Waste Station di kawasan MRT Blok M menjadi salah satu upaya terbaru untuk mendorong pengelolaan sampah yang lebih praktis di ruang publik Jakarta. Fasilitas ini ditempatkan di jalur transportasi yang setiap hari dilalui sekitar 120 ribu penumpang MRT, sehingga masyarakat bisa langsung membuang dan memilah sampah tanpa perlu mencari titik khusus.
Kehadiran fasilitas tersebut juga memperlihatkan bagaimana ruang publik dapat berperan dalam membentuk kebiasaan baru. Di lokasi dengan mobilitas tinggi, peluang warga untuk terlibat dalam pemilahan sampah menjadi lebih besar karena akses dibuat lebih dekat dengan aktivitas harian mereka.
Fokus di titik paling ramai
Waste Station di MRT Blok M dirancang bersama Rekosistem untuk menampung sampah anorganik dengan kapasitas 120 hingga 150 kilogram per hari. Penempatan di kawasan transportasi publik dipilih karena kemudahan akses dinilai menjadi kunci agar masyarakat lebih mudah ikut memilah sampah dari sumbernya.
Di tengah persoalan sampah perkotaan yang masih besar, langkah seperti ini hadir sebagai pendekatan yang lebih dekat dengan kebiasaan warga. Data Kementerian Lingkungan Hidup menyebut timbulan sampah tak terkelola di Indonesia mencapai 109.092 ton per hari pada akhir 2025, sementara Jakarta menghasilkan sekitar 7.100 hingga 8.000 ton sampah setiap hari.
Ada insentif untuk pengguna
Pengguna yang menyetorkan sampah lewat aplikasi Rekosistem juga mendapat poin reward. Poin tersebut dapat dikonversi menjadi saldo dompet digital, sehingga aktivitas memilah sampah tidak hanya memudahkan pengelolaan, tetapi juga memberi manfaat langsung bagi pengguna.
Skema ini membuat proses pilah sampah terasa lebih dekat dengan keseharian masyarakat. Dengan adanya insentif, kebiasaan membuang sampah pada tempatnya dapat diperluas menjadi kebiasaan memilah sebelum sampah masuk ke sistem pengelolaan berikutnya.
Bagian dari program yang lebih luas
Chief Financial Officer MR.D.I.Y. Indonesia, Rika Juniaty Tanzil, menyebut Waste Station sebagai bagian dari pilar keberlanjutan lingkungan dalam program “MR.D.I.Y. Untuk Indonesia”. Ia menegaskan bahwa perusahaan ingin mendorong kebiasaan memilah dan mengelola sampah secara bertanggung jawab di titik publik dengan lalu lintas padat.
Rika juga menekankan bahwa inisiatif ini tidak berdiri sendiri. Waste Station melanjutkan ekosistem pengelolaan sampah yang sebelumnya sudah dibangun melalui Recycle Dropbox.
Jaringan pengumpulan yang terus diperluas
Program Recycle Dropbox kini tersedia di 52 toko di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. Melalui jaringan itu, MR.D.I.Y. memperluas akses masyarakat untuk ikut memilah sampah dari lingkungan terdekat tanpa harus menempuh jarak jauh.
Data internal perusahaan menunjukkan sepanjang 2025 sebanyak 2.445 kg sampah terkumpul melalui program dropbox dan aksi bersih pantai. Pada periode yang sama, perusahaan juga memanfaatkan 84 ton limbah karton untuk operasional logistik dan mendukung penguatan 10 bank sampah di wilayah Jabodetabek.
Transportasi publik sebagai pintu masuk perubahan
Chief Operating Officer dan Co-Founder Rekosistem, Joshua Valentino, menilai transportasi publik merupakan titik yang strategis untuk menjangkau lebih banyak masyarakat. Ia menilai integrasi teknologi dapat membantu menyederhanakan proses pemilahan sampah dari rumah tangga hingga tahap pengelolaan berikutnya.
Joshua juga menyoroti pentingnya insentif agar perilaku warga tetap konsisten. Melalui sistem yang saling terhubung, ia berharap pilah sampah dari rumah dapat menjadi kebiasaan sehari-hari, bukan hanya tindakan sesekali.
Dukungan dari pemerintah dan komunitas
Dukungan terhadap langkah ini juga datang dari Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta. Kepala Bidang Peran Serta Masyarakat, Data, dan Informasi, Rommel PP Pasaribu, mengapresiasi kolaborasi MR.D.I.Y. Indonesia dan Rekosistem sebagai contoh kerja sama multipihak yang konkret.
Rommel berharap model seperti ini bisa direplikasi oleh sektor lain, termasuk industri dan komunitas. Menurut dia, gerakan memilah sampah dari sumber perlu terus didorong agar tidak berhenti pada kegiatan seremonial.
Komunitas lingkungan juga melihat fasilitas seperti Waste Station sebagai bagian penting dari perubahan perilaku. Muchamad Ikhsan Destian, Co-Founder Pandawara Group, menekankan bahwa sampah mencerminkan kebiasaan sehari-hari, sehingga perubahan harus dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
Di kawasan MRT Blok M, kehadiran Waste Station mempertemukan edukasi, akses yang mudah, dan insentif dalam satu titik pelayanan. Dalam kondisi Jakarta yang menghadapi volume sampah besar setiap hari, fasilitas seperti ini menjadi contoh bagaimana ruang publik bisa ikut mendorong kebiasaan memilah sampah dari lokasi yang paling dekat dengan aktivitas warga.
