Rupiah menutup perdagangan sore dengan penguatan tipis terhadap dolar Amerika Serikat. Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda berada di level Rp17.143 per dolar AS, menguat 0,15 persen dari penutupan sebelumnya di Rp17.168.
Pergerakan itu terjadi di tengah campuran sentimen global dan domestik yang masih saling tarik-menarik. Di satu sisi, indeks dolar melemah dan harga komoditas energi dunia ikut turun, sementara di sisi lain kenaikan harga BBM nonsubsidi di pasar domestik turut memberi dukungan bagi rupiah.
Pasar masih menimbang arah berikutnya
Penguatan rupiah belum dianggap cukup kuat untuk disebut sebagai perubahan tren yang solid. Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai laju kenaikan mata uang Garuda masih terbatas karena tekanan dari isu global terus muncul bergantian.
Lukman mengatakan rupiah memang ditutup menguat, tetapi pergerakannya tidak setegas sesi awal perdagangan. Ia juga menyoroti harapan perdamaian di Timur Tengah yang kembali membuat pasar lebih waspada, sehingga laju penguatan mata uang emerging market ikut tertahan.
Situasi ini membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati sambil menunggu sinyal yang lebih jelas. Dalam kondisi seperti itu, kebijakan bank sentral menjadi perhatian utama karena bisa memperkuat atau justru membatasi momentum rupiah.
BI menjadi penentu penting bagi penguatan lanjutan
Menurut Lukman, rupiah masih berpeluang melanjutkan penguatan jika Bank Indonesia mengambil langkah yang lebih ketat. Ia menilai kenaikan suku bunga acuan, atau setidaknya sinyal hawkish dari Rapat Dewan Gubernur, dapat membantu menjaga momentum yang sudah terbentuk.
“Rupiah berpotensi kembali menguat apabila BI menaikkan suku bunga atau paling tidak memberikan sinyal akan kenaikan dalam waktu dekat,” kata Lukman. Pernyataan itu menunjukkan bahwa pasar masih memandang arah kebijakan moneter BI sebagai faktor penting bagi pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya.
Ekspektasi terhadap BI juga menjadi relevan karena penguatan rupiah saat ini masih terlihat rapuh. Jika bank sentral mengirim sinyal yang lebih tegas, pelaku pasar berpeluang memperoleh pegangan baru untuk menambah minat pada aset berdenominasi rupiah.
Fiskal juga masuk dalam perhitungan pasar
Di luar kebijakan moneter, pengamat ekonomi mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah bisa lebih tahan lama bila pemerintah ikut menjaga ketahanan fiskal. Ia menekankan pentingnya APBN sebagai shock absorber agar daya beli masyarakat tetap terlindungi ketika tekanan pasar meningkat.
Ibrahim juga menyoroti perlunya sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter. Selain itu, ia menyebut peran Danantara dalam mobilisasi investasi di luar APBN dapat membantu memberi ruang yang lebih besar bagi penguatan rupiah.
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa arah nilai tukar tidak hanya ditentukan oleh pasar valuta asing. Kombinasi disiplin fiskal dan langkah moneter yang konsisten dinilai lebih efektif untuk menjaga stabilitas rupiah.
Sejalan dengan sejumlah mata uang Asia
Di kawasan Asia, rupiah bergerak searah dengan beberapa mata uang lain yang sama-sama menguat terhadap dolar AS. Dolar Taiwan mencatat kenaikan terbesar di wilayah itu dengan penguatan 0,29 persen, disusul peso Filipina yang naik 0,07 persen.
Won Korea Selatan terapresiasi 0,05 persen, sedangkan yuan China menguat 0,02 persen. Dolar Hong Kong juga naik tipis 0,001 persen terhadap the greenback, meski pergerakannya sangat terbatas.
Namun, tidak semua mata uang regional bergerak positif. Rupee India justru turun paling dalam sebesar 0,67 persen, sementara baht Thailand dan dolar Singapura sama-sama melemah 0,16 persen.
Yen Jepang terkoreksi 0,13 persen dan ringgit Malaysia turun tipis 0,02 persen terhadap dolar AS. Pergerakan yang beragam ini menunjukkan pasar Asia masih dipengaruhi kombinasi sentimen global, arah kebijakan bank sentral, dan kondisi domestik masing-masing negara.
Source: www.suara.com