Israel dibuat gelisah setelah Donald Trump dilaporkan membagikan draf kesepakatan damai terkait Iran kepada sejumlah sekutu dekatnya. Rancangan itu memuat sejumlah kompromi yang dinilai cukup besar bagi Teheran, sementara ketegangan di Timur Tengah masih tinggi dan gencatan senjata yang baru berjalan beberapa pekan dianggap rapuh.
Salah satu hal yang paling disorot dari proposal itu adalah pembukaan kembali Selat Hormuz untuk pelayaran komersial. Di saat yang sama, Amerika Serikat juga disebut akan mencabut blokade terhadap sejumlah pelabuhan Iran dan memberi akses hingga USD 12 miliar dari aset Iran yang dibekukan di luar negeri.
Isi tawaran yang memicu keberatan
Menurut laporan yang dikutip The Guardian, draf tersebut dirancang sebagai jalan untuk membawa Iran kembali ke meja perundingan. Sebagai imbalan atas rangkaian insentif ekonomi itu, pembicaraan baru mengenai program nuklir Iran akan dimulai dalam waktu 60 hari.
Pembahasan itu mencakup stok uranium yang diperkaya, penghentian sementara pengayaan nuklir, serta pengawasan langsung oleh Badan Energi Atom Internasional atau IAEA. Dokumen itu juga meminta Iran menegaskan bahwa negara tersebut tidak akan menggunakan senjata nuklir.
Meski begitu, poin tersebut belum dianggap cukup bagi Israel. Tel Aviv menilai rancangan itu tidak memberi komitmen permanen dari Teheran untuk mengakhiri program nuklirnya.
Mengapa Tel Aviv menolak
Bagi Israel, proposal itu terlalu longgar terhadap Iran di tengah kekhawatiran yang sudah lama menyelimuti kemampuan nuklir negara tersebut di masa depan. Rencana tersebut juga dipandang bisa menghidupkan kembali ekonomi Iran tanpa memastikan penghentian penuh ambisi nuklirnya.
Karena itu, muncul kekhawatiran bahwa draf damai itu justru dapat memperlebar jarak pandang antara Washington dan sekutu utamanya di Timur Tengah. Situasi menjadi semakin sensitif karena kawasan masih berada dalam kondisi keamanan yang belum stabil.
Dalam kondisi seperti ini, setiap langkah kompromi yang dianggap terlalu lunak berpotensi memicu perdebatan baru, baik di jalur diplomatik maupun di ranah keamanan. Israel melihat risiko itu sebagai hal yang serius.
Tekanan di Selat Hormuz ikut membesar
Kegelisahan itu muncul bersamaan dengan meningkatnya tekanan di jalur diplomasi setelah Iran meluncurkan serangan ke pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait pada Kamis waktu setempat. Serangan itu disebut sebagai balasan atas operasi militer Washington terhadap dugaan aktivitas drone Iran di dekat Selat Hormuz.
Ketegangan tersebut juga mengguncang pasar energi global. Harga minyak dunia sempat naik sekitar 2 persen, meski masih berada di bawah level USD 100 per barel.
Di saat yang sama, Garda Revolusi Iran atau IRGC menyatakan masih memegang kendali penuh atas lalu lintas di Selat Hormuz. Mereka mengatakan 26 kapal tanker minyak dan kapal dagang sudah mendapat izin melintas dalam 24 jam terakhir, dan jalur lain akan dianggap sebagai gangguan jika tidak memperoleh izin terlebih dahulu.
Militer Iran juga mengklaim menghentikan empat kapal yang mencoba melintas tanpa menyalakan transponder. Dua kapal disebut dipaksa berhenti, sementara dua lainnya diminta berbalik arah.
Jalur komunikasi masih dibuka
Di tengah kondisi yang terus memanas, Pakistan ikut bergerak sebagai penghubung. Menteri Luar Negeri Pakistan, Mohammad Ishaq Dar, dijadwalkan terbang ke Washington untuk bertemu Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio.
Pakistan bersama Qatar saat ini menjadi penghubung komunikasi tidak langsung antara Washington dan Teheran. Peran itu dinilai penting karena jalur diplomatik resmi masih tersendat oleh saling ancam dan ketidakpercayaan yang tinggi.
Dari pihak Iran, Wakil Menteri Luar Negeri Ali Bagheri kembali menegaskan tuntutan agar aset-aset Iran yang dibekukan dicairkan tanpa syarat. Washington justru merespons dengan ancaman sanksi baru terhadap pihak-pihak yang membantu Iran menerapkan sistem tarif atau pungutan di Selat Hormuz, termasuk Oman.
Trump juga memicu reaksi keras setelah mengancam akan menghancurkan Oman jika negara itu membuat kesepakatan dengan Iran soal pungutan kapal di jalur strategis tersebut. Pernyataan itu mengejutkan banyak diplomat kawasan karena Oman selama ini dikenal sebagai sekutu Barat dan mediator aktif di Timur Tengah.
Tekanan dari dalam negeri Iran
Di dalam Iran sendiri, pimpinan tertinggi Iran Mojtaba Khamenei meminta para pejabat tidak terpecah oleh tekanan politik dan ekonomi. Ia menyebut Amerika Serikat dan Israel ingin membuat Iran bertekuk lutut melalui perpecahan dan kehancuran.
Amnesty International melaporkan lebih dari 6.000 orang telah ditangkap sejak ofensif militer AS dan Israel dimulai pada Februari lalu. Mereka yang ditahan disebut mencakup demonstran, jurnalis, pengacara, aktivis HAM, hingga kelompok minoritas etnis dan agama.
Di tengah situasi yang serba tegang itu, draf damai yang dibagikan Trump menunjukkan bahwa Washington masih mencari jalan keluar diplomatik. Namun dengan Israel yang belum puas, Iran yang tetap menuntut pencairan aset, dan ketegangan di Selat Hormuz yang belum mereda, ruang kompromi masih tampak sangat rapuh.
