Di Tengah Libur Buruh, Tembaga Tetap Kokoh Di Atas US$13.000 Per Ton

Author: Redaksi Android62

Harga tembaga masih kuat bertahan di atas US$13.000 per ton meski pasar global sedang bergerak lesu di tengah libur Hari Buruh. Pergerakan ini menarik karena terjadi saat aktivitas perdagangan menurun dan para pelaku pasar memilih bersikap lebih hati-hati.

Di London Metals Exchange, harga tembaga tetap menjaga level tersebut setelah sempat terkoreksi pada awal pekan. Salah satu penopang utamanya datang dari produsen logam yang menambah stok lebih awal sebelum China memasuki libur panjang sepekan.

Pasar logam bergerak tidak searah

Saat tembaga mampu mempertahankan posisinya, komoditas logam dasar lain justru menunjukkan arah yang berbeda. Harga nikel turun dan memberi sinyal bahwa sentimen di sektor komoditas industri belum benar-benar solid.

Kondisi itu semakin terasa karena volume transaksi ikut menyusut selama libur Hari Buruh. Dalam situasi seperti ini, kebutuhan stok dan sentimen dari luar tetap menjadi faktor yang memengaruhi arah harga, meski pasar bergerak dalam ritme yang lebih lambat.

Data ekonomi AS memberi penopang

Dukungan tambahan datang dari Amerika Serikat setelah produk domestik bruto kuartal pertama tumbuh 2% secara tahunan. Pasar membaca data itu sebagai tanda bahwa salah satu konsumen besar logam dunia masih menunjukkan ketahanan ekonomi.

Namun, harga logam tidak hanya ditentukan oleh data ekonomi. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga ikut membentuk sentimen setelah muncul kebijakan blokade angkatan laut di pelabuhan Iran yang menghambat pembukaan Selat Hormuz.

Bijih besi ikut terangkat, tetapi tekanannya belum selesai

Di pasar bahan baku industri lain, harga berjangka bijih besi berada di US$107,20 per ton. Level itu menjadi yang tertinggi dalam satu bulan terakhir, seiring meningkatnya biaya konflik yang ikut menekan ekspektasi pasar.

Meski begitu, ruang kenaikan bijih besi masih dibayangi tekanan dari sisi fundamental. Krisis properti di China belum mereda, sementara permintaan dari sektor konstruksi domestik juga melemah.

Pasokan baru bisa membatasi reli

Ke depan, tambahan pasokan global berpotensi menahan penguatan logam jika permintaan belum cukup kuat untuk menyerapnya. Salah satu sumber tekanan datang dari rencana penambang di Guinea yang akan mulai meningkatkan volume pengiriman bijih dalam beberapa bulan mendatang.

Kombinasi antara stok yang dibangun lebih awal, data ekonomi AS yang masih positif, dan ketegangan geopolitik membuat tembaga tetap bertahan di atas US$13.000 per ton. Tetapi arah berikutnya masih sangat bergantung pada keseimbangan pasokan, pergerakan stok, dan sentimen pasar yang terus berubah.

Berita Terbaru