaya saya. Namun, mimpi saya menjadi nyata. Saya menemukan sebuah sepatu,” ujarnya, dikutip dari IFL Science.
Pada tahap awal, para peneliti memperkirakan usia sepatu itu hanya sekitar 600 hingga 700 tahun. Dugaan tersebut muncul karena kondisi benda itu terlihat sangat baik, seolah-olah baru berada di dalam tanah dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Namun hasil analisis karbon membalik semua perkiraan itu. Pengujian menunjukkan bahwa sepatu kulit tersebut berusia sekitar 5.500 tahun, jauh sebelum manusia mengenal teknologi perunggu. Fakta ini membuatnya menjadi salah satu alas kaki kulit tertua yang diketahui hingga kini.
Ron Pinhasi dari University of Vienna menilai desain sepatu itu sangat menarik karena masih terasa dekat dengan model modern. Ia mengatakan, “Ini adalah sepatu dalam pengertian modern, teknologi dan metode pembuatannya masih digunakan hingga 1950-an di Irlandia dan wilayah lain di Eropa,” kepada Science News.
Secara fisik, sepatu itu dibuat dari kulit utuh dan memiliki 19 lubang tali. Bentuknya menutup jari kaki, memiliki pengikat, dan menunjukkan bahwa pembuatnya sudah memahami rancangan alas kaki yang fungsional untuk kebutuhan sehari-hari.
Daya tahan artefak ini juga menjadi sorotan besar. IFL Science menjelaskan bahwa sepatu tersebut bisa bertahan selama ribuan tahun karena tersimpan di ruang yang dingin dan kering di bawah lapisan kotoran domba yang tebal. Kondisi itu membantu menjaga bahan organik tetap awet jauh lebih lama dari biasanya.
Jerami yang disumpalkan ke dalam sepatu pun masih ditemukan dalam keadaan baik saat artefak diperiksa. Situasi ini memperlihatkan bahwa lingkungan penyimpanan memegang peran penting dalam pelestarian benda purba, terutama untuk material organik yang biasanya cepat rusak.
Ukuran sepatu yang setara dengan nomor modern 37 juga memberi petunjuk menarik tentang masa lalu. Detail tersebut menunjukkan bahwa manusia pada era sangat awal sudah mampu membuat alas kaki dengan ukuran yang cukup presisi dan sesuai fungsi.
Gua Areni-1 sendiri dinilai menyimpan jejak budaya yang penting. Pinhasi menyebut lokasi itu kemungkinan pernah menjadi pos perdagangan besar atau jalur strategis antarpadaban pada periode Chalcolithic, sehingga temuan sepatu ini tidak hanya bernilai sebagai artefak kuno, tetapi juga sebagai petunjuk tentang teknologi, kebiasaan berpakaian, dan kehidupan masyarakat pada masa lampau.
Source: www.cnbcindonesia.com