Memberi protein dalam jumlah sangat tinggi demi mengejar postur seperti Erling Haaland bukan langkah yang tepat untuk semua anak. Asupan berlebihan hingga ratusan gram per hari dapat membebani ginjal dan meningkatkan risiko obesitas bila energi tidak dibakar.
Dokter spesialis anak subspesialis endokrinologi Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, Subsp.End., mengingatkan bahwa pertumbuhan tinggi badan tidak ditentukan oleh satu kelompok makanan. Genetik, kondisi medis, kecukupan gizi, dan perkembangan tulang bekerja bersama dalam proses tersebut.
Postur Atlet Tidak Bisa Menjadi Patokan Tunggal
Haaland memiliki postur tinggi yang juga berkaitan dengan faktor keturunan. Karena itu, membandingkan tinggi anak Indonesia dengan pesepak bola Eropa tanpa melihat latar genetik dapat membentuk harapan yang tidak realistis.
Dr. Aman menjelaskan bahwa jalur pertumbuhan anak dapat dipengaruhi latar keturunan. Anak dari kelompok keturunan tertentu dapat mengikuti pola genetiknya secara bertahap, termasuk melalui proses catch up physiologic ketika mendekati usia tiga tahun.
| Tokoh | Faktor yang Menonjol | Makna bagi Orangtua |
|---|---|---|
| Erling Haaland | Faktor genetik keturunan | Diet atlet tidak dapat disalin begitu saja |
| Lionel Messi | Defisiensi hormon pertumbuhan | Hambatan medis memerlukan pemeriksaan dokter |
| Lamine Yamal | Lonjakan pertumbuhan pada pubertas akhir | Pertumbuhan dapat berlanjut sebelum lempeng tulang menutup |
Anak-anak di Asia tetap dapat tumbuh optimal dengan makanan pokok seperti nasi atau mi. Syarat utamanya ialah kebutuhan gizi seimbang terpenuhi sesuai kondisi tubuh dan fase pertumbuhannya.
Fokus keluarga sebaiknya bukan menggandakan pola makan seorang atlet profesional. Yang lebih penting adalah memastikan anak memperoleh pola makan yang cukup dan tidak memaksakan asupan yang melampaui kebutuhannya.
Pendek Tidak Selalu Berarti Kekurangan Nutrisi
Tinggi badan yang tertinggal dari teman sebaya juga tidak selalu dapat diatasi hanya dengan mengubah menu harian. Kisah Lionel Messi menunjukkan adanya kondisi medis yang dapat menghambat pertumbuhan anak.
Pesepak bola Argentina itu pernah didiagnosis mengalami defisiensi hormon pertumbuhan pada masa kanak-kanak. Kondisi tersebut membuat pertumbuhannya tertinggal dan berpotensi menjadikannya jauh lebih pendek dibandingkan teman seusianya.
Terapi hormon pertumbuhan dapat diberikan apabila pemeriksaan membuktikan anak tidak tumbuh akibat kekurangan hormon. Dr. Aman menegaskan penanganan itu harus didasarkan pada evaluasi tenaga medis, bukan anggapan bahwa semua anak bertubuh pendek memerlukan terapi serupa.
Riwayat pertumbuhan, kondisi fisik, dan penilaian dokter perlu dipertimbangkan sebelum keluarga mengambil langkah penanganan. Pemeriksaan membantu membedakan variasi pertumbuhan alami dari hambatan yang berkaitan dengan kesehatan.
Masih Ada Peluang Tumbuh pada Masa Pubertas
Kecepatan tumbuh setiap anak tidak berlangsung dalam pola yang sama. Anak masih dapat bertambah tinggi selama lempeng epifisis pada tulangnya belum menutup.
Lempeng epifisis merupakan bagian tulang yang berkaitan dengan proses pertambahan tinggi badan. Waktu penutupannya berbeda pada setiap anak, sehingga peluang tumbuh tidak dapat disamakan hanya berdasarkan usia.
Lamine Yamal menjadi contoh pertumbuhan yang tetap berlangsung pada pubertas akhir. Dalam bincang-bincang virtual yang dikutip Kompas.com, Dr. Aman menyebut Yamal bertambah sekitar 10 sentimeter pada rentang usia 15 hingga 17 tahun.
Kondisi seperti itu dapat terjadi pada anak yang mengalami fase late bloomer, yakni pertumbuhan yang tampak lebih lambat dibandingkan teman sebayanya. Fase tersebut tidak otomatis menandakan gangguan selama pertumbuhan dan kesehatan anak dipantau dengan tepat.
Target yang lebih relevan bukanlah tinggi badan seperti Haaland, Messi, atau Yamal. Orangtua perlu menjaga agar pertumbuhan anak berjalan sesuai potensi biologisnya melalui pemantauan kesehatan dan pemenuhan gizi seimbang.







